PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Green office di CBD Jakarta kini tidak lagi dimaknai sebatas kepemilikan sertifikasi bangunan hijau. Knight Frank mencatat, konsep green office telah berkembang menjadi pendekatan menyeluruh yang menitikberatkan pada efisiensi operasional gedung, keberlanjutan lingkungan, hingga komitmen jangka panjang terhadap prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Berdasarkan pemantauan Knight Frank Indonesia, green office di kawasan pusat bisnis (Central Business District/CBD) Jakarta saat ini dipahami sebagai gedung perkantoran yang mampu mengelola efisiensi penggunaan air dan listrik, melakukan pemantauan konsumsi energi secara berkelanjutan, menekan emisi karbon, menggunakan material ramah lingkungan, serta mendukung mobilitas karyawan melalui sistem transportasi yang lebih berkelanjutan.
Pada awal tahun 2025, setidaknya terdapat sekitar 351.000 meter persegi ruang perkantoran di CBD Jakarta yang tengah dalam proses pengajuan sertifikasi hijau.
Tambahan ini akan memperkuat pasokan green office yang hingga akhir tahun 2025 telah mencapai 37% dari total ruang perkantoran di CBD Jakarta.
Dalam catatan historis Knight Frank, pasokan green office tumbuh secara bertahap. Pada periode 2019–2020, total ketersediaannya masih berada di bawah 1 juta meter persegi.
Angka tersebut terus meningkat hingga mencapai sekitar 2,7 juta meter persegi pada akhir 2025.
Meski pertumbuhannya progresif, green office belum sepenuhnya mendominasi pasar, mengingat total stok ruang perkantoran di CBD Jakarta saat ini berada di kisaran 7,3 juta meter persegi.
Permintaan Didorong Tenant Berbasis ESG
Knight Frank menilai, kematangan konsep green office tercermin dari permintaan yang relatif kuat, khususnya dari tenant dengan komitmen ESG yang jelas.
Kelompok ini didominasi oleh perusahaan multinasional yang menjadikan keberlanjutan sebagai bagian dari strategi bisnis jangka panjang.
Selain itu, komitmen pemilik gedung terhadap prinsip hijau juga semakin formal, salah satunya melalui pencantuman pasal-pasal hijau (green clauses) dalam perjanjian sewa.
Hal ini menandai pergeseran pasar dari sekadar pendekatan green by design menuju implementasi operasional yang lebih fungsional dan terukur.
“Memang saat ini tengah terjadi fenomena ESG-driven tenant, dimana pasar semakin matang memaknai green office. Bukan hanya sebagai label, tetapi sebagai sistem operasional gedung yang efisien dan berkelanjutan,” tulis Knight Frank dalam laporannya.
Baca Juga: Sektor Perkantoran Jakarta Menguat: 3 Fakta Kinerja Q3 2025 yang Tunjukkan Ketahanan Pasar
Green Office Jadi Baseline Expectation
Preferensi occupier terhadap green office kini telah bergeser menjadi baseline expectation, terutama sebagai refleksi dari komitmen menuju net zero.
Kondisi ini dinilai sebagai sebuah kemajuan signifikan dalam fase transisi menuju pengembangan properti yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Sejalan dengan itu, tren okupansi green office di CBD Jakarta juga menunjukkan performa yang relatif stabil.
Tingkat hunian green office tercatat berada di kisaran 78%, lebih tinggi dibandingkan rerata okupansi non-green office yang berada di kisaran 75% dalam lima tahun terakhir.
Willson Kalip, Country Head Knight Frank Indonesia, menyebutkan bahwa green building kini menjadi faktor pembeda yang semakin penting di tengah pasar perkantoran Jakarta yang kompetitif.
Baca Juga: IKEA Indonesia Gelar 3 Musisi di Showroom, Hadirkan Konsep Home Concert Perdana
“Green building menjadi diferensiasi penting di tengah pasar ruang perkantoran yang kompetitif dengan pasokan yang berlebih di Jakarta,” ujar Willson Kalip.
Gedung Premium Didominasi Label Hijau
Adaptasi pemilik gedung terhadap konsep green development mulai menunjukkan hasil. Hampir seluruh ruang kantor kelas premium Grade A di CBD Jakarta—sekitar 88%—saat ini telah berlabel hijau.
Sementara itu, sekitar separuh stok ruang kantor pada kategori Grade A juga telah mengantongi label serupa.
Kelas Grade A ini dinilai berada dalam fase transisi, di mana sertifikasi hijau tidak lagi menjadi nilai tambah, melainkan telah berubah menjadi minimum requirement dalam persaingan pasar.
Meski demikian, Knight Frank mengakui bahwa menggeser dominasi non-green office di CBD Jakarta bukan perkara mudah.
Baca Juga: Apresiasi Diberikan Menteri PKP Kepada BP Tapera Atas Kinerja Penyaluran FLPP Sepanjang Tahun 2025
Tantangan masih muncul, terutama di tengah kondisi harga sewa green office yang relatif lebih moderat dibandingkan non-green office.
Namun, meningkatnya kematangan pelaku pasar memberikan optimisme terhadap masa depan green office untuk tumbuh dan secara bertahap mendominasi pasar perkantoran Jakarta.
Tren Asia Pasifik Perkuat Optimisme 2026

Pandangan serupa juga disampaikan Christine Li, Head of Research Knight Frank Asia Pasifik. Ia menilai bahwa tren di kawasan Asia Pasifik menunjukkan pergeseran permintaan yang semakin selektif.
“Pasar di Asia Pasifik saat ini menunjukkan bahwa occupier semakin selektif dalam mengarahkan permintaan ke ruang perkantoran berkualitas tinggi dengan prinsip ESG di lokasi inti yang paling prima,” ujar Christine Li.
Menurutnya, dengan target optimalisasi pemanfaatan ruang yang lebih tinggi, strategi rightsizing, serta pergeseran menuju lokasi pusat kota, aktivitas penyewaan kantor diperkirakan akan tetap terjaga dan menopang pasar perkantoran pada tahun 2026.
Baca Juga: Sinar Mas Land Tutup 2025 dengan Beragam Penghargaan Bergengsi Nasional dan Internasional
Dengan dinamika tersebut, green office di CBD Jakarta diproyeksikan tidak hanya tumbuh secara kuantitatif, tetapi juga semakin matang secara kualitas dan peran strategisnya dalam ekosistem properti perkotaan.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com







