PropertiTerkini.com, (TANGERANG) — Kebutuhan hunian modern saat ini tidak hanya menuntut aspek estetika semata, tetapi juga ketahanan bahan bangunan dan kepastian sistem keamanan. Di tengah tantangan konvensional seperti ancaman rayap, penyusutan kayu akibat perubahan cuaca, hingga risiko pembobolan, inovasi pintu baja tahan rayap yang dipelopori PT Jaya Bersama Saputra Perkasa (JBS Perkasa) melalui merek Fortress berhasil menggeser persepsi pasar properti tanah air. Di balik keberhasilan bisnis ini, terdapat perjalanan teknis serta perjuangan hidup Ffounder sekaligus CEO PT JBS Perkasa, Joni Effendi.
Joni tidak mengawali bisnisnya dari karpet merah. Sebagai anak ketiga dari empat bersaudara—di mana tiga saudara lainnya adalah perempuan—ia tumbuh dengan memikul tanggung jawab besar. Usai kehilangan kedua orang tuanya semasa muda dan gagal melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, ia sempat berada di titik terendah kehidupannya.
Baca Juga: FORTRESS Bidik Pertumbuhan Pasar Pintu Baja Lewat Kolaborasi dengan Developer Nasional
“Ibu saya meninggal saat umur lima tahun dan Papa meninggal sewaktu saya belasan tahun. Usaha Papa jatuh, kami pindah ke Surabaya, terpuruk banget, dan tidak bisa kuliah. Bahkan rumah kontrakan diusir, tempat kos tidak terbayar, hingga saya sempat tidur di Asrama KONI Jawa Timur,” kenang Joni kepada PropertiTerkini di kantornya, kawasan Tangerang, beberapa waktu sebelumnya.
Dari Bengkel Las Ruko Hingga Lahirnya Merek Fortress
Pengalaman masa lalu keluarganya yang bergelut di bidang perbengkelan pintu besi mendorong Joni untuk mendirikan bengkel las sendiri pada tahun 2003.
Pada fase awal ini, ia memproduksi collapsible gate serta pintu pagar besi untuk ruko. Namun, menyadari keterbatasan ceruk pasar ruko yang cenderung stagnan—mengingat satu pemilik ruko biasanya hanya membeli sekali—Joni berputar otak mencari produk material bangunan yang dibutuhkan oleh setiap unit rumah tapak.
Memasuki tahun 2014, ia secara resmi mengalihkan fokus ke pintu baja perumahan dengan mengusung merek Fortress. Nama “Fortress” dipilih bukan tanpa alasan; secara filosofis, Fortress dihadirkan sebagai sebuah benteng yang bertugas membentengi keluarga Indonesia serta melindungi orang-orang yang kita cintai di dalam rumah.
Baca Juga: Lewat FORTRESS dan MEVVAH, JBS Perkasa Tawarkan Solusi Hunian Terintegrasi di IndoBuildTech 2026
Pada masa awal pengenalannya, mengubah edukasi pasar terbukti menjadi benteng tantangan paling berat. Masyarakat Indonesia saat itu sangat lekat dengan tradisi pintu kayu dan kerap menganggap pintu berbahan baja akan berkesan kaku, berat, dingin, tidak estetik, atau terasa seperti pintu gudang.
Untuk mengikis stigma tersebut, JBS Perkasa merancang finishing presisi dengan teknik heat transfer printing modern. Teknologi ini mampu memvisualisasikan urat kayu alami, tekstur marmer, hingga desain minimalis modern secara realistis tanpa risiko mengelupas.
“Pintu kayu konvensional kerap menghadapi kendala muai-susut akibat cuaca, risiko lapuk, serangan rayap, hingga biaya tambahan untuk pembelian kusen, engsel, kunci, serta pekerjaan pelapisan atau cat dasar. Paket Fortress hadir siap pasang dalam bentuk set utuh yang sangat efisien dan praktis, baik bagi pemilik rumah maupun pengembang proyek,” jelas Joni.
Inovasi Penguncian Brankas dan Standar Keamanan Tinggi

Secara spesifikasi teknis, keunggulan Fortress terletak pada integrasi sistem keamanan komprehensif. Berbeda dari pintu konvensional yang umumnya mengandalkan satu titik penguncian, pintu baja Fortress dibekali sistem penguncian beruntun mulai dari 5, 8, hingga 9 titik yang bekerja secara simultan layaknya mekanisme lemari besi atau brankas.
Selain itu, setiap unit pintu dilengkapi fitur pengunci internal, engsel tersembunyi yang tertanam di dalam kusen, serta teknologi master key 7 anak kunci. Fitur anak kunci ini menyertakan sistem reset pola kunci otomatis yang memungkinkan pemilik rumah membatalkan akses kunci tukang setelah proses pembangunan atau renovasi selesai.
Baca Juga: Lewat MoU dengan HIMPERRA, Fortress Siapkan 75 Ribu Pintu Baja untuk Rumah Subsidi di Jawa Tengah
Rekor MURI pun berhasil dipecahkan, antara lain sebagai pintu baja dengan titik penguncian terbanyak dan varian motif terbanyak di Indonesia. Tak hanya itu, Fortress juga sukses mempertahankan predikat Top Brand Award secara konsisten selama lima tahun berturut-turut.
Guna menjangkau seluruh segmen konsumen, JBS Perkasa menyediakan rentang harga yang sangat dinamis. Mulai dari varian ekonomis yang dirancang untuk mendukung proyek rumah subsidi (FLPP) maupun Program 3 Juta Rumah pemerintah, tipe menengah di kisaran Rp3 jutaan, hingga lini flagship berspesifikasi premium seperti Fortress Shield yang ditujukan bagi hunian mewah.
Perusahaan juga menghadirkan lini Fortress Aluminos berbahan aluminium berkualitas untuk area basah seperti kamar mandi.
“Bahkan sekarang sudah lebih ‘membumi’. Harga pintu baja Fortress yang kami hadirkan untuk perumahan subsidi di bawah Rp1 juta lengkap dengan smart lock-nya. Sedangkan untuk komersil di atasnya sampai dengan Rp57 juta juga ada. Jadi tujuan kami adalah supaya semakin banyak masyarakat Indonesia merasa aman dan nyaman saat berada di rumah bersama orang-orang yang dicintai,” ungkap Joni kepada awak pers usai berkunjung ke Pabrik Fortress di kawasan Curug, Tangerang, Selasa (1/9/2026).
Komitmen Investasi Rp50 Miliar dan Ekspansi Pabrik Lokal
Penguatan jaringan pasar terus digenjot dari Jabodetabek hingga ke seluruh penjuru Nusantara. JBS Perkasa telah mengoperasikan 18 cabang mandiri di kota-kota strategis, mulai dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga wilayah timur Indonesia seperti Sorong, Papua. Kehadiran cabang mandiri ini didukung oleh jaringan distribusi bersama lebih dari 2.000 toko material dan peritel modern.
Baca Juga: Hitungan Bisnis di Balik Wacana Tarif Parkir Zonasi DKI Jakarta
Puncak dari transformasi perjalanan bisnis Joni Effendi direalisasikan melalui pembangunan pabrik manufaktur dalam negeri di wilayah Curug, Kabupaten Tangerang. Pembangunan fasilitas manufaktur di atas lahan 1,7 hektar ini menelan investasi tahap awal sebesar Rp50 miliar.
Langkah ini menjadi penjelmaan dari janji Joni kepada industri properti nasional sejak beberapa tahun lalu untuk memindahkan basis produksi ke dalam negeri.
Pabrik ini disiapkan untuk memangkas ketergantungan pada produk impor, mempercepat pemenuhan rantai pasok (supply chain), meningkatkan nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), serta membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat.

“Kalau kita hanya impor terus, industri di Indonesia tidak akan naik kelas. Melalui manufaktur sendiri, kita bisa melayani kebutuhan kustomisasi ukuran, warna, dan motif dari para arsitek maupun pengembang lokal secara lebih fleksibel. Ini adalah satu babak baru yang harus saya tuntaskan,” pungkas Joni.
Kini, di usianya yang ke-23 tahun, JBS Perkasa telah bertransformasi menjadi penyedia Integrated Home & Building Solution. Bagi Joni Effendi, setiap lembar baja yang terpasang bukan sekadar urusan bisnis, melainkan penjelmaan dari mimpinya untuk membentengi dan melindungi setiap keluarga Indonesia.
Baca Juga: Bersama REI, Fortress Dorong Hunian Ramah Lingkungan Lewat Gerakan 1 Juta Pohon
Langkah besar itu kini makin nyata seiring pabrik baru FORTRESS MFG yang telah beroperasi secara bertahap dan siap melakukan produksi massal guna memenuhi kebutuhan hunian tanah air.
(Bersambung ke artikel berikutnya: Strategi Ekosistem Bisnis dan Penguatan Manufaktur Lokal FORTRESS MFG di Tangerang)
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com dan WA Channel





