BERITA TERKAIT

Leads Property: Hunian Dekat TOD dan Rumah Hemat Energi Bakal Jadi Primadona di Tengah Pelemahan Rupiah

Pelemahan rupiah tidak hanya mengubah strategi pengembang, tetapi juga cara masyarakat memilih rumah. Akses transportasi publik dan efisiensi energi kini menjadi faktor yang semakin menentukan keputusan pembelian hunian.

PropertiTerkini.com(JAKARTA) — Pelemahan nilai tukar rupiah diperkirakan tidak hanya memengaruhi biaya pembangunan properti, tetapi juga mengubah preferensi masyarakat dalam memilih hunian.

Di tengah kondisi tersebut, hunian yang berada dekat kawasan Transit Oriented Development (TOD) serta rumah hemat energi diprediksi menjadi segmen yang paling diminati pasar dalam beberapa tahun ke depan.

Baca Juga: Pelemahan Rupiah hingga Kantor Masa Depan, Ini Peta Peluang Baru Pasar Properti Indonesia 2026

Temuan tersebut disampaikan Martin Hutapea, Head of Research & Consultancy PT Leads Property Services Indonesia, dalam Media Briefing Leads Property bertajuk Pelemahan Rupiah: Tantangan & Peluang yang digelar di Jakarta Kamis (18/6/2026).

Menurut Martin, perubahan kondisi ekonomi membuat konsumen semakin mempertimbangkan efisiensi biaya, baik saat membeli rumah maupun dalam pengeluaran sehari-hari setelah menempatinya.

“Pasar akan semakin selektif. Konsumen tidak hanya melihat harga rumah, tetapi juga biaya hidup yang harus dikeluarkan setiap hari, termasuk biaya transportasi dan konsumsi energi,” ujarnya.

Hunian Dekat TOD Semakin Diburu

Salah satu dampak yang mulai terlihat adalah meningkatnya daya tarik hunian yang terhubung dengan transportasi publik massal.

Martin menilai kenaikan biaya transportasi dan mobilitas harian akan membuat konsumen lebih memilih rumah yang memiliki akses mudah ke stasiun MRT, LRT, KRL, maupun moda transportasi publik lainnya.

Kondisi tersebut membuat kawasan TOD diperkirakan akan menjadi magnet baru bagi pasar hunian, terutama di wilayah Jabodetabek yang masih menghadapi tantangan kemacetan.

Baca Juga: Pasar Properti Jakarta 2026 Bergerak Selektif, Retail dan Industri Menguat

Sebaliknya, proyek perumahan yang berlokasi jauh dari pusat aktivitas ekonomi dan sulit dijangkau transportasi publik berpotensi menghadapi tantangan yang lebih besar dalam menarik minat pembeli.

“Pengembang mulai membidik lahan pengembangan yang dekat dengan kawasan TOD karena faktor aksesibilitas kini menjadi salah satu pertimbangan utama masyarakat,” kata Martin.

Tidak hanya memberikan kemudahan mobilitas, hunian dekat TOD juga dinilai mampu menekan pengeluaran rutin keluarga sehingga menjadi pilihan yang lebih rasional di tengah ketidakpastian ekonomi.

Rumah Hemat Energi Jadi Pilihan Baru

Selain lokasi, efisiensi energi juga mulai menjadi perhatian calon pembeli rumah. Martin melihat tren rumah hemat energi akan semakin berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap biaya operasional rumah tangga.

Baca Juga: Rumah Tapak Suburban Kian Dilirik Gen Z dan Milenial, Pasar Apartemen Tertekan

Rumah yang dirancang dengan pencahayaan alami optimal, ventilasi silang, penggunaan perangkat hemat energi, hingga teknologi pendukung penghematan listrik diperkirakan akan semakin diminati dibandingkan rumah mewah yang banyak menggunakan material dan komponen impor.

Menurutnya, konsumen saat ini lebih fokus pada nilai guna jangka panjang dibanding sekadar tampilan atau kemewahan bangunan.

“Rumah hemat energi tidak harus mewah. Yang terpenting adalah mampu memberikan efisiensi biaya operasional bagi penghuninya dalam jangka panjang,” jelasnya.

Tren tersebut juga sejalan dengan meningkatnya perhatian masyarakat terhadap konsep keberlanjutan dan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.

Township Besar Mulai Bergeser ke Townhouse dan Cluster

Leads Property juga melihat adanya perubahan strategi pengembangan kawasan hunian. Jika sebelumnya banyak pengembang berlomba membangun township berskala besar, kini pasar mulai bergerak ke proyek yang lebih kompak dan efisien.

Baca Juga: BI Rate Naik ke 5,50%, Colliers: Ancaman Terbesar Bukan Suku Bunga!

Martin menilai pengembangan dalam bentuk townhouse dan cluster akan semakin banyak ditemui karena lebih sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini.

Selain membutuhkan investasi yang lebih terkendali, proyek skala menengah dinilai lebih fleksibel dalam menyesuaikan dinamika permintaan.

Di sisi lain, ketidakpastian ekonomi membuat pengembang lebih berhati-hati dalam meluncurkan proyek berskala besar yang membutuhkan modal dan waktu pengembangan lebih panjang.

Perubahan ini diperkirakan akan membentuk lanskap pasar perumahan baru, khususnya di kawasan penyangga Jakarta seperti Tangerang, Bekasi, Depok, dan Bogor.

Rumah Ready Stock dan Pasar Sekunder Berpeluang Naik

Di tengah potensi kenaikan biaya konstruksi akibat pelemahan rupiah, rumah ready stock diprediksi memiliki peluang lebih besar untuk terserap pasar.

Baca Juga: WEST 18 Alam Sutera Bidik Pasar Komersial Premium di Depan BINUS

Konsumen cenderung memilih produk yang sudah tersedia dan dapat langsung dihuni dibandingkan menunggu proyek baru yang berisiko mengalami penyesuaian harga. Kondisi ini juga membuka peluang bagi pasar rumah sekunder yang menawarkan harga lebih kompetitif di lokasi yang sudah matang.

Selain itu, semakin ketatnya pembiayaan proyek dan potensi kenaikan biaya bunga membuat pengembang diperkirakan lebih selektif dalam meluncurkan proyek baru.

Karena itu, rumah siap huni dengan harga yang masih kompetitif diprediksi akan menjadi salah satu pilihan utama konsumen dalam beberapa waktu mendatang.

Adaptasi Jadi Kunci

martin hutapea
Martin Hutapea, Head of Research & Consultancy PT Leads Property Services Indonesia (Leads Property /PropertiTerkini.com)

Martin menegaskan bahwa pelemahan rupiah memang menghadirkan tantangan bagi sektor properti. Namun, kondisi tersebut juga mendorong munculnya tren baru yang lebih mengutamakan efisiensi, aksesibilitas, dan keberlanjutan.

Hunian dekat TOD, rumah hemat energi, proyek townhouse dan cluster, serta produk ready stock dinilai menjadi segmen yang paling berpotensi berkembang di tengah perubahan perilaku pasar.

Baca Juga: Bidik Pertumbuhan 10%, Paradise Indonesia Tetap Andalkan Pendapatan Berulang

Bagi pengembang, kemampuan membaca perubahan kebutuhan konsumen akan menjadi faktor penting untuk menjaga daya saing di tengah dinamika ekonomi yang terus bergerak.

***
Untuk berita santai yang tak kalah serumampir juga kePropertiPlus.com dan WA Chanel

*** Baca berita lainnya di GoogleNews
——— KONTAK REDAKSI:
Telepon/WA: 0821 2543 0279
Email Redaksi: redaksi@propertiterkini.com
Email Iklan: iklan@propertiterkini.com

BERITA TERBARU

Demo Half Page