BERITA TERKAIT

Orang Kaya Indonesia Melonjak 81%, Sektor Properti Mewah Ketiban Durian Runtuh?

Lonjakan populasi individu ultra-kaya (UHNWI) sebesar 81,7 persen menjadi bahan bakar utama yang menjaga daya serap pasar kondominium premium dan aset komersial berkelanjutan di Jakarta tetap solid.

PropertiTerkini.com(JAKARTA) — Pertumbuhan ekonomi nasional yang terjaga stabil di kisaran 5,29 persen membawa angin segar bagi akumulasi modal individu di dalam negeri. Laporan terbaru The Wealth Report 2026 dan Jakarta Property Highlight (JPH) 1H26 yang dirilis Knight Frank Indonesia mengungkap dinamika menarik: populasi individu berkeuangan ultra-tinggi atau Ultra High Net Worth Individuals (UHNWI) di Indonesia diproyeksikan melesat hingga 81,7 persen dalam kurun waktu lima tahun.

Angka pertumbuhan tersebut bergerak signifikan dari 3.833 orang menjadi 6.966 orang pada tahun 2031. Laju pertumbuhan ini menempatkan Indonesia di posisi teratas di kawasan Asia Pasifik, bahkan melampaui rerata pertumbuhan regional.

Baca Juga: RISE Bangun VASA Ubud Bali Senilai Rp1 Triliun, Perkuat Bisnis Resort Mewah

Sontak, fenomena akumulasi kekayaan privat yang masif ini memicu pertanyaan besar: Apakah sektor properti mewah di Jakarta dan Indonesia secara umum sedang menikmati ‘durian runtuh’?

Bahan Bakar Utama Penyerapan Hunian Premium

Dampak langsung dari melonjaknya jumlah orang kaya di tanah air tecermin nyata pada daya tahan (resilience) pasar hunian segmen atas (high-end). Di tengah kondisi perekonomian global yang dinamis serta proses pemulihan daya beli kelas menengah yang masih berlangsung, segmen properti mewah justru tampil paling perkasa.

Berdasarkan data JPH 1H26, total pasokan kondominium di Jakarta hingga paruh pertama 2026 telah menyentuh 249.107 unit, dengan tingkat penjualan kumulatif bertahan sangat tinggi di angka 96,3 persen. Menariknya, seluruh peluncuran proyek kondominium baru pada semester pertama tahun ini sepenuhnya didominasi oleh kelas high-end.

Baca Juga: Makin Mahal, Makin Dicari? Fenomena Baru Pasar Rumah Mewah di Indonesia

Harga rata-rata unit anyar turut merangkak naik 1,5 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi Rp51,5 juta per meter persegi. Hal ini membuktikan bahwa likuiditas di tingkat atas sangat tebal dan siap diserap oleh produk-produk hunian ikonik yang menawarkan kenyamanan, eksklusivitas, serta nilai investasi jangka panjang.

Head of Research Asia Pacific Knight Frank, Christine Li, menegaskan bahwa fenomena ini bukanlah kebetulan semata, melainkan hasil langsung dari ekspansi modal privat di dalam negeri.

“Proyeksi pertumbuhan populasi UHNWI di Indonesia yang menyentuh 81,7 persen merupakan yang tertinggi di Asia Pasifik. Impuls dari akumulasi kekayaan privat ini memberikan daya serap yang sangat kuat terhadap aset-aset properti bernilai tinggi, terutama di pusat-pusat pertumbuhan ekonomi seperti Jakarta,” jelas Christine Li.

Bukan Sekadar ‘Gengsi’, Properti Mewah Jadi Aset Lindung Nilai

Bagi kelompok kaya raya ini, pembelian properti premium bukan lagi sebatas simbol status, melainkan strategi lindung nilai (hedging) aset dan instrumen diversifikasi portofolio investasi.

Baca Juga: Pasar Properti Mulai “Pilih Kasih”, Rumah Premium Tiba-Tiba Melonjak 46,7%

Selain hunian vertikal premium di jantung kota, para pembeli UHNWI dan instansi komersial juga mengalihkan perhatian mereka pada gedung-gedung perkantoran berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG).

Tingkat keterisian (occupancy rate) Green Office di CBD Jakarta saat ini menyentuh 83,4 persen dengan harga sewa dasar kelas Premium Grade A mencapai Rp294.052 per meter persegi per bulan.

Country Head Knight Frank Indonesia, Willson Kalip, menilai daya serap pasar premium menjadi penyelamat kestabilan industri properti di saat segmen lain masih membutuhkan penyesuaian.

“Resiliensi penjualan kondominium pada segmen high-end menjadi salah satu penopang utama di tengah pemulihan yang belum merata. Namun, agar pasar secara keseluruhan dapat tumbuh berkelanjutan, pengembang juga perlu beradaptasi dan merancang formulasi produk yang tepat untuk menjangkau basis pasar menengah,” ungkap Willson.

Baca Juga: Savyavasa Resmikan Signature Residence Karya Designs By Human di Tower 2

Tantangan di Balik Peluang

Meski segmen premium mendapat angin segar dari lonjakan orang kaya, para pelaku industri diingatkan untuk tidak lengah. Pasar properti mewah kini menuntut standar yang jauh lebih tinggi ketimbang beberapa tahun lalu.

Tiga faktor utama yang kini wajib dipenuhi oleh pengembang properti mewah meliputi:

  1. Lokasi dan Konektivitas: Integrasi dengan kawasan Transit Oriented Development (TOD) atau akses transportasi utama.
  2. Sertifikasi Ramah Lingkungan: Penerapan teknologi smart home, efisiensi energi, serta sertifikasi Green Building.
  3. Manajemen Fasilitas Profesional: Layanan pengelolaan aset kelas dunia untuk menjamin nilai investasi jangka panjang.

Baca Juga: Sewa Dolar Bikin Tekor! Ini Jenis Hunian Ekspatriat yang Paling Dicari di Jakarta 2026

Memasuki paruh kedua tahun 2026, arus modal dari kelompok kaya diprediksi akan terus mengalir ke sektor properti. Selama pengembang mampu menghadirkan produk premium bernilai tambah dan relevan dengan tren keberlanjutan global, pasar properti mewah Indonesia dipastikan akan terus memanen hasil manis dari lonjakan populasi UHNWI ini.

***
Untuk berita santai yang tak kalah serumampir juga kePropertiPlus.com dan WA Chanel

*** Baca berita lainnya di GoogleNews
——— KONTAK REDAKSI:
Telepon/WA: 0821 2543 0279
Email Redaksi: redaksi@propertiterkini.com
Email Iklan: iklan@propertiterkini.com

BERITA TERBARU

Demo Half Page