BERITA TERKAIT

Pajak Properti Singapura Naik 60%, Batam dan Johor Jadi Opsi Alternatif

Langkah pemerintah singapura meredam spekulasi properti mendorong pembeli mengalihkan modal ke pasar lintas border, meski investor kelas atas dinilai tetap bertahan.

PropertiTerkini.com(SINGAPURA) — Langkah Pemerintah Singapura yang menaikkan Bea Materai Pembeli Tambahan (Additional Buyer’s Stamp Duty / ABSD) hingga 60% untuk pembeli asing sejak 2023 lalu ternyata memberi dampak jangka panjang yang dirasakan hingga saat ini.

Kebijakan yang digandakan dari sebelumnya 30%—serta mencapai 65% bagi pembelian oleh entitas atau perwalian (trust)—secara konsisten mendorong pergeseran modal investor ke wilayah penyangga terdekat.

Baca Juga: Proyek Baru Las Vegas Sands Gandeng Woh Hup Bangun Ikon Ultra-Mewah Senilai Rp136 Triliun

Diberlakukan secara efektif sejak , 27 April 2023, cooling measures tersebut dirancang untuk mendinginkan pasar residensial di Negeri Singa dan meredam spekulasi.

Pada kuartal I/2023, proporsi pembeli asing sempat menyentuh 6,9%. Menurut Menteri Pembangunan Nasional Singapura saat itu, Desmond Lee, tindakan pendahuluan ini vital demi menjaga keterjangkauan daya beli warga lokal.

Dampaknya bekerja dua arah: menahan sebagian investor kelas atas di Singapura, sekaligus mengalihkan minat investor yang sensitif terhadap harga ke kawasan sekitar.

Singapura Tetap Jadi Safe Haven Investor High-Net-Worth

Meski pajak tinggi membentang, Singapura tidak kehilangan daya tariknya sebagai pusat keuangan global. Mengutip analisis dari PropertyGuru, pembeli asing masih melihat properti di Singapura sebagai aset investasi yang sangat aman (safe haven).

Baca Juga: Investasi Properti Komersial Asia Pasifik Tembus Rekor US$47 Miliar

Data juga menunjukan bahwa bahkan dengan tambahan tarif ABSD 60%, investor asing tertentu—terutama yang berasal dari kota berbiaya tinggi seperti Shanghai—masih menganggap harga properti di Singapura relatif menarik dalam jangka panjang.

Ditambah lagi, faktor keamanan, stabilitas, serta pendidikan anak menjadi pertimbangan utama kaum kaya (Ultra High-Net-Worth Individuals) untuk tetap bertransaksi.

Salah satu buktinya adalah transaksi fantastis konglomerat asal Indonesia yang membeli properti senilai Rp2,3 triliun di Singapura. Fenomena transaksi luar negeri ini turut dipantau otoritas pajak Indonesia melalui mekanisme Automatic Exchange of Information (AEoI).

Pemetaan Data Investor Singapura di Batam, Bintan, dan Johor

Bagi investor yang mengejar efisiensi modal dan imbal hasil (yield), pengetatan ABSD domestik Singapura—yang juga mengenakan tarif hingga 35% untuk rumah kedua warga lokal—mendorong penyerapan pasar di luar negeri yang bebas dari hitungan penalti tersebut.

Baca Juga: 10 Destinasi Favorit Singapura 2026, Universal Studios Tetap Teratas

Dikutip dari laporan dan data riset C9 Hotelworks (dengan sumber C9 Market Research, BPS, MIDA, LTA & MOF), berikut peta pergerakan investor Singapura di tiga kawasan penyangga:

Batam (Fokus: Yield / Imbal Hasil):

  • Singapura menyumbang 45% dari total kedatangan wisatawan internasional pada tahun 2025. Negara asal wisman lainnya mencakup Malaysia (24%), Tiongkok (3%), India (3%), Filipina (1%), serta negara lainnya seperti Korea Selatan dan Jepang (24%).
  • Lebih dari 90% penjualan hotel-residence di Batam berorientasi pada investasi.
  • Rata-rata harga unit berada di angka USD 114.000 (sekitar RM 465.000 atau sekitar Rp2 miliar), menjadikannya sangat terjangkau bagi modal masuk (entry point) investor Singapura.

Bintan (Fokus: Patience / Kesabaran Jangka Panjang):

  • Singapura menguasai 49% pangsa kedatangan internasional (data YTD November 2025). Pasar internasional lainnya diisi Tiongkok (8%), Malaysia (7%), India (4%), Australia (4%), dan Inggris (4%).
  • Porsi wisman hanya mengisi 24% dari total pengunjung, sedangkan 76% sisanya didominasi oleh permintaan domestik.
  • Tingkat hunian (occupancy rate) hotel berbintang tercatat sebesar 46% per Agustus 2025.

Baca Juga: Liburan Keluarga di Singapura: Paket Hotel + Tiket Atraksi Mulai Rp4 Jutaan di PARKROYAL Beach Road

Johor (Fokus: Scale & Connectivity / Skala & Konektivitas):

  • Johor membukukan rekor investasi yang disetujui sebesar USD 27 miliar (RM 110 miliar) pada tahun 2025, tertinggi di antara seluruh negara bagian di Malaysia. Investasi ini mencakup sektor jasa (66%), manufaktur (31%), dan sektor primer (3%).
  • Kehadiran RTS Link menuju Woodlands yang ditargetkan selesai akhir 2026 hanya membutuhkan waktu tempuh 5 menit perintasan.
  • Tarif pajak korporasi di Zona Ekonomi Khusus Johor-Singapura (JS-SEZ) ditetapkan minimum sebesar 5% bagi perusahaan yang disetujui.

Dua Arus Tren yang Berjalan Sejajar

Penerapan ABSD 60% sejak 2023 memilah pasar secara alami. Singapura tetap menjadi tempat berlindung modal skala besar (safe haven), sementara Batam, Bintan, dan Johor memanen limpahan modal yang mengincar efisiensi biaya dan imbal hasil sewa.

Baca Juga: Kejar Target Backlog, Kementerian PKP Lirik Teknologi Hunian Murah Tiongkok

Pertumbuhan pasar di kawasan penyangga kini bertumpu pada kemampuan pengembang untuk menghadirkan produk yang sesuai dengan ekspektasi dan profil investasi pembeli lintas batas.

***
Untuk berita santai yang tak kalah serumampir juga kePropertiPlus.com dan WA Chanel

*** Baca berita lainnya di GoogleNews
——— KONTAK REDAKSI:
Telepon/WA: 0821 2543 0279
Email Redaksi: redaksi@propertiterkini.com
Email Iklan: iklan@propertiterkini.com

BERITA TERBARU

Demo Half Page