PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — RedDoorz memperkuat kontribusinya terhadap industri perhotelan Indonesia melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan keterampilan tenaga kerja, pengembangan peluang kewirausahaan, serta program keselamatan di sektor akomodasi.
Platform perhotelan dan akomodasi multibrand tersebut menyebut lebih dari 40.000 staf hotel telah mengikuti pelatihan sejak 2016. Selain itu, lebih dari 700 karyawan bekerja di lebih dari 120 hotel yang dioperasikan langsung oleh RedDoorz.
Baca Juga: Bali Tak Lagi Cukup dengan Hotel, Ecoverse Bidik Pasar Tinggal Jangka Menengah
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk membangun pertumbuhan bisnis yang tetap terhubung dengan masyarakat lokal.
Sebab, operasional hotel tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan tenaga kerja, pemilik properti, pelaku usaha, hingga aktivitas pariwisata di daerah.
“Bisnis perhotelan merupakan bisnis lokal. Setiap hotel beroperasi di tengah masyarakat, mempekerjakan tenaga kerja lokal, dan ikut berkontribusi terhadap sektor pariwisata di sekitarnya,” kata Gusti Raganata, Head, Government Relations, RedDoorz.
Menurut Raganata, perkembangan jaringan hotel juga diharapkan dapat membuka peluang di luar pekerjaan operasional hotel, termasuk melalui peningkatan keterampilan, kewirausahaan, dan penerapan standar perhotelan yang lebih baik.
Baca Juga: Investasi Hotel Asia Pasifik Melonjak 54% di Semester I 2026
Pelatihan SDM Jadi Bagian Industri Perhotelan
Pengembangan sumber daya manusia menjadi salah satu program yang telah dijalankan RedDoorz sejak awal ekspansinya di Indonesia.
Sejak 2016, mitra properti yang bergabung dalam jaringan RedDoorz diwajibkan mengikuti pelatihan. Materi tersebut mencakup operasional perhotelan dan standar pelayanan kepada tamu.
Hingga saat ini, lebih dari 40.000 staf hotel telah mengikuti program pelatihan tersebut.
Pada akhir 2025, RedDoorz kemudian memperkenalkan program peningkatan keterampilan staf. Lebih dari 200 staf telah mengikuti program tersebut dan jumlah peserta ditargetkan meningkat menjadi lebih dari 700 staf hingga akhir 2026.
Baca Juga: Orchard Road Punya Hotel Baru, The Hari Singapore Hadir 2027
Bagi pekerja hotel, program pengembangan keterampilan menjadi salah satu instrumen untuk meningkatkan kompetensi sekaligus menjaga kualitas pelayanan di lapangan.
“Saya senang bisa mendapatkan pengetahuan baru dan mempelajari hal-hal yang perlu saya lakukan sebagai profesional di bidang perhotelan untuk memberikan pelayanan terbaik kepada tamu,” kata Revia Bintang, Staf Hotel Yehezkiel Surapati Mitra RedDoorz.
Selain pelatihan bagi staf, RedDoorz juga membuka jalur masuk bagi tenaga kerja baru. Sejak Januari 2026, lebih dari 25 lulusan baru telah bergabung melalui Program Pengembangan Kepemimpinan yang dilakukan melalui rekrutmen setiap kuartal untuk berbagai posisi.
RedSeller Buka Peluang Penghasilan di Sektor Pariwisata
Kontribusi terhadap ekonomi lokal juga dilakukan melalui pengembangan ekosistem di luar pekerjaan formal perhotelan.
RedDoorz meluncurkan program RedSeller pada Maret 2020. Program tersebut memungkinkan masyarakat menjual kembali akomodasi yang berada dalam jaringan RedDoorz tanpa membutuhkan modal awal maupun pengalaman sebelumnya sebagai staf penjualan layanan perhotelan.
Hingga kini, lebih dari 110.000 orang telah mendaftar sebagai RedSeller. Pesertanya berasal dari berbagai latar belakang, termasuk mahasiswa, ibu rumah tangga, pekerja lepas, dan karyawan.
RedSeller yang aktif secara kolektif menghasilkan lebih dari 50.000 pemesanan kamar setiap bulan. Sementara itu, reseller dengan kinerja terbaik disebut dapat memperoleh komisi hingga Rp13 juta dalam satu bulan.
Program ini memperlihatkan adanya model partisipasi masyarakat dalam rantai nilai pariwisata yang tidak terbatas pada pekerjaan di dalam hotel.
“Progres kecil tetaplah progres. Jangan menyerah hanya karena hasilnya belum besar. Yang membedakan seseorang bukan semata-mata yang paling cepat, melainkan siapa yang terus melangkah,” kata Arif Rahmatilah, salah satu reseller terbaik RedDoorz.
Baca Juga: Pembeli Rumah Makin Selektif, Bekasi dan Tangerang Menguat
Dorong Pengembangan Desa Wisata
RedDoorz juga memperluas keterlibatan ke sektor pariwisata daerah melalui kerja sama dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Pada 2026, perusahaan bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat, Bank Indonesia Nusa Tenggara Barat, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, serta Pemerintah Kabupaten Wonosobo.
Kerja sama tersebut antara lain diarahkan untuk mendukung pengembangan desa wisata dan peningkatan kapasitas pelaku pariwisata.
Secara keseluruhan, lebih dari 20 desa wisata telah memperoleh dukungan. Lebih dari 1.000 pekerja pariwisata juga telah mengikuti program peningkatan keterampilan, termasuk pelatihan perhotelan dan pemasaran digital.
Di sisi lain, program sosial perusahaan mencakup pemberian beasiswa kepada 12 mahasiswa politeknik pariwisata serta renovasi tiga masjid dan fasilitas ibadah.
Baca Juga: Green Space Jadi Senjata Baru Mal Jakarta, Okupansi 94%
Keamanan Hotel Jadi Perhatian RedDoorz
Pertumbuhan jaringan akomodasi juga diikuti perhatian terhadap aspek keselamatan dan kesiapsiagaan properti.
Pada 2025, program penanganan kebakaran RedDoorz telah menjangkau 1.000 properti mitra. Perusahaan juga mendonasikan 200 paket alat pemadam kebakaran untuk mendukung kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat.
Program tersebut akan dilanjutkan melalui inisiatif Safe Stay for All Guests. Dalam 12–18 bulan ke depan, program ini diarahkan untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat sekaligus meningkatkan perlindungan bagi tamu dan anak-anak.
RedDoorz juga menyebut NOCs bersama masyarakat setempat akan diarahkan untuk membangun kepercayaan antara warga dan tamu.
“Pertumbuhan bisnis dan tanggung jawab harus berjalan beriringan,” ujar Raganata. “Kami ingin bekerja sama dengan para mitra dan masyarakat untuk mewujudkan industri perhotelan yang lebih aman, lebih kuat, dan lebih berkelanjutan,” katanya lebih lanjut.
Baca Juga: Cilegon Bersiap Jadi Klaster Industri EV, Ini Prospeknya
Bagi industri perhotelan, pendekatan tersebut menempatkan hotel bukan sekadar sebagai fasilitas akomodasi, tetapi bagian dari ekosistem ekonomi lokal yang melibatkan tenaga kerja, properti, pariwisata, dan masyarakat di sekitarnya.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com dan WA Chanel





