BERITA TERKAIT

Cilegon Bersiap Jadi Klaster Industri EV, Ini Prospeknya

Didukung basis industri berat, pelabuhan, logistik, dan infrastruktur energi, Cilegon dinilai berpotensi menjadi alternatif perluasan ekosistem industri EV dari koridor Timur Greater Jakarta.

PropertiTerkini.com(JAKARTA) — Cilegon bersiap menjadi klaster industri EV seiring mulai masuknya sektor EV-related ke kawasan industri di wilayah tersebut. Knight Frank Indonesia menilai Cilegon memasuki fase awal menuju klaster industri kendaraan listrik, terutama untuk segmen commercial EV dan industri pendukungnya.

Potensi tersebut ditopang karakter Cilegon sebagai kawasan industri berat yang memiliki ekosistem pelabuhan dan logistik, sekaligus infrastruktur energi.

Baca Juga:Geser Cikarang, Wilayah Serang-Cilegon Kini Pimpin Serapan Lahan Industri Greater Jakarta

Posisi ini membuat Cilegon berpeluang menjadi alternatif perluasan rantai pasok industri EV yang selama ini lebih terkonsentrasi di koridor Timur Greater Jakarta dan Jawa Barat.

Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, Syarifah Syaukat, mengatakan Cilegon memiliki basis industri yang memungkinkan kawasan tersebut berkembang lebih jauh dalam ekosistem EV-related.

“Cilegon siap menjadi hub alternatif EV-related, fokus pada peralatan berat (heavy equipment/baja/kimia), bukan mobil penumpang,” ujar Syarifah dalam Jakarta Property Highlights 1H26 yang digelar Knight Frank Indonesia, Kamis (20/8/2026).

Cilegon Bersiap Jadi Klaster Industri EV

Perkembangan sektor EV-related di Cilegon menjadi salah satu perubahan menarik dalam peta kawasan industri Greater Jakarta dan sekitarnya pada semester I 2026.

Baca Juga: Pasar Industri Greater Jakarta Tetap Tangguh, Investasi Selektif

Knight Frank mencatat Cilegon tidak lagi hanya mengandalkan sektor kimia dan industri berat. Pada awal 2026, sektor yang berkaitan dengan kendaraan listrik mulai terlihat dalam aktivitas penyerapan lahan.

Dalam rilis Jakarta Property Highlight 1H26, Knight Frank menyebut Cilegon berpotensi berkembang sebagai klaster industri EV, khususnya untuk commercial EV.

Kawasan ini juga dinilai dapat menjadi alternatif perluasan klaster dari aglomerasi EV supply yang saat ini masih terkonsentrasi di Jawa Barat, terutama koridor Timur Greater Jakarta.

Dengan demikian, peluang Cilegon bukan semata sebagai lokasi pabrik kendaraan listrik, melainkan bagian dari ekosistem industri yang lebih luas.

Baca Juga: Data Center Mulai Incar Kawasan Industri Semarang, Ini Pemicunya

Basis industri baja, kimia, peralatan berat, pelabuhan, serta jaringan logistik dapat menjadi fondasi bagi pengembangan industri komponen dan rantai pasok yang berkaitan dengan kendaraan listrik.

Serapan Lahan Industri Greater Jakarta Capai 127,5 Hektare

Potensi Cilegon tersebut muncul di tengah pasar kawasan industri Greater Jakarta yang masih menunjukkan aktivitas ekspansi.

Pada semester I 2026, total stok kawasan industri Greater Jakarta mencapai sekitar 16.020 hektare. Serapan lahan tercatat sekitar 127,5 hektare, sementara permintaan lahan secara kumulatif berada di kisaran 65,1 persen dan tumbuh 2 persen.

Koridor Timur Greater Jakarta masih menjadi kawasan dengan aktivitas transaksi terbesar. Bekasi, Karawang, dan Purwakarta tercatat sebagai submarket dengan penyerapan lahan tertinggi.

Baca Juga: Kawasan Industri Semarang Berubah, Tak Lagi Sekadar Jual Lahan

Namun, perkembangan Cilegon menunjukkan bahwa ekspansi industri tidak lagi hanya bergerak ke arah Timur.

Knight Frank mencatat sektor Data Center, F&B, dan manufaktur menjadi penyerap lahan utama pada awal 2026. Data Center kembali menjadi occupier paling aktif, sedangkan sektor EV-related tetap menunjukkan aktivitas ekspansi meski belum menjadi penyerap lahan terbesar.

Data Center Masih Dominan, EV Mulai Memperluas Peta Industri

Data Center masih menjadi salah satu penggerak utama permintaan lahan industri. Dalam paparan Knight Frank, sektor ini tercatat menyumbang sekitar 22 persen dari serapan utama, sementara sektor EV-related mencapai sekitar 11 persen pada semester I 2026.

Dominasi Data Center memperlihatkan semakin kuatnya kebutuhan terhadap infrastruktur ekonomi digital. Pada saat bersamaan, mulai munculnya EV-related di Cilegon memperlihatkan arah baru diversifikasi kawasan industri.

Baca Juga: Tren Pasar Properti 2026 Shift ke Optimalisasi Aset

Perubahan tersebut penting karena ekosistem kendaraan listrik membutuhkan lebih dari sekadar fasilitas perakitan kendaraan. Rantai pasoknya dapat mencakup komponen, material, logistik, manufaktur pendukung, hingga infrastruktur energi.

Cilegon memiliki beberapa elemen dasar tersebut. Karena itu, pengembangannya lebih tepat dibaca sebagai bagian dari pembentukan multi-nodal industrial ecosystem, bukan perpindahan pusat industri secara tiba-tiba dari Jawa Barat ke Banten.

Mengapa Cilegon Menarik bagi Industri EV?

Ada beberapa faktor yang membuat Cilegon memiliki posisi strategis.

Pertama, basis industri berat sudah terbentuk. Karakter tersebut menjadi modal penting bagi industri yang membutuhkan material, komponen, dan fasilitas manufaktur berskala besar.

Baca Juga: Interior Modern Minimalis Kian Diminati, Renovasi Rumah Fokus pada Kenyamanan

Kedua, pelabuhan dan jaringan logistik memberikan akses terhadap pergerakan bahan baku maupun produk. Bagi industri yang terhubung dengan rantai pasok regional, konektivitas logistik menjadi salah satu pertimbangan utama dalam menentukan lokasi.

Ketiga, infrastruktur energi menjadi faktor penting. Industri EV dan industri pendukungnya membutuhkan pasokan energi yang andal, terutama ketika pengembangan kawasan diarahkan menuju manufaktur berteknologi lebih tinggi.

Dalam konteks tersebut, Cilegon memiliki peluang untuk mengisi ceruk yang berbeda dibandingkan kawasan industri di Bekasi dan Karawang.

Bukan Hanya Soal Lahan, Green Industry Jadi Tantangan

Meski prospeknya terbuka, pengembangan Cilegon sebagai klaster EV tidak berhenti pada ketersediaan lahan.

Baca Juga: Gedung Biasa Makin Sepi, Mengapa Perkantoran Green Office di Jakarta Justru Diburu Tenant?

Dalam sesi diskusi, Knight Frank menyoroti setidaknya tiga elemen yang penting untuk kesiapan green industry, yaitu pengelolaan air, energi terbarukan, dan pengolahan air limbah.

Peran pemerintah juga dinilai penting dalam menyediakan infrastruktur dan kebijakan yang mendukung perkembangan industri hijau.

Faktor tersebut akan semakin relevan ketika kawasan industri mulai menarik perusahaan yang memiliki target dekarbonisasi dan standar ESG global.

Dengan kata lain, daya saing Cilegon ke depan tidak cukup hanya ditentukan oleh harga lahan. Ketersediaan energi, air, pengolahan limbah, konektivitas logistik, dan kualitas infrastruktur akan menjadi bagian dari paket investasi yang ditawarkan kawasan.

Baca Juga: Orang Kaya Indonesia Melonjak 81%, Sektor Properti Mewah Ketiban Durian Runtuh?

Cilegon Bisa Jadi Alternatif Ekspansi EV dari Jawa Barat

Knight Frank melihat munculnya sektor EV-related di Cilegon sebagai bagian dari perluasan ekosistem industri yang sebelumnya terkonsentrasi di koridor Timur Greater Jakarta.

Country Head Knight Frank Indonesia Willson Kalip mengatakan kawasan industri Greater Jakarta memiliki keunggulan sebagai aglomerasi industri yang dapat mengakomodasi sektor padat karya maupun padat teknologi.

“Submarket industri yang ada di wilayah Greater Jakarta merupakan aglomerasi kawasan yang prima untuk pengembangan industri, tidak hanya berbasis padat karya, tetapi juga padat teknologi,” kata Willson.

Baca Juga: Pasar Perumahan Jabodebek-Banten Masih Melemah hingga Akhir 2026

Menurutnya, dominasi serapan lahan untuk Data Center dan EV-related menunjukkan bahwa transformasi industri tidak hanya berkembang di koridor Timur, tetapi mulai masuk ke koridor Barat.

Perkembangan tersebut dinilai dapat memperkuat posisi Greater Jakarta sebagai multi-nodal industrial ecosystem sekaligus membuka alternatif lokasi investasi bagi investor regional maupun global.

Bagi pasar properti industri, perubahan ini berarti persaingan antarkawasan ke depan akan semakin ditentukan oleh kualitas ekosistem, bukan sekadar luas lahan yang tersedia.

Cilegon memiliki modal awal untuk masuk ke peta tersebut, tetapi tahap berikutnya akan sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur dan kemampuan kawasan memenuhi kebutuhan industri EV yang semakin kompleks.

***
Untuk berita santai yang tak kalah serumampir juga kePropertiPlus.com dan WA Chanel

*** Baca berita lainnya di GoogleNews
——— KONTAK REDAKSI:
Telepon/WA: 0821 2543 0279
Email Redaksi: redaksi@propertiterkini.com
Email Iklan: iklan@propertiterkini.com

BERITA TERBARU

Demo Half Page