PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Investasi properti Asia Pasifik kembali menunjukkan penguatan pada 2026. Laporan terbaru dari Colliers mencatat total investasi real estate di kawasan ini naik 15% secara tahunan menjadi US$204 miliar dalam periode 12 bulan hingga Maret 2026.
Kenaikan tersebut menempatkan Asia Pasifik sejajar dengan pertumbuhan investasi properti global sekaligus memperlihatkan mulai pulihnya arus modal ke aset-aset properti yang dianggap stabil dan memiliki fundamental kuat.
Baca Juga: Asia Pacific Pimpin Transformasi Ritel Global: 5 Tren Kunci dalam Laporan Colliers
Dalam laporan Global Capital Flows May 2026, Colliers menilai investor kini lebih selektif dan cenderung mengarahkan dana ke pasar yang memiliki likuiditas tinggi, transparansi kuat, serta prospek pertumbuhan jangka panjang.
Kondisi geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global memang masih membayangi, tetapi kawasan Asia Pasifik dinilai relatif lebih resilien dibanding beberapa pasar lain.
“Yang terlihat di Asia Pasifik saat ini adalah kawasan yang semakin resilien dan investable, di mana modal mengalir ke pasar dengan fundamental kuat dan potensi pertumbuhan jangka panjang,” ujar Theo Novak, Managing Director Capital Markets & Investment Services Asia Pacific Colliers.
Jepang Masih Jadi Pasar Investasi Properti Terbesar di APAC
Jepang mempertahankan posisi sebagai pasar investasi properti terbesar di Asia Pasifik dengan nilai transaksi sekitar US$50,5 miliar. Posisi berikutnya ditempati Australia sebesar US$36,7 miliar, China US$36 miliar, Korea Selatan US$35 miliar, dan Singapura US$18,7 miliar.
Data tersebut memperlihatkan bagaimana investor global masih menempatkan kota-kota gateway di Asia Pasifik sebagai tujuan utama diversifikasi portofolio properti.
Baca Juga: 5 Tren Hunian Masa Depan yang Mulai Jadi Sorotan di Asia Pasifik
Jepang dan Australia juga tercatat menjadi pasar yang paling aktif menerima investasi lintas negara. Sekitar seperempat total transaksi properti di kedua negara berasal dari investor asing.
Sebaliknya, meski China tetap menjadi salah satu pasar terbesar berdasarkan volume transaksi, kontribusi investasi cross-border masih relatif rendah, hanya sekitar 3,4% dari total aktivitas investasi.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa faktor transparansi pasar, stabilitas regulasi, dan kepastian valuasi kini menjadi pertimbangan utama investor institusi global.
Sektor Perkantoran Jadi Motor Investasi Properti Asia Pasifik
Berbeda dengan tren di Amerika Utara yang didominasi sektor multifamily atau apartemen sewa, pasar Asia Pasifik justru menunjukkan performa kuat pada sektor perkantoran.
Menurut Colliers, office menjadi sektor investasi paling menonjol dalam dua tahun terakhir, terutama di kota-kota utama kawasan Asia Pasifik.
Baca Juga: Proyek Molor Bisa Tekan Nilai Aset, Colliers Soroti Digitalisasi Konstruksi
Di sisi lain, sektor industri dan retail masih bergerak relatif stabil. Permintaan terhadap aset logistik tetap terjaga seiring pertumbuhan e-commerce dan rantai distribusi regional, sementara investasi retail cenderung lebih selektif dengan fokus pada aset yang memiliki performa operasional kuat.
Kondisi tersebut membuat strategi investasi properti Asia Pasifik semakin spesifik pada masing-masing negara maupun sektor. Investor tidak lagi sekadar mengejar volume transaksi, melainkan kualitas aset dan ketahanan pendapatan jangka panjang.
Penggalangan Dana Properti APAC Mulai Stabil
Colliers juga mencatat aktivitas fundraising properti yang fokus ke Asia Pasifik pada kuartal pertama 2026 kembali ke level 2024 setelah sempat mengalami kenaikan moderat sepanjang 2025.
Di tingkat global, penggalangan dana memang masih melambat. Namun waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh modal mulai memendek, menandakan investor kini lebih responsif terhadap strategi investasi yang jelas dan terukur.
Baca Juga: Tarif Sewa Kantor Diproyeksi Naik, Pasokan Gedung Baru Menurun
“Investor fokus pada pasar yang menawarkan skala, likuiditas, dan transparansi. Karena itu Jepang, Australia, dan Singapura terus menarik modal global,” kata Novak.
Menurutnya, spread yield properti di kawasan Asia Pasifik masih cukup menarik meski tekanan inflasi dan suku bunga global belum sepenuhnya mereda. Situasi tersebut membuka peluang re-pricing aset dan mendorong investor kembali masuk ke pasar.
Prospek Investasi Properti Asia Pasifik Masih Positif
Colliers memperkirakan pemulihan investasi properti Asia Pasifik masih akan berlanjut sepanjang 2026. Faktor pendorong utamanya berasal dari kuatnya pasar inti, mulai membaiknya kondisi penempatan modal, serta munculnya peluang investasi selektif di berbagai sektor properti.
Selain itu, kepastian arah suku bunga global diperkirakan menjadi faktor penting yang akan menentukan percepatan arus modal lintas negara dalam beberapa kuartal mendatang.
Baca Juga: OWC Stack AI Meluncur, AI Accelerator Thunderbolt 5 untuk Jalankan Model AI Lokal
Bagi pelaku industri properti, tren ini menjadi sinyal bahwa pasar Asia Pasifik masih dipandang sebagai kawasan strategis untuk investasi jangka panjang, terutama pada aset berkualitas tinggi di kota-kota utama dengan infrastruktur matang dan tingkat transparansi yang baik.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com dan WA Chanel





