BERITA TERKAIT

Harga Rumah Sekunder Makin Terjangkau Secara Riil, tapi Pilihannya Makin Sedikit

Harga rumah sekunder nasional hanya tumbuh 0,9% secara tahunan hingga Juli 2026, di bawah inflasi 2,9%. Namun, suplai rumah seken justru menyusut 16,4% secara tahunan, membuat pilihan bagi pencari rumah semakin terbatas.

PropertiTerkini.com(JAKARTA) Harga rumah sekunder di Indonesia belum mengikuti laju inflasi. Berdasarkan Flash Report Agustus 2026 by Rumah123, harga rumah sekunder nasional yang tercermin dalam Resale Price Index (RPI) tumbuh 0,9% secara tahunan (year-on-year/YoY) hingga Juli 2026. Pada periode yang sama, inflasi nasional mencapai 2,9%.

Selisih tersebut membuat harga rumah sekunder secara riil mengalami pelemahan. Namun, kondisi yang terlihat positif dari sisi keterjangkauan ini datang dengan persoalan lain: suplai rumah sekunder turun 16,4% secara tahunan.

Baca Juga: KPR Rumah Seken Cepat Lunas, Strategi Gupita Pangkas Tenor 15 Tahun Jadi 6 Tahun

Artinya, rumah memang belum mengalami kenaikan harga yang tinggi secara nasional, tetapi pilihan rumah yang tersedia justru semakin sedikit.

Harga Rumah Sekunder Tumbuh di Bawah Inflasi

Pada Juli 2026, RPI nasional turun 0,2% secara bulanan. Secara tahunan, pertumbuhan harga juga melambat dari 1,2% pada Juni menjadi 0,9% pada Juli 2026.

Sementara itu, inflasi tahunan turun dari 3,3% pada Juni menjadi 2,9% pada Juli.

Perbedaan ini penting bagi konsumen. Kenaikan harga rumah sebesar 0,9% bukan berarti harga rumah nominal turun secara nasional. Namun, karena kenaikannya lebih rendah daripada inflasi, nilai rumah tersebut mengalami pelemahan secara riil.

Pola tersebut juga berlangsung cukup panjang. Pertumbuhan tahunan inflasi tercatat konsisten berada di atas RPI sejak April 2025 hingga Juli 2026.

Baca Juga: Saat Rupiah Melemah, Harga Rumah Sekunder Masih Naik di 11 Kota

Dengan kondisi tersebut, pasar rumah sekunder belum menunjukkan tekanan kenaikan harga yang besar secara nasional. Bagi calon pembeli, situasi ini dapat menjadi ruang untuk mencari dan membandingkan properti dengan lebih leluasa dari sisi harga.

Namun, ada satu catatan penting: leluasa dalam harga tidak selalu berarti leluasa dalam pilihan.

Suplai Rumah Seken Justru Menyusut

Volume suplai rumah sekunder pada Juli 2026 memang masih meningkat tipis 0,2% secara month-on-month (MoM). Akan tetapi, secara tahunan volumenya turun 16,4%.

Penurunan tersebut membuat kondisi pasar menjadi lebih kompleks.

Bagi pencari rumah, semakin sedikit listing berarti semakin terbatas pula kesempatan menemukan properti yang sesuai dengan kebutuhan, baik dari sisi lokasi, harga maupun karakter hunian.

Baca Juga: Pasar Properti Mulai “Pilih Kasih”, Rumah Premium Tiba-Tiba Melonjak 46,7%

Situasi ini terutama perlu diperhatikan oleh konsumen yang sudah menentukan kawasan tujuan. Harga yang relatif lebih terjangkau tidak banyak membantu jika rumah dengan spesifikasi yang dibutuhkan tidak tersedia.

Head of Market Research Rumah123, Marisa Jaya, mengatakan aktivitas pencarian properti masih berlangsung, terutama di wilayah penyangga Jakarta dan kawasan yang memiliki daya tarik hunian maupun investasi.

“Yang kami lihat dari data pencarian adalah masyarakat masih aktif mencari properti, terutama di wilayah penyangga Jakarta dan kawasan yang punya daya tarik hunian maupun investasi. Tapi pada saat yang sama, supply rumah sekunder secara tahunan menurun,” katanya

Menurutnya, kondisi tersebut membuat pencari rumah perlu memperhatikan pilihan yang masih tersedia di lokasi yang dituju.

Tangerang Masih Paling Banyak Dicari

Dari sisi minat pencarian, Tangerang menjadi lokasi dengan proporsi popularitas terbesar pada Juli 2026, mencapai 14,7%.

Selanjutnya, Jakarta Selatan berada di posisi kedua dengan 12,9%, disusul Jakarta Barat 10,2%.

Baca Juga: Jakarta Barat Masuk Tiga Besar Kawasan Properti Paling Diminati, Rumah123 Gelar PropVaganza 2026

Menariknya, pertumbuhan popularitas tahunan justru lebih tinggi di Jakarta Selatan. Proporsi pencarian di wilayah tersebut meningkat 1,2%, sedangkan Jakarta Pusat naik 1,0%.

Tangerang tetap menjadi lokasi dengan volume pencarian terbesar, tetapi proporsi popularitasnya turun 1,0% secara tahunan.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa pasar rumah sekunder tidak hanya dipengaruhi oleh pergerakan harga. Lokasi dan preferensi pencari rumah juga terus berubah.

Pembahasan mengenai pergeseran minat lokasi dan perbedaan harga antarwilayah menjadi penting untuk melihat pasar secara lebih spesifik.

Suku Bunga KPR Memberi Ruang bagi Pembeli

Dari sisi pembiayaan, kondisi suku bunga juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.

Suku bunga acuan Bank Indonesia berada di level 4,75% pada periode laporan, setelah mengalami penurunan bertahap sejak September 2024. Sementara itu, estimasi Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) untuk KPR/KPA berada di kisaran 8,92%.

Baca Juga: Hunian Dekat MRT Lebak Bulus: Arsa Homes Diluncurkan, Mulai Rp1,6 Miliar

Penurunan suku bunga acuan dapat memberikan ruang yang lebih baik bagi pasar pembiayaan properti. Namun, kemampuan membeli rumah tetap bergantung pada harga properti, besaran uang muka, tenor, serta kemampuan membayar cicilan.

Karena itu, kondisi harga rumah yang tumbuh di bawah inflasi sebaiknya tidak diterjemahkan sebagai sinyal bahwa seluruh rumah otomatis menjadi murah.

Lebih Terjangkau, Belum Tentu Lebih Mudah Dibeli

Data Juli 2026 memperlihatkan paradoks yang cukup jelas di pasar rumah sekunder.

Di satu sisi, pertumbuhan harga hanya 0,9%, jauh di bawah inflasi 2,9%. Secara riil, harga rumah mengalami pelemahan.

Di sisi lain, suplai rumah sekunder turun 16,4% secara tahunan.

Bagi konsumen, kondisi tersebut berarti persoalan pasar bukan semata-mata apakah harga rumah akan turun atau naik. Ketersediaan rumah yang sesuai kebutuhan menjadi sama pentingnya dengan harga.

Baca Juga: Simulasi KPR Turun, Rumah di Bawah Rp1 Miliar Masih Jadi Incaran

Karena itu, pencari rumah perlu melihat lokasi, harga dan ketersediaan unit secara bersamaan sebelum mengambil keputusan.

***
Untuk berita santai yang tak kalah serumampir juga kePropertiPlus.com dan WA Chanel

*** Baca berita lainnya di GoogleNews
——— KONTAK REDAKSI:
Telepon/WA: 0821 2543 0279
Email Redaksi: redaksi@propertiterkini.com
Email Iklan: iklan@propertiterkini.com

BERITA TERBARU

Demo Half Page