PropertiTerkini.com, (PARAMOUNT GADING SERPONG) — Pertumbuhan properti komersial di Paramount Gading Serpong tidak hanya terlihat dari munculnya deretan ruko baru. Di balik perkembangan tersebut, ada pertanyaan yang lebih penting bagi pelaku usaha maupun pemilik aset: apa yang membuat sebuah kawasan komersial mampu mendatangkan konsumen dan menjaga bisnis tetap hidup?
Pengalaman tenant di Aniva @ Paramount Gading Serpong, salah satu pengembangan komersial Paramount Land yang paling vibrant, memberikan gambaran menarik. Sejumlah pelaku usaha memilih kawasan tersebut karena posisinya yang menghubungkan Gading Serpong dengan BSD, sementara keberadaan hunian yang telah berkembang di sekitarnya menyediakan basis pasar yang dapat dijangkau setiap hari.
Baca Juga: Paramount Gading Serpong Rilis Grand Boulevard Aniva ‘The Ultimate Grande Concept’
Menariknya, sebagian tenant masuk ketika kawasan belum seramai sekarang. Setelah bisnis berjalan, perhatian mereka bukan sekadar bertahan, tetapi mulai melihat peluang untuk memperbesar usaha.
Salah satunya adalah Evelyn, pemilik Soto Betawi Bang Ebet, yang mulai beroperasi di Ruko Madison Grande @ Paramount Gading Serpong sejak 2024. Menurutnya, bisnis semakin ramai seiring waktu karena faktor lokasi.
“Saya memilih Ruko Madison karena lokasinya. Menurut saya titiknya di sini sangat strategis,” kata Evelyn.
Sementara itu, Tresja Darmawasita, Owner The Real Croissant, Patisserie Cafe (TRC Patisserie), telah menjalankan usahanya sekitar tiga tahun di Aniva Junction @ Paramount Gading Serpong. Ia memilih lokasi tersebut ketika kawasan masih relatif kosong karena melihat posisi ruko yang menghadap jalan dan berada di jalur penghubung Gading Serpong-BSD.
“Saya melihat prospek kawasan ini lebih bagus. Apalagi Lokasi kami juga karena benar-benar langsung menghadap jalan,” ujar Tresja.
Dua cerita tersebut memperlihatkan satu hal: bagi pelaku usaha, nilai sebuah lokasi tidak hanya ditentukan oleh bangunan, tetapi juga oleh arus orang, akses, dan lingkungan bisnis yang terbentuk di sekitarnya.
Grand Boulevard Aniva di Tengah Pertumbuhan Bisnis Gading Serpong
Gading Serpong berkembang dengan ekosistem yang semakin beragam. Kawasan hunian berjalan berdampingan dengan pusat kuliner, retail, lifestyle, jasa, dan berbagai aktivitas komersial.
Baca Juga: Top 10 Developer Awards 2026: Paramount Land Raih Gelar Ke-5
Dalam konteks tersebut, Aniva berada di sisi selatan Gading Serpong dan terhubung dengan arah BSD. Posisi ini menjadi salah satu daya tarik yang disebut oleh tenant ketika menjelaskan alasan memilih lokasi.
Steven, pemilik Pecel Merapi yang mulai beroperasi di Aniva Junction @ Paramount Gading Serpong sejak September 2024, menyebut setidaknya ada tiga pertimbangan ketika memilih lokasi.
Pertama adalah posisi yang strategis dan menjadi jalur menuju BSD. Kedua, banyaknya klaster perumahan yang sudah dihuni di sekitar kawasan. Ketiga, konsep kawasan yang menurutnya nyaman dengan deretan ruko tanpa portal dan jalur pejalan kaki.
“Yang paling menjadi pertimbangan kami tetaplah posisinya yang sangat strategis,” tegas Steven.
Pertimbangan tersebut relevan bagi bisnis kuliner yang membutuhkan akses konsumen secara berulang. Bagi Pecel Merapi, pasar tidak hanya berasal dari warga sekitar, tetapi juga keluarga, pekerja pada jam makan siang, hingga anak muda.
Steven mengatakan jumlah pelanggan terus bertambah seiring kawasan Aniva semakin ramai. Salah satu perkembangan yang dianggap positif adalah munculnya pelanggan yang kembali dan kemudian menjadi pelanggan tetap.

Ketika Pengunjung yang Melintas Berubah Menjadi Pelanggan
Traffic menjadi salah satu aset tidak berwujud yang sulit dipisahkan dari keberhasilan kawasan komersial.
Bagi tenant, kendaraan yang melintas memang belum tentu menjadi transaksi. Namun, semakin besar arus orang yang melewati kawasan dan semakin mudah akses menuju tenant, semakin terbuka peluang terjadinya kunjungan.
Baca Juga: Buktikan Komitmen Tepat Waktu, Paramount Gading Serpong Mulai Serah Terima Grand Pasadena Village
Steven merasakan hal tersebut dalam operasional Pecel Merapi. Menurutnya, sebagian pelanggan awalnya hanya melintas di kawasan Aniva, kemudian mampir dan akhirnya menjadi pelanggan.
“Banyak pelanggan yang awalnya hanya melintas, lalu mampir dan akhirnya jadi langganan,” ujarnya.
Pada titik ini, keberadaan tenant lain juga mempunyai peran.
Steven tidak melihat usaha lain semata-mata sebagai pesaing. Menurutnya, konsumen datang ke Aniva dengan berbagai tujuan—mulai dari ngopi dan berbelanja hingga keperluan lain—kemudian dapat sekaligus makan di tempatnya.
“Semakin ramai kawasannya, semakin banyak juga peluang bagi setiap tenant,” katanya.
Perspektif tersebut memperlihatkan bagaimana tenant mix dapat bekerja sebagai sebuah ekosistem. Sebuah kawasan yang mempunyai lebih banyak pilihan aktivitas berpotensi memiliki lebih banyak alasan bagi pengunjung untuk datang.
Dari Bisnis Kuliner hingga Konsep Commercial Hub
Karakter Aniva memang tidak terlepas dari perkembangan bisnis kuliner di Gading Serpong. Namun, kawasan komersial yang berkembang biasanya membutuhkan lebih dari sekadar deretan tempat makan.
Di Grand Boulevard Aniva, Paramount Land mengembangkan sejumlah elemen kawasan yang dirancang untuk memperkuat pengalaman pengunjung. Termasuk Commercial Hub, merangkum Aniva Grand Atrium, Luminous Park, dan Alfresco Dining yang membuat kawasan ini selalu ramai pengunjung dari pagi hingga malam.
Hingga lebih dari 10 fitur terbaru yang belum pernah ada sebelumnya di Gading Serpong, seperti Aniva Green Park sepanjang sekitar 550 meter, Bridge of Harmony, amphitheater, promenade, mini stage, jogging track, Aniva Mural Walk, dan Aniva Clock Square.
Akses kawasan juga menjadi bagian dari konsep tersebut. Grand Boulevard Aniva memiliki dua boulevard utama yang terhubung dengan jalur Gading Serpong-BSD, enam jalur masuk, serta sistem parkir gateless.
Konsep ini menunjukkan pendekatan yang mulai bergeser dari sekadar menyediakan ruang usaha menjadi membangun commercial hub dengan aktivitas yang lebih beragam.
Ferry John Sihombing, Direktur Sales & Marketing Paramount Land, mengatakan pengembangan kawasan komersial Paramount Gading Serpong diarahkan untuk membangun ekosistem bisnis dan gaya hidup, sekaligus mendorong komunitas serta interaksi sosial.
Menurut Ferry, aktivitas yang berkembang di kawasan tersebut mencakup kuliner, otomotif, retail, lifestyle, dan berbagai kegiatan sosial.
Dengan pendekatan seperti ini, properti komersial tidak berdiri sendirian. Performa sebuah unit ikut dipengaruhi oleh apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya.
Baca Juga: Properti Komersial Gading Serpong Makin Jadi Magnet Bisnis
Tenant Masuk Saat Kawasan Masih Berkembang

Pengalaman Tresja memberikan perspektif lain mengenai bagaimana pelaku usaha membaca sebuah kawasan sebelum matang.
Ia mulai melihat Aniva ketika kawasan masih dalam tahap pembangunan. Saat itu, menurutnya, kondisi kawasan masih relatif kosong dan belum menunjukkan aktivitas seperti sekarang.
Tresja mengaku sebelumnya telah melihat sejumlah lokasi lain di Gading Serpong maupun BSD. Namun, posisi Aniva yang menurutnya berada di antara Gading Serpong dan BSD menjadi salah satu alasan yang membuatnya memilih kawasan tersebut.
“Tempat ini menjadi penghubung antara Gading Serpong dengan BSD,” ungkapnya.
Keputusan membuka usaha di sebuah kawasan yang belum sepenuhnya matang tentu berbeda dengan masuk ke pusat komersial yang sudah established. Pelaku usaha harus memperhitungkan potensi pasar sekaligus menunggu terbentuknya aktivitas kawasan.
Dalam kasus Tresja, bisnis The Real Croissant telah berjalan sekitar tiga tahun. Usaha tersebut menyasar segmen pastry premium dan tidak menggunakan pendekatan produksi massal.
Selain aktivitas utama sebagai kafe dan pastry shop, ruang lantai dua juga dapat digunakan untuk pertemuan privat dengan kapasitas sekitar 20–25 orang.
Artinya, satu unit komersial dapat dikembangkan menjadi lebih dari sekadar tempat transaksi. Ada fungsi ruang, komunitas, dan kegiatan yang dapat menambah aktivitas di dalam kawasan.
Baca Juga: Denyut Ekonomi Lokal di Tengah Bertumbuhnya Kota Mandiri Paramount Petals
Ekspansi Tidak Selalu Berarti Pindah Lokasi
Cerita Evelyn memberikan sudut pandang yang berbeda.
Setelah menjalankan Soto Betawi Bang Ebet selama sekitar dua tahun, ia tidak langsung berencana membuka lokasi baru. Justru ruang usaha yang sudah ada diperluas ke bagian belakang dan samping.
Alasannya sederhana: kapasitas yang tersedia belum sepenuhnya mampu menampung pelanggan yang datang, bahkan harus antri di hampir setiap hari.
“Saya invest-nya ke samping dan ke belakang. Jadi nanti bisa ditembusin ke belakang dan diperluas ke samping,” terang Evelyn.
Dari perspektif pasar komersial, keputusan tersebut menarik karena menunjukkan bentuk ekspansi yang sangat dekat dengan operasional bisnis.
Ketika sebuah usaha sudah memiliki pelanggan dan dikenal pasar, mempertahankan lokasi yang sama dapat menjadi salah satu pilihan dibandingkan membangun pasar dari awal di tempat lain.
Tentu, pengalaman satu tenant tidak dapat dijadikan ukuran untuk seluruh kawasan. Namun, cerita tersebut menjadi indikasi bagaimana traffic dan basis pelanggan dapat memengaruhi keputusan ekspansi bisnis secara nyata.
Baca Juga: Sinergi Pemkab Tangerang dan Paramount Petals Gelar Turnamen Catur Muda

Grand Boulevard Aniva dan Babak Berikutnya
Pertumbuhan Aniva kemudian memasuki tahap baru melalui Grand Boulevard Aniva “The Ultimate Grande Concept”.
Produk terbaru tersebut terdiri atas beberapa tipe yang dirancang untuk kebutuhan bisnis berbeda, yakni Regular, Alfresco, dan Luminous Boutique Shop. Konsepnya juga dilengkapi sejumlah elemen kawasan yang dirancang untuk meningkatkan konektivitas, visibilitas, dan aktivitas pengunjung.
Namun, menariknya Grand Boulevard Aniva bukan semata soal produk baru.
Konteks yang lebih besar adalah bagaimana sebuah kawasan komersial berkembang setelah memiliki aktivitas bisnis, hunian, traffic, dan konsumen yang sudah terbentuk.
Ferry John menyebut arah pengembangan Paramount Gading Serpong sebagai pembangunan ekosistem bisnis dan gaya hidup, bukan sekadar pembangunan bangunan komersial.
Baca Juga: Mengurai Konsep American Classic dan Aksesibilitas Klaster Mimosa Paramount Petals

Sementara dari sisi tenant, cerita yang muncul lebih konkret: ada yang memilih Aniva ketika kawasan masih berkembang, ada yang merasakan pelanggan dari berbagai wilayah, dan ada pula yang memilih memperluas usahanya di lokasi yang sama.
Pengalaman tersebut belum cukup untuk menjadi ukuran tunggal mengenai masa depan Aniva. Namun, cerita para tenant memberikan perspektif dari level paling dekat dengan pasar: ketika traffic berubah menjadi pelanggan, pelanggan menjadi repeat customer, dan aktivitas antar-tenant mulai saling menghidupkan kawasan.
Pada akhirnya, daya tarik properti komersial tidak hanya berada pada unit yang dijual. Nilai sebuah kawasan juga dibentuk oleh seberapa jauh ruang usaha tersebut mampu menjadi bagian dari ekosistem ekonomi yang terus bergerak.
Dalam konteks Gading Serpong, Aniva @ Paramount Gading Serpong sedang berada dalam fase perkembangan tersebut.
Baca Juga:
Hampton @ Manhattan District Resmi Dibuka, Okupansi Tembus 81% di Gading Serpong
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com dan WA Channel





