BERITA TERKAIT

Investasi Properti Asia Pasifik Menguat, Data Center dan Kantor Jadi Incaran

Arus investasi properti komersial Asia Pasifik terus menguat pada 2026 di tengah ekspansi AI, pertumbuhan data center, dan meningkatnya kebutuhan aset premium. Jepang, Singapura, hingga sektor logistik dan perkantoran menjadi tujuan utama investor global.

PropertiTerkini.com(JAKARTA) — Pasar properti komersial Asia Pasifik memasuki 2026 dengan momentum yang semakin kuat. Di tengah tekanan geopolitik global, kawasan ini justru mencatat kenaikan investasi signifikan, didorong arus modal lintas negara, ekspansi infrastruktur digital, dan meningkatnya kebutuhan aset premium berbasis ekonomi baru.

Data terbaru JLL menunjukkan investasi properti komersial Asia Pasifik mencapai US$47 miliar pada kuartal pertama 2026 atau naik 31% dibanding periode yang sama tahun lalu. Angka tersebut menjadi capaian kuartal pertama tertinggi sepanjang sejarah kawasan.

Baca Juga: Investasi Properti Komersial Asia Pasifik Tembus Rekor US$47 Miliar

Di saat bersamaan, laporan terbaru Colliers juga mencatat total investasi properti Asia Pasifik secara rolling 12 bulan hingga Maret 2026 mencapai US$204 miliar, naik 15% secara tahunan.

Kombinasi dua laporan global tersebut memperlihatkan satu pola yang sama: Asia Pasifik kini menjadi pusat baru pertumbuhan investasi properti dunia.

AI dan Infrastruktur Digital Ubah Peta Investasi Properti

Salah satu pendorong terbesar perubahan pasar datang dari percepatan investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Colliers dalam laporan “Building Resilience: 5 Megatrends Redefining Corporate Real Estate” menyebut AI tidak lagi hanya memengaruhi sektor teknologi, tetapi mulai mengubah strategi properti korporasi secara menyeluruh.

Perusahaan kini semakin agresif mencari lokasi yang memiliki kesiapan infrastruktur digital, pasokan energi stabil, konektivitas tinggi, serta ekosistem talenta teknologi yang kuat.

Baca Juga: Pasar Properti Jakarta 2026 Bergerak Selektif, Retail dan Industri Menguat

Fenomena tersebut ikut mendorong lonjakan investasi data center di Asia Pasifik.

JLL mencatat investasi sektor data center mencapai US$4,1 miliar pada kuartal pertama 2026. Pertumbuhan ini dipicu kebutuhan layanan cloud, AI generatif, dan regulasi kedaulatan data di berbagai negara.

Permintaan kapasitas data center berbasis AI bahkan diproyeksikan tumbuh rata-rata 19% per tahun dalam lima tahun mendatang.

Keterbatasan pasokan listrik dan lahan di kota-kota utama membuat investor mulai melirik pasar berkembang seperti Johor Bahru di Malaysia, Batam di Indonesia, hingga Bangkok di Thailand.

Bagi pasar properti regional, tren ini menandai pergeseran penting: aset digital infrastructure kini mulai sejajar dengan properti konvensional sebagai instrumen investasi utama.

Baca Juga: Rumah Tapak Suburban Kian Dilirik Gen Z dan Milenial, Pasar Apartemen Tertekan

Jepang dan Singapura Jadi Tujuan Utama Investor

Jepang masih menjadi pasar properti terbesar di Asia Pasifik dengan nilai investasi mencapai US$50,5 miliar berdasarkan laporan Colliers.

Sementara menurut data JLL, Jepang membukukan investasi properti komersial sebesar US$13,2 miliar hanya dalam kuartal pertama 2026.

Aktivitas terbesar masih datang dari sektor perkantoran, khususnya revitalisasi gedung kantor lama di kawasan CBD Tokyo.

Salah satu transaksi terbesar adalah akuisisi kantor pusat Dentsu Group oleh Brookfield dari Hulic senilai US$1,9 miliar.

Di sisi lain, Singapura mencatat lonjakan paling agresif di kawasan. Investasi properti komersial negara tersebut melonjak 433% menjadi US$11,5 miliar pada kuartal pertama 2026.

Baca Juga: Investasi Properti Asia Pasifik Naik 15%, Jepang Pimpin Arus Modal

Pertumbuhan itu dipicu transaksi jumbo transfer aset Hongkong Land dan Qatar Investment Authority (QIA) ke SCPREF senilai US$6,4 miliar.

Menurut Theo Novak, Managing Director Capital Markets & Investment Services Asia Pacific Colliers, investor global kini lebih fokus pada pasar yang memiliki likuiditas tinggi dan transparansi kuat.

“Modal kembali mengalir ke Asia Pasifik dengan pendekatan yang lebih disiplin pada 2026. Investor kini fokus pada pasar yang menawarkan skala besar, likuiditas, dan transparansi,” ujarnya.

Kantor dan Logistik Masih Dominasi

Meski tren digital infrastructure berkembang pesat, sektor perkantoran masih menjadi tulang punggung investasi properti Asia Pasifik.

Baca Juga: Hunian Luxury di Tangerang Tetap Laris, CBRE Ungkap Alasannya

JLL mencatat nilai transaksi sektor office mencapai US$24 miliar pada kuartal pertama 2026 atau naik 46% secara tahunan.

Sektor ini menyumbang lebih dari separuh total investasi regional.

Colliers juga menyebut Asia Pasifik berbeda dibanding Amerika Utara yang saat ini lebih didominasi multifamily housing. Dalam dua tahun terakhir, sektor office justru menjadi sektor paling aktif di APAC, terutama di gateway cities utama.

Selain office, sektor industri dan logistik juga terus tumbuh stabil.

Nilai investasi logistik Asia Pasifik naik 53% menjadi US$8,5 miliar pada awal 2026. Permintaan terhadap warehouse modern dan rantai pasok regional tetap tinggi seiring ekspansi manufaktur serta pertumbuhan e-commerce.

Baca Juga: Saat Rupiah Melemah, Harga Rumah Sekunder Masih Naik di 11 Kota

Investor Mulai Cari Aset Tahan Disrupsi

Di tengah perubahan teknologi dan ketidakpastian global, investor kini semakin selektif memilih aset.

JLL menilai investor institusional mulai mengadopsi pendekatan “HALO” atau Heavy Assets with Low Obsolescence, yakni strategi investasi pada aset fisik yang memiliki pendapatan stabil dan relatif tidak mudah terganggu perubahan teknologi.

Tren tersebut terlihat dari meningkatnya minat terhadap aset logistik premium, data center, hotel, hingga kawasan industri berbasis manufaktur dan ekonomi digital.

Colliers juga menyoroti faktor energi sebagai variabel baru dalam strategi investasi properti.

Baca Juga: Menuju 2030, Investasi Data Center Global Tembus USD 3 Triliun, Indonesia Kian Dilirik Investor

Pertumbuhan AI dan data center membuat kebutuhan listrik meningkat tajam, sementara beberapa kota besar Asia mulai menghadapi tekanan kapasitas energi.

Kondisi ini membuat aspek keberlanjutan, efisiensi energi, dan ketahanan infrastruktur semakin menentukan daya tarik sebuah kawasan properti.

Indonesia Masih Punya Momentum

Indonesia termasuk pasar yang masih dipandang prospektif oleh investor global.

Farazia Basarah, Country Head JLL Indonesia, mengatakan minat investor terhadap sektor logistik, manufaktur, data center, dan perhotelan masih cukup tinggi.

Menurutnya, kekuatan pasar Indonesia ditopang ekonomi digital yang berkembang cepat, populasi produktif besar, serta percepatan adopsi AI.

Baca Juga: Saat Ibu Makin Melek Finansial, Rumah Impian Lebih Mudah Dicapai

Di tengah dinamika global, posisi Indonesia juga semakin strategis karena mulai dilirik sebagai alternatif pengembangan infrastruktur digital dan rantai pasok regional.

Jika tren investasi Asia Pasifik terus berlanjut, pasar properti Indonesia berpotensi mendapatkan limpahan modal baru, khususnya untuk sektor-sektor berbasis ekonomi digital dan industrialisasi modern.

***
Untuk berita santai yang tak kalah serumampir juga kePropertiPlus.com dan WA Chanel

 

*** Baca berita lainnya di GoogleNews
——— KONTAK REDAKSI:
Telepon/WA: 0821 2543 0279
Email Redaksi: redaksi@propertiterkini.com
Email Iklan: iklan@propertiterkini.com

BERITA TERBARU

Demo Half Page