PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Dinamika pencarian hunian di kawasan Jabodetabek mengalami pergeseran prioritas yang makin nyata. Berdasarkan data riset Flash Report September 2026 dari Rumah123, pencari rumah tidak lagi sekadar berfokus pada luas bangunan atau harga terendah, melainkan semakin memperhitungkan durasi perjalanan dan efisiensi mobilitas harian.
Perubahan perilaku konsumen ini tecermin dari melonjaknya proporsi popularitas pencarian properti secara tahunan (year-on-year/YoY). Jakarta Pusat mencatatkan kenaikan minat tertinggi secara nasional sebesar 0,9 persen, disusul Bogor sebesar 0,3 persen, serta Bekasi dan Jakarta Utara yang masing-masing naik 0,2 persen.
Baca Juga: Harga Rumah Sekunder Menurut Luas Bangunan: Tren Pasar 2026
========================================================================================
INFOGRAFIK: PERUBAHAN PROPORSI POPULARITAS PENCARIAN PROPERTI JABODETABEK (RUMAH123)
========================================================================================
- Jakarta Pusat : +0,9% YoY (Kenaikan Tertinggi Nasional)
- Bogor : +0,3% YoY | +0,2% MoM (Kenaikan Bulanan Terbesar)
- Bekasi : +0,2% YoY | +0,1% MoM
- Jakarta Utara : +0,2% YoY
- Depok : -0,5% YoY (Penurunan Terbesar)
- Jakarta Timur : -0,4% YoY
----------------------------------------------------------------------------------------
Area Paling Populer (Agustus 2026): Tangerang (14,6%), Jaksel (13,0%), Jakbar (10,4%)
========================================================================================
Efisiensi Mobilitas Menggeser Kompromi Luas Bangunan
Pertimbangan harga beli kini harus bersaing ketat dengan biaya mobilitas jangka panjang. Kesibukan aktivitas serta tingginya dinamika pekerjaan di area metropolitan membuat calon pembeli semakin enggan menghabiskan waktu terlalu lama di perjalanan.
Head of Market Research Rumah123, Marisa Jaya, menegaskan bahwa pergeseran persepsi ini mengubah cara pandang konsumen dalam menilai kelayakan sebuah hunian.
“Pencari properti saat ini semakin menghitung nilai waktu. Mereka tidak hanya bertanya apakah harga rumahnya sesuai kemampuan, tetapi juga apakah lokasi tersebut membuat rutinitas sehari-hari lebih efisien. Waktu tempuh, akses terhadap tempat kerja dan fasilitas keluarga, serta biaya mobilitas menjadi pertimbangan yang makin nyata dalam proses memilih hunian,” ujar Marisa.
Baca Juga: Gudang Logistik MMP Cibitung Laris 100 Persen Tersewa E-Commerce
Kondisi tersebut berdampak langsung pada penurunan popularitas di sejumlah kawasan penyangga yang membutuhkan kompromi perjalanan lebih besar.
Depok mencatatkan penurunan proporsi minat pencarian terbesar hingga 0,5 persen YoY, diikuti Jakarta Timur yang terkoreksi 0,4 persen.
Bogor dan Kawasan Penyangga Strategis Tetap Diminati
Meskipun Jakarta Pusat memimpin pertumbuhan minat secara tahunan, wilayah penyangga dengan aksesibilitas teruji tetap mempertahankan daya tariknya.
Pada pergerakan bulanan (month-on-month/MoM), Bogor justru memimpin pertumbuhan proporsi popularitas di Jabodetabek sebesar 0,2 persen, diikuti Jakarta Barat dan Bekasi masing-masing 0,1 persen.
Pertumbuhan positif di Bogor dan Bekasi membuktikan bahwa kawasan luar Jakarta tetap menjadi pilihan favorit selama mampu menawarkan keseimbangan antara kemudahan transportasi, kelengkapan fasilitas publik, dan harga yang masuk akal.
Baca Juga: Rukita Deluxe Vivara Menteng Ubah Rumah Tua Jadi Coliving
Marisa menjelaskan bahwa masyarakat kini semakin mampu membedakan kawasan penyangga mana yang benar-benar mendukung kenyamanan hidup sehari-hari.
“Yang dicari konsumen bukan semata-mata pusat kota atau pinggiran kota. Mereka mencari lokasi yang paling sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Dalam konteks ini, rumah sekunder yang lebih compact, apartemen, atau properti yang membutuhkan renovasi di lokasi strategis dapat menjadi alternatif yang relevan bagi sebagian pencari rumah,” lanjut Marisa.
Area Inti Jabodetabek Masih Kuasai Porsi Popularitas
Secara keseluruhan, konsentrasi pencarian tempat tinggal di Jabodetabek masih terpusat pada beberapa area utama. Tangerang memegang pangsa pencarian terbesar di angka 14,6 persen per Agustus 2026, disusul Jakarta Selatan dengan 13,0 persen, dan Jakarta Barat 10,4 persen.
Baca Juga: Rumah Kecil Justru Jadi Segmen dengan Kenaikan Harga Tertinggi

Kondisi ini memberikan sinyal kuat bagi para pengembang maupun pemilik rumah bekas agar tidak lagi sekadar menjual keunggulan fisik bangunan. Kehadiran akses transportasi publik, kedekatan dengan tol, serta fasilitas penunjang di sekitarnya kini menjadi faktor penentu keputusan pembelian.
VP of Marketing Rumah123, Firman Pamungkas, mengingatkan pentingnya menyelaraskan penawaran produk dengan kebutuhan gaya hidup konsumen modern.
“Bagi pelaku industri, data ini menjadi pengingat bahwa produk properti tidak cukup hanya menawarkan ruang yang lebih besar atau harga yang lebih rendah. Konsumen semakin ingin mengetahui konsekuensi nyata dari setiap pilihan lokasi. Karena itu, pengembang, pemilik properti, dan investor perlu membaca kebutuhan pasar secara lebih lokal dan lebih spesifik,” tutup Firman.
Baca Juga:
Harga Rumah Sekunder Makin Terjangkau Secara Riil, tapi Pilihannya Makin Sedikit
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com dan WA Channel





