BERITA TERKAIT

Data Center Mulai Incar Kawasan Industri Semarang, Ini Pemicunya

Laporan terbaru Colliers Indonesia mencatat data center mulai muncul sebagai sumber baru permintaan lahan industri di Greater Semarang. Ketersediaan listrik, air, dan jaringan serat optik menjadi faktor utama yang menarik minat investor.

PropertiTerkini.com(SEMARANG) — Data center di kawasan industri Semarang mulai menunjukkan geliat baru. Jika selama ini pasar industri Greater Semarang didominasi sektor manufaktur padat karya seperti garmen dan tekstil, kini pusat data (data center) perlahan muncul sebagai salah satu sumber permintaan baru yang berpotensi mengubah arah perkembangan kawasan industri di Jawa Tengah.

Temuan tersebut disampaikan Colliers Indonesia dalam laporan Greater Semarang Industrial Services Forecast Report H1 2026. Meski kontribusinya terhadap penyerapan lahan masih relatif kecil, meningkatnya minat operator pusat data dinilai menjadi sinyal awal transformasi struktur industri di kawasan tersebut.

Baca Juga: Kawasan Industri Semarang Berubah, Tak Lagi Sekadar Jual Lahan

Data Center Mulai Muncul di Kawasan Industri Semarang

Colliers mencatat sejumlah pengelola kawasan industri, terutama Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), mulai menerima peningkatan permintaan informasi maupun transaksi dari pengembang data center.

Berbeda dengan industri manufaktur konvensional, operator pusat data memiliki kebutuhan yang sangat spesifik.

Lokasi yang dipilih umumnya harus memiliki pasokan listrik yang andal, ketersediaan air dalam jumlah besar sebagai sistem pendingin, serta jaringan fiber optic berkapasitas tinggi untuk mendukung lalu lintas data.

Baca Juga: Investasi Properti Asia Pasifik Menguat, Data Center dan Kantor Jadi Incaran

Kombinasi ketiga faktor tersebut menjadi pertimbangan utama sebelum investor memutuskan membangun fasilitas pusat data.

Infrastruktur Menjadi Penentu Utama

Colliers menilai kemunculan data center menunjukkan perubahan karakter investasi di kawasan industri.

Jika sebelumnya biaya tenaga kerja menjadi faktor dominan bagi investor manufaktur, industri digital justru lebih mengutamakan kesiapan infrastruktur.

Artinya, kualitas jaringan utilitas kini memiliki peran yang semakin penting dalam menentukan daya saing kawasan industri.

Baca Juga: Rittal Bawa Teknologi Baru ke Indonesia, Proyek Data Center dan Manufaktur Bisa Rampung Lebih Cepat

Perubahan tersebut juga sejalan dengan transformasi kawasan industri di Greater Semarang yang mulai berfokus pada pembangunan ekosistem bisnis, bukan lagi sekadar menyediakan lahan industri.

Serapan Lahan Tetap Didominasi Manufaktur

Walaupun mulai menarik perhatian sektor digital, pasar industri Greater Semarang masih ditopang manufaktur.

Sepanjang semester pertama 2026, penyerapan lahan industri mencapai sekitar 51,4 hektare, atau hampir separuh dari rata-rata historis penjualan tahunan kawasan tersebut yang diproyeksikan mencapai 124,2 hektare pada sepanjang 2026.

Sementara rata-rata penyerapan tahunan hingga 2029 diperkirakan berada di kisaran 132 hektare.

Baca Juga: Tren Pasar Properti 2026 Shift ke Optimalisasi Aset

Dalam periode yang sama, sektor tekstil masih menjadi penyumbang aktivitas terbesar dengan porsi 38%, disusul data center sebesar 28%, garmen 16%, aksesori 15%, dan farmasi 3% berdasarkan komposisi sektor aktif pada H1 2026.

Angka tersebut menunjukkan bahwa data center sudah mulai menjadi salah satu segmen yang cukup diperhitungkan meski masih berada pada tahap awal pengembangan.

Selain itu, komposisi tenant kawasan industri saat ini juga semakin beragam. Industri garmen dan tekstil memang masih mendominasi dengan porsi sekitar 15%, diikuti industri kimia dan makanan-minuman masing-masing 11%, logistik 9%, elektronik 8%, serta sejumlah sektor lain seperti furnitur, otomotif, kesehatan, hingga material bangunan.

Peluang Baru bagi Kawasan Industri

Colliers menilai kehadiran data center bukan sekadar menambah jenis tenant di kawasan industri.

Baca Juga: Pasar Perumahan Jabodebek-Banten Masih Melemah hingga Akhir 2026

Investasi pada pusat data berpotensi membuka peluang berkembangnya industri berbasis teknologi lain seperti cloud computing, artificial intelligence (AI), logistik digital, hingga layanan digital yang membutuhkan infrastruktur berkapasitas tinggi.

Di sisi lain, tren ini mendorong pengelola kawasan industri untuk terus meningkatkan kualitas utilitas, jaringan telekomunikasi, dan kepastian operasional agar mampu memenuhi standar investasi global.

Didukung Dua Kawasan Ekonomi Khusus

Prospek tersebut didukung posisi Greater Semarang yang memiliki dua Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), yakni Kendal Industrial Park SEZ dan Batang Industropolis SEZ.

Selain didukung ketersediaan lahan industri yang masih luas, wilayah ini juga memiliki akses menuju Pelabuhan Tanjung Emas, Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani, jaringan jalan tol Trans Jawa, serta biaya tenaga kerja yang relatif lebih kompetitif dibanding kawasan industri di Jabodetabek.

Baca Juga: Tren Home Wellness Naik, Rumah Kini Jadi Pusat Gaya Hidup Sehat

Dengan kombinasi tersebut, Greater Semarang dinilai memiliki peluang semakin besar untuk menarik investasi, baik dari sektor manufaktur maupun industri digital bernilai tambah tinggi.

***
Untuk berita santai yang tak kalah serumampir juga kePropertiPlus.com dan WA Chanel

*** Baca berita lainnya di GoogleNews
——— KONTAK REDAKSI:
Telepon/WA: 0821 2543 0279
Email Redaksi: redaksi@propertiterkini.com
Email Iklan: iklan@propertiterkini.com

BERITA TERBARU

Demo Half Page