PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Pasar investasi properti komersial di Asia Pasifik menunjukkan sinyal pemulihan yang semakin kuat. Sepanjang semester pertama (H1) 2026, nilai transaksi investasi mencapai US$105 miliar, menjadikannya kinerja semester pertama terbaik sejak 2022.
Peningkatan aktivitas tersebut mencerminkan pulihnya kepercayaan investor terhadap prospek jangka panjang kawasan Asia Pasifik. Likuiditas pasar yang membaik, tingkat transparansi yang lebih tinggi, serta prospek pertumbuhan ekonomi kawasan menjadi faktor utama yang kembali mendorong arus investasi lintas negara.
Baca Juga: Pajak Properti Singapura Naik 60%, Batam dan Johor Jadi Opsi Alternatif
Laporan Asia Pacific Capital Markets Snapshot H1 2026 yang dirilis Colliers menunjukkan bahwa modal investasi kini tidak hanya mengalir ke sektor-sektor tradisional seperti perkantoran, ritel, dan industri, tetapi juga semakin aktif membidik aset yang berkaitan dengan transformasi ekonomi digital, termasuk data center.
Theo Novak, Managing Director, Capital Markets Asia Pacific Colliers, mengatakan semester pertama 2026 menjadi titik balik penting bagi pasar investasi properti di kawasan.
“Pencapaian terbaik Asia Pasifik pada semester pertama sejak 2022 mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap kemampuan kawasan ini dalam menghadirkan pasar yang likuid, transparan, dan memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang,” kata Theo Novak.
Menurutnya, modal investasi kembali mengalir ke berbagai kelas aset, mulai dari perkantoran, pusat perbelanjaan, kawasan industri hingga data center. Diversifikasi investasi tersebut turut mendorong peningkatan volume transaksi di berbagai negara Asia Pasifik.
Baca Juga: Data Center Mulai Incar Kawasan Industri Semarang, Ini Pemicunya
Jepang, Australia dan Singapura Masih Mendominasi
Dari sisi tujuan investasi, Jepang masih menjadi magnet utama dengan nilai transaksi mencapai US$25,3 miliar sepanjang semester pertama 2026. Australia menyusul dengan US$15,8 miliar.
Sementara itu, Singapura mencatatkan pertumbuhan yang paling mencolok. Nilai transaksi investasi di negara tersebut telah mencapai US$14,1 miliar, bahkan melampaui total investasi sepanjang tahun 2025.
Di sisi lain, China tetap menjadi salah satu kontributor terbesar kawasan dengan nilai investasi sebesar US$27,5 miliar, meskipun aktivitas pasar masih didominasi investor domestik, sementara sebagian pemilik asing masih melanjutkan aksi divestasi.
Data tersebut menunjukkan bahwa investor global masih memprioritaskan pasar dengan likuiditas tinggi, skala transaksi besar, dan partisipasi investor institusional yang kuat.
Baca Juga: Pembatalan Pembelian Rumah Naik 17,73%, IPW Ungkap Penyebabnya
Perkantoran Masih Jadi Primadona, Data Center Terus Naik
Berdasarkan jenis aset, perkantoran (office) tetap menjadi sektor investasi terbesar di Asia Pasifik dengan nilai transaksi mencapai US$40,2 miliar.
Posisi berikutnya ditempati sektor ritel sebesar US$26,7 miliar, disusul properti industri dan logistik senilai US$22,8 miliar.
Di tengah berkembangnya ekonomi digital, data center juga terus memperkuat posisinya sebagai salah satu tema investasi jangka panjang. Hingga pertengahan 2026, sektor ini berhasil menarik investasi sekitar US$6,7 miliar.
Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa investor tidak hanya memburu aset yang menghasilkan pendapatan stabil, tetapi juga mulai memperbesar eksposur pada sektor-sektor yang didorong oleh pertumbuhan teknologi, digitalisasi, rantai pasok modern, dan transformasi ekonomi.
Baca Juga: Perkantoran hingga Hotel Bergerak Positif, Colliers Petakan Tren Pasar Properti Q2 2026
Modal Asing Kembali Agresif
Salah satu indikator lain yang memperlihatkan membaiknya sentimen pasar adalah meningkatnya aktivitas cross-border investment.
Sepanjang semester pertama 2026, investor luar negeri menyumbang 35,9% dari total akuisisi properti di Asia Pasifik.
Angka tersebut meningkat dibandingkan 26% pada 2023, sekaligus menandakan kembali aktifnya investor institusi global dan private equity dalam memburu peluang investasi di kawasan.
Menurut Colliers, investor lintas negara bahkan telah menjadi pembeli bersih (net buyer) properti Asia Pasifik selama periode tersebut, mencerminkan meningkatnya optimisme terhadap prospek kawasan.
Baca Juga: Pasar Perumahan Jabodebek-Banten Masih Melemah hingga Akhir 2026
Indonesia Masih Menarik, tetapi Investor Lebih Selektif
Di Indonesia, Colliers melihat ketersediaan modal investasi masih cukup baik, khususnya untuk aset-aset berskala besar yang memiliki fundamental kuat.
Managing Director Colliers Indonesia, Mike Broomell, mengatakan semester pertama 2026 membuktikan bahwa investor masih bersedia menempatkan dana pada aset Indonesia yang memiliki kualitas dan prospek jangka panjang.
“Semester pertama 2026 menunjukkan bahwa modal investasi masih tersedia untuk aset-aset berskala besar di Indonesia yang memiliki fundamental kuat. Memasuki semester kedua, aktivitas investasi diperkirakan akan semakin meluas, meski investor tetap selektif dengan memprioritaskan gedung perkantoran premium, aset layanan kesehatan, serta transaksi yang menawarkan pendapatan stabil, dikelola oleh operator yang kredibel, dan memiliki kepastian eksekusi,” ujar Mike Broomell.
Artinya, peluang investasi pada semester kedua diperkirakan akan semakin luas. Namun, investor diperkirakan tetap selektif dengan memprioritaskan gedung perkantoran premium, aset layanan kesehatan, serta proyek yang menawarkan pendapatan stabil, dikelola operator berpengalaman, dan memiliki kepastian eksekusi.
Baca Juga: TOD Summarecon Stasiun Bekasi Ekstensi Mulai Dibangun, Investasi Rp78 Miliar
Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa daya tarik Indonesia tidak semata ditentukan oleh besarnya pasar, tetapi juga oleh kualitas aset dan kemampuan pengembang maupun pengelola dalam menjaga kinerja investasi di tengah dinamika ekonomi global.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com dan WA Chanel





