BERITA TERKAIT

Peluang Sektor Perhotelan di Tengah Pelemahan Rupiah

Peningkatan wisatawan mancanegara, peluang akuisisi hotel eksisting, dan semakin terbukanya skema joint venture menjadi faktor yang membuat peluang sektor perhotelan tetap menarik di tengah pelemahan rupiah.

PropertiTerkini.com(JAKARTA) — Di tengah tekanan ekonomi global dan pelemahan nilai tukar rupiah, industri properti menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kenaikan biaya konstruksi hingga ketatnya pembiayaan proyek. Namun di balik kondisi tersebut, peluang sektor perhotelan justru dinilai masih terbuka, terutama bagi investor yang mampu melihat potensi jangka panjang dari aset hospitality di lokasi strategis.

Hal tersebut disampaikan Martin Hutapea, Head of Research & Consultancy PT Leads Property Services Indonesia, dalam media briefing bertajuk Pelemahan Rupiah: Tantangan & Peluang yang digelar di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Pelemahan Rupiah hingga Kantor Masa Depan, Ini Peta Peluang Baru Pasar Properti Indonesia 2026

Menurut Martin, sektor perhotelan memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan subsektor properti lainnya. Kinerja hotel tidak hanya dipengaruhi kondisi pasar properti, tetapi juga pergerakan sektor pariwisata, perjalanan bisnis, dan aktivitas ekonomi secara keseluruhan.

Peluang Datang dari Wisatawan Mancanegara, Tantangan Tetap Ada

Salah satu peluang sektor perhotelan yang muncul di tengah pelemahan rupiah adalah potensi meningkatnya jumlah wisatawan mancanegara.

Ketika rupiah melemah terhadap mata uang asing, biaya perjalanan ke Indonesia menjadi relatif lebih terjangkau bagi wisatawan internasional. Kondisi ini berpotensi meningkatkan kunjungan ke berbagai destinasi wisata maupun kota-kota bisnis utama di Indonesia.

Leads Property melihat operator hotel akan semakin fokus membidik wisatawan asing sebagai salah satu sumber permintaan utama dalam beberapa tahun mendatang.

Baca Juga: Leads Property: Hunian Dekat TOD dan Rumah Hemat Energi Bakal Jadi Primadona di Tengah Pelemahan Rupiah

Selain memberikan kontribusi terhadap tingkat hunian hotel, wisatawan internasional juga umumnya memiliki daya beli yang lebih tinggi, sehingga dapat mendorong peningkatan pendapatan dari kamar maupun fasilitas penunjang lainnya.

“Operator hotel akan memfokuskan diri pada wisatawan mancanegara sebagai sumber permintaan,” ungkap Martin.

Selain itu, di tengah meningkatnya biaya pembangunan, peluang sektor perhotelan juga muncul melalui akuisisi aset hotel yang sudah beroperasi.

Menurut Martin, investor yang ingin masuk ke sektor hospitality tidak selalu harus membangun hotel baru. Akuisisi hotel eksisting dapat menjadi pilihan yang lebih efisien karena aset telah memiliki operasional berjalan, jaringan pelanggan, serta lokasi yang sudah teruji pasar.

“Akuisisi hotel eksisting menjadi opsi bagi investor yang ingin menambah portofolio investasi atau pengusaha sukses yang ingin diversifikasi di bisnis perhotelan,” jelasnya.

Baca Juga: Saat Rupiah Melemah, Harga Rumah Sekunder Masih Naik di 11 Kota

Strategi ini dinilai semakin relevan ketika biaya pembangunan baru mengalami kenaikan akibat pelemahan rupiah dan meningkatnya harga material konstruksi.

Selain akuisisi, Leads Property juga melihat semakin terbukanya peluang kerja sama investasi melalui skema joint venture (JV).

Pemilik hotel yang memiliki aset di lokasi strategis dapat memanfaatkan momentum ini untuk menggandeng investor baru guna memperkuat permodalan maupun memperluas bisnis.

Di sisi lain, investor memperoleh kesempatan untuk masuk ke sektor hospitality melalui aset yang telah memiliki rekam jejak operasional yang jelas.

“Aset hotel di lokasi yang strategis berpotensi dijual atau melakukan joint venture dengan valuasi yang lebih kompetitif,” kata Martin.

Baca Juga: Hotel Hyatt Place Semarang Mulai Dibangun, Pertama di Jawa Beroperasi 2028

Meski demikian, peluang pada sektor perhotelan tidak datang tanpa tantangan.

Leads Property mencatat tingginya biaya konstruksi masih menjadi salah satu kendala utama bagi pengembang hotel.

Kenaikan harga material dan berbagai komponen pembangunan membuat banyak pelaku usaha lebih berhati-hati dalam merealisasikan proyek baru.

Selain itu, ketidakpastian ekonomi berpotensi memengaruhi permintaan dari segmen wisata domestik maupun kegiatan MICE (Meetings, Incentives, Conventions, and Exhibitions) yang selama ini menjadi salah satu penopang bisnis hotel.

Kondisi tersebut membuat sebagian pengembang menunda ekspansi dan lebih fokus mengoptimalkan aset yang sudah beroperasi.

Baca Juga: Pemesanan Hotel Domestik Tumbuh, Lombok, Yogyakarta, dan Bandung Jadi Motor Utama

Lokasi Tetap Menjadi Faktor Utama

Faktor lokasi tetap menjadi penentu utama keberhasilan investasi pada sektor ini.

Hotel yang berada di pusat bisnis, kawasan wisata unggulan, dekat bandara, atau memiliki akses transportasi yang baik umumnya memiliki daya tahan lebih tinggi dibandingkan aset yang berada di lokasi dengan aktivitas ekonomi terbatas.

Selain lokasi, kualitas pengelolaan, reputasi operator, dan kemampuan hotel dalam beradaptasi dengan perubahan kebutuhan tamu juga menjadi faktor penting yang memengaruhi kinerja bisnis.

Baca Juga: Victoria Business Loft Tawarkan Ruang Usaha Premium di Koridor Tersibuk Paramount Gading Serpong, Mulai Rp49 Miliar

Peluang Sektor Perhotelan Masih Menarik untuk Jangka Panjang

Leads Property menilai bahwa pelemahan rupiah memang membawa sejumlah tantangan bagi industri properti, termasuk sektor perhotelan. Namun kondisi tersebut juga membuka ruang bagi investor untuk mendapatkan aset berkualitas dengan valuasi yang lebih kompetitif.

Didukung potensi peningkatan wisatawan mancanegara, peluang akuisisi hotel eksisting, serta semakin terbukanya kerja sama investasi, peluang sektor perhotelan masih dinilai menarik bagi investor yang memiliki perspektif jangka panjang.

Baca Juga: Program BSPS Papua Raya 2026 Melonjak, 22.379 Rumah Siap Dibedah

Bagi pelaku usaha yang mampu memilih lokasi dan aset dengan fundamental kuat, momentum saat ini justru dapat menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat portofolio di sektor hospitality.

Untuk berita santai yang tak kalah serumampir juga kePropertiPlus.com dan WA Chanel

*** Baca berita lainnya di GoogleNews
——— KONTAK REDAKSI:
Telepon/WA: 0821 2543 0279
Email Redaksi: redaksi@propertiterkini.com
Email Iklan: iklan@propertiterkini.com

BERITA TERBARU

Demo Half Page