PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Pasar investasi hotel di kawasan Asia Pasifik mencatatkan pemulihan dan pertumbuhan performa yang signifikan pada paruh pertama tahun 2026.
Berdasarkan laporan riset terbaru dari perusahaan konsultan real estate global JLL, nilai transaksi aset perhotelan di kawasan ini menembus angka US$6,8 miliar atau setara dengan kenaikan 54% dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Baca Juga: Biaya Office Fit-Out Asia Pasifik Naik, Jakarta Masih Lebih Kompetitif
Capaian tersebut menjadi rekor transaksi semester pertama tertinggi sejak 2019, menegaskan solidnya fundamental sektor properti komersial di tengah dinamika ekonomi global.
Lonjakan transaksi ini didorong oleh kuatnya permintaan domestik, percepatan pemulihan arus wisatawan lintas negara, serta selera investor yang semakin selektif dalam mengalokasikan modal pada aset-aset berkinerja stabil maupun berpotensi direposisi.
“Di luar ekspektasi, minat investasi di sektor hotel terus menunjukkan tren positif, menegaskan daya tarik aset perhotelan di Asia Pasifik. Fundamental pasar yang solid dan aktivitas transaksi yang kuat di kawasan ini turut mendorong investor untuk lebih selektif, dengan mengutamakan kepastian dalam berinvestasi dan mengkaji peluang sebelum mengalokasikan modal,” ujar Nihat Ercan, CEO JLL Hotels & Hospitality Group Asia Pasifik.
Jepang, Tiongkok, dan Australia Jadi Motor Utama Pasar
Kinerja pasar investasi hotel Asia Pasifik pada semester I 2026 utamanya ditopang oleh tiga pasar utama di kawasan yang menunjukkan dinamika transaksi sangat agresif:
Baca Juga: Cap Rate Asia Pasifik Stabil, Investor Makin Selektif Pilih Aset
Jepang: Mengukuhkan posisinya sebagai destinasi investasi paling aktif dengan nilai transaksi mencapai US$1,9 miliar, atau melonjak 75% secara tahunan (YoY). Penggerak utamanya adalah pelepasan portofolio berskala besar, termasuk akuisisi JPN Kanagawa Hotel Portfolio oleh AB Capital, pembelian JPN Pelican Hotel Portfolio oleh Tosei, serta aksi akuisisi Sapporo Real Estate oleh konsorsium KKR & PAG.
Tiongkok: Mencatat pemulihan volume transaksi yang sangat tajam hingga 224% (YoY) dengan nilai mencapai US$1,5 miliar. Aktivitas lelang aset pada kuartal II 2026 mendominasi pasar sekunder, terutama untuk properti tertekan secara finansial (distressed assets) dan dijual di bawah harga pasar (under-valued), seperti penjualan sembilan aset perhotelan oleh R&F Group.
Australia: Mengantongi volume transaksi sebesar US$901 juta, naik 38% YoY. Pertumbuhan di Negeri Kanguru ini didorong oleh keaktifan investor swasta, family office, dan pemilik-operator lokal dalam memburu aset kelas menengah di kawasan metropolitan serta regional. Sementara itu, dana ekuitas swasta (private equity) lebih memilih memfokuskan modal pada aset premium di Kawasan Pusat Bisnis (CBD).
Implikasi Bagi Indonesia dan Rekor Transaksi Thamrin Nine
Geliat positif pasar Asia Pasifik ini memberikan sinyal optimisme yang kuat bagi industri properti dan perhotelan nasional di Indonesia. Salah satu tonggak penting transaksi lintas negara yang berhasil difasilitasi JLL Indonesia adalah konsultasi investasi bersejarah untuk Waldorf Astoria Jakarta.
Hotel mewah tersebut dijadwalkan resmi beroperasi pada 2027 mendatang dan berlokasi di dalam kompleks pencakar langit Autograph Tower, Thamrin Nine, Jakarta Pusat.
Country Head JLL Indonesia, Farazia Basarah, menjelaskan bahwa transaksi tersebut mencerminkan keahlian JLL dalam memadukan hubungan bilateral jangka panjang serta keahlian mengelola investasi lintas negara, khususnya melibatkan investor dari Uni Emirat Arab (UEA) dan kawasan Gulf Cooperation Council (GCC).
“Hubungan bilateral yang kuat jadi landasan kepercayaan serta kolaborasi bagi investor. Kami melihat potensi peningkatan investasi lintas negara dan semakin banyaknya transaksi berskala besar di sektor perhotelan maupun properti Indonesia,” ungkap Farazia.
Shift Strategi Modal: Alih Fungsi Hotel Menjadi Co-Living dan Hunian Mahasiswa
Laporan JLL juga mengungkap pergeseran strategi investasi yang kian populer di kalangan pengelola dana, yaitu mengakuisisi hotel berkinerja rendah (underperforming) untuk dikonversi menjadi aset hunian modern, seperti fasilitas student housing dan co-living.
Baca Juga: Green Space Jadi Senjata Baru Mal Jakarta, Okupansi 94%
Langkah alih fungsi ini dipandang sebagai strategi oportunistik (opportunistic and value-add) yang sangat adaptif dalam merespons tingginya permintaan hunian di pusat kota seraya mengoptimalkan imbal hasil aset real estate.
Di Hong Kong, misalnya, sebanyak empat properti hotel ditransaksikan dengan total nilai US$340 juta sepanjang semester I 2026 untuk dikonversi menjadi hunian mahasiswa dan ruang co-living.
Langkah serupa terlihat di Singapura melalui akuisisi aset Park Avenue Changi oleh Coliwoo bernilai US$79 juta yang akan diubah fungsinya menjadi properti co-living modern.
Pengembang properti mendominasi porsi pembeli aset sepanjang semester I 2026 dengan kontribusi 22% dari total transaksi kawasan, disusul pengelola dana institusional (19%), serta individu kaya (HNWI) dan family office (5%).
Meskipun modal domestik masih mendominasi akuisisi di tiap negara, aktivitas investor lintas negara tercatat sangat dinamis di Jepang, Australia, Selandia Baru, dan Korea Selatan.
Baca Juga: Rukita Tekan Intensitas Karbon 77% di Bawah Standar Global, Masuk Daftar Impact Story 2025 PBB
Prospek RevPAR dan Proyeksi Pasar Hingga Akhir 2026
Dari sisi operasional, indikator pendapatan per kamar yang tersedia atau Revenue Per Available Room (RevPAR) dalam mata uang dolar AS mencatatkan pertumbuhan rata-rata di atas 6% di seluruh wilayah Asia Pasifik sepanjang Januari hingga Mei 2026.
Kenaikan harga harian rata-rata (ADR) menjadi pendorong utama performa operasional, khususnya di kawasan Australia, Oseania, dan Asia Tenggara.
Selain itu, pemulihan jumlah kedatangan wisatawan internasional pada kuartal I 2026 tumbuh 3% YoY di Asia Pasifik, dengan pertumbuhan tertinggi dicapai Oseania (9%) dan Asia Timur (5%). Secara kumulatif, arus masuk turis asing telah pulih hingga 89% dibandingkan periode pra-pandemi (Kuartal I 2019).
Melihat performa operasional yang solid dan kuatnya komitmen perbankan serta institusi keuangan, JLL memproyeksikan total volume investasi hotel di Asia Pasifik sepanjang tahun 2026 akan tumbuh sebesar 15% hingga 20% dibandingkan capaian penuh tahun 2025.
“Kinerja operasional hotel yang positif, penyaluran modal yang kuat dari beragam kelompok investor, serta munculnya peluang untuk melakukan reposisi aset menjadi faktor yang mendukung pertumbuhan pasar hingga akhir 2026,” tegas Julien Naouri, Head of Investment Sales Asia, JLL Hotels & Hospitality Group.
Baca Juga: Cilegon Bersiap Jadi Klaster Industri EV, Ini Prospeknya
Kendati demikian, investor diimbau tetap berhati-hati dan menerapkan proses uji tuntas (due diligence) yang mendalam guna memitigasi ketidakpastian kondisi makroekonomi dan geopolitik global yang masih berlanjut.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com dan WA Chanel





