PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Tren rent first mulai menjadi fenomena baru di pasar properti Indonesia. Rent first merupakan istilah yang menggambarkan kecenderungan masyarakat memilih menyewa hunian terlebih dahulu sebelum membeli rumah, sebagai langkah untuk memperoleh fleksibilitas sekaligus mempersiapkan kondisi finansial.
Dan, untuk pertama kalinya, minat masyarakat terhadap hunian sewa tercatat melampaui minat membeli rumah, menandai perubahan cara konsumen merencanakan kepemilikan hunian di tengah dinamika ekonomi.
Baca Juga: Tren Sewa Rumah Menguat di Kota Besar, Apakah Konsumen Mulai Menunda Beli?
Temuan tersebut berasal dari analisis jutaan aktivitas pencarian dan enquiry pengguna Rumah123 selama periode April hingga Juni 2026.
Data menunjukkan sebanyak 58,6% pencarian pengguna mengarah pada hunian sewa, sedangkan 41,4% lainnya ditujukan untuk hunian yang ingin dibeli. Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, minat menyewa terus meningkat, sementara minat membeli mengalami penurunan.
Perubahan ini mengindikasikan bahwa menyewa rumah kini bukan lagi sekadar solusi sementara, melainkan mulai dipandang sebagai bagian dari strategi menuju kepemilikan rumah pada waktu yang lebih tepat.
Tren Rent First Semakin Terlihat di Pasar Properti Indonesia
Fenomena tersebut tidak muncul dalam waktu singkat. Berdasarkan catatan Rumah123, kecenderungan masyarakat memilih menyewa telah berlangsung secara konsisten selama lima kuartal terakhir.
Baca Juga: Tarif Sewa Kantor Diproyeksi Naik, Pasokan Gedung Baru Menurun
Selama periode pengamatan tersebut, porsi enquiry untuk hunian sewa terus meningkat di setiap kuartal. Sebaliknya, minat terhadap hunian yang ingin dibeli mengalami penurunan secara bertahap hingga selisih keduanya mencapai 17,2 poin persentase pada kuartal II 2026, menjadi yang terbesar sepanjang periode pemantauan.
Tidak hanya terlihat dari distribusi pencarian, perubahan preferensi tersebut juga tercermin dari pertumbuhan tahunan.
Enquiry terhadap rumah yang ingin dibeli turun 19,8% secara tahunan (year-on-year/YoY). Sebaliknya, permintaan terhadap hunian sewa justru meningkat 8,2% YoY, menunjukkan adanya pergeseran perilaku konsumen bahkan sejak tahap awal pencarian properti.
Di sisi lain, kondisi pasar saat ini juga memperlihatkan bahwa keputusan membeli rumah semakin dipengaruhi berbagai pertimbangan, mulai dari harga properti, kesiapan dana awal, biaya pembiayaan, hingga mobilitas pekerjaan yang lebih dinamis dibanding beberapa tahun lalu.
Baca Juga: Jakarta Tetap Jadi Ibu Kota, Minat Investasi Properti IKN Belum Surut

Bagi sebagian masyarakat, khususnya kelompok usia produktif, menyewa dinilai memberikan ruang yang lebih fleksibel untuk menyesuaikan kebutuhan tempat tinggal tanpa harus langsung mengambil komitmen finansial jangka panjang.
Rumah123 mencatat, lebih dari 53% pengguna platform berasal dari kelompok usia 18–34 tahun, yaitu fase ketika banyak individu mulai membangun karier, membentuk keluarga, sekaligus memperkuat kondisi keuangan sebelum membeli rumah pertama.
Head of Research Rumah123, Marisa Jaya, mengatakan perubahan tersebut tidak berarti masyarakat kehilangan keinginan untuk memiliki rumah.
“Aspirasi masyarakat untuk memiliki rumah tetap tinggi. Namun, data kami menunjukkan bahwa semakin banyak konsumen memilih menyewa terlebih dahulu sebagai strategi yang lebih fleksibel sambil mempersiapkan kondisi finansial, menyesuaikan kebutuhan hidup, dan menunggu momentum yang tepat untuk membeli rumah. Dengan kata lain, menyewa kini menjadi bagian dari perjalanan menuju kepemilikan rumah,” ujarnya.
Baca Juga: Rumah123 dan IPW Kembali Gelar The People’s Choice 2026, Libatkan 400 Ribu Pemilih
Ia menambahkan bahwa fenomena ini lebih tepat dipahami sebagai perubahan urutan dalam proses pengambilan keputusan.
“Kami melihat fenomena ini bukan sebagai penurunan minat membeli rumah, melainkan perubahan urutan pengambilan keputusan. Menyewa menjadi fase transisi sebelum membeli, terutama bagi generasi muda yang masih membangun stabilitas finansial maupun fleksibilitas mobilitas,” jelas Marisa.
Aktivitas KPR Melambat, Rumah Terjangkau Tetap Jadi Incaran
Perubahan perilaku konsumen juga tercermin dari penggunaan fitur pembiayaan properti. Pada kuartal II 2026, aktivitas Simulasi KPR di Rumah123 turun 11,6% dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter-on-quarter/QoQ).
Meski demikian, mayoritas simulasi masih didominasi rumah dengan harga di bawah Rp1 miliar, terutama pada segmen di bawah Rp500 juta dan rentang Rp500 juta hingga Rp1 miliar.
Baca Juga: Saat Rupiah Melemah, Harga Rumah Sekunder Masih Naik di 11 Kota

Data tersebut memperlihatkan bahwa keterjangkauan harga masih menjadi pertimbangan utama masyarakat ketika merencanakan pembelian rumah.
Hal itu juga terlihat dari pola pencarian pengguna. Keyword “subsidi“ menjadi kata kunci paling banyak dicari di platform Rumah123 dengan porsi sekitar 10,02% dari total sesi pencarian.
Sementara itu, kata kunci seperti cluster, mewah, kavling, hingga KPR juga masuk dalam daftar pencarian terpopuler.
Baca Juga: PPN DTP Rusun Subsidi Dinilai Tepat, Pengamat: Lahan dan Pengelolaan Masih Jadi PR Besar
Dominasi pencarian rumah subsidi menunjukkan bahwa pasar masih sangat sensitif terhadap harga. Di sisi lain, tingginya minat terhadap kawasan cluster dan hunian premium mengindikasikan bahwa konsumen juga semakin mempertimbangkan kualitas lingkungan, fasilitas kawasan, serta nilai investasi ketika mencari tempat tinggal.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com dan WA Chanel





