PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Pasar rumah mewah di Indonesia tengah menunjukkan fenomena yang menarik. Saat sebagian pasar properti masih menghadapi tekanan akibat kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, sejumlah proyek hunian premium justru mencatat penjualan yang positif.
Di berbagai kota mandiri sekitar Jakarta, rumah-rumah dengan harga puluhan hingga ratusan miliar rupiah masih mampu menemukan pembelinya. Fenomena ini memunculkan pertanyaan: mengapa rumah yang semakin mahal justru semakin diminati?
Baca Juga: Rumah Mewah Rp89 Miliar Ludes dalam 5 Bulan, BSD City Siapkan Produk Premium Baru
Para pengamat menilai pasar properti saat ini sedang bergerak dalam dua arah berbeda. Segmen menengah menghadapi tantangan daya beli dan keterjangkauan harga, sementara kelompok konsumen kelas atas relatif tidak terlalu terdampak oleh gejolak ekonomi.
Anton Sitorus, Head of Research & Consulting CBRE Indonesia, menjelaskan bahwa kondisi tersebut terjadi karena daya beli kelompok affluent masih cukup kuat dibanding segmen lainnya.
Menurutnya, perlambatan ekonomi saat ini lebih banyak memengaruhi kelompok menengah, sementara pembeli di segmen premium tetap memiliki kapasitas finansial yang besar untuk melakukan pembelian properti.
Rumah Mewah Bukan Lagi Sekadar Tempat Tinggal
Jika dahulu ukuran rumah dan prestise alamat menjadi faktor utama, kini konsumen kelas atas memiliki pertimbangan yang jauh lebih kompleks.
Hunian premium saat ini dinilai sebagai kombinasi antara tempat tinggal, instrumen investasi, dan sarana meningkatkan kualitas hidup.
Baca Juga: Rumah Rp150 Miliar Island Villa NavaPark BSD Laris, 6 Unit Terjual dalam Hitungan Hari
Pengamat tata kota Nirwono Joga melihat adanya perubahan preferensi yang cukup signifikan di kalangan pembeli rumah mewah.
Menurutnya, isu perubahan iklim, kualitas udara, dan kepadatan kota membuat banyak konsumen kelas atas mencari lingkungan yang lebih hijau dan dekat dengan alam. Hunian yang menawarkan ruang terbuka hijau luas, udara yang lebih bersih, dan suasana tenang menjadi semakin diminati.
“Semakin hijau kawasan, semakin mahal,” kata Nirwono. Baginya, ruang hijau kini menjadi kemewahan baru yang dicari pasar premium.
Konsep seperti wellness living, nature living, dan green neighborhood pun semakin sering muncul dalam pengembangan proyek-proyek hunian kelas atas.
Baca Juga: Matera Lakeside Gading Serpong Diluncurkan, 25 Rumah Premium di Tepi Danau Cihuni Mulai Rp6,9 Miliar
Kota Mandiri Menjadi Magnet Baru
Selain faktor lingkungan, keberhasilan rumah mewah juga tidak bisa dilepaskan dari perkembangan kota-kota mandiri di kawasan penyangga Jakarta.
Dalam beberapa tahun terakhir, koridor Tangerang Raya berkembang menjadi salah satu pusat pertumbuhan baru dengan dukungan infrastruktur yang semakin lengkap.
Pengamat tata kota lainnya, Yayat Supriatna, mengatakan bahwa, banyak kawasan baru saat ini tidak lagi hanya berfungsi sebagai area perumahan. Kota-kota mandiri mulai mengambil sebagian fungsi yang selama ini identik dengan Jakarta.
Keberadaan pusat pendidikan internasional, rumah sakit modern, kawasan bisnis, pusat pameran, hingga destinasi gaya hidup menciptakan daya tarik yang membuat masyarakat bersedia tinggal dan berinvestasi di kawasan tersebut.
Baca Juga: Bellefont Summarecon Serpong Bukukan Penjualan Rp600 Miliar dalam 5 Bulan
Fenomena ini turut mendorong kenaikan nilai properti karena pembeli tidak hanya membeli rumah, tetapi juga akses terhadap ekosistem perkotaan yang lengkap.

Infrastruktur Menjadi Faktor Penentu
Bagi pembeli rumah premium, aksesibilitas juga menjadi salah satu pertimbangan utama.
Ketersediaan jalan tol, konektivitas menuju pusat bisnis, akses ke bandara, hingga kemudahan mobilitas sehari-hari menjadi faktor yang berpengaruh terhadap keputusan pembelian.
Yayat menilai infrastruktur yang matang memberikan keyakinan bahwa nilai aset akan terus bertumbuh dalam jangka panjang. Kawasan yang memiliki akses transportasi yang baik cenderung mengalami apresiasi harga lebih cepat dibanding kawasan yang konektivitasnya terbatas.
Karena itu, proyek-proyek premium yang berada di kota mandiri dengan jaringan infrastruktur lengkap biasanya memiliki daya tahan yang lebih kuat dibanding proyek yang berdiri sendiri.
Pasar Premium Punya Aturan Main Berbeda
Direktur Utama PT Multi Hokkindo Addji (Benhokk), Nurul Yaqin, menilai pasar rumah mewah memiliki karakteristik yang berbeda dibanding segmen properti lainnya.
Menurutnya, dalam berbagai siklus ekonomi, segmen ultra-premium cenderung memiliki daya tahan yang lebih kuat. Bahkan pada periode krisis maupun saat pandemi, produk-produk properti kelas atas tetap mampu mempertahankan pasarnya.
Pembeli di segmen ini umumnya tidak terlalu bergantung pada fasilitas pembiayaan seperti KPR. Fokus utama mereka lebih banyak tertuju pada kualitas aset, reputasi kawasan, serta potensi pertumbuhan nilai properti dalam jangka panjang.
Baca Juga: Koridor Barat Jakarta Kian Strategis, Infrastruktur Dorong Lahirnya Growth Center Baru
Fenomena tersebut terlihat jelas di pasar hunian ultra-premium Jabodetabek. Beberapa waktu lalu, kolaborasi Sinar Mas Land dan Hongkong Land meluncurkan Island Villa di NavaPark BSD City dengan harga mulai Rp80 miliar hingga mencapai Rp150 miliar per unit. Menariknya, enam unit dari tahap pemasaran awal berhasil terjual dalam waktu kurang dari satu minggu sejak diperkenalkan ke pasar.
Peluncuran tersebut bukanlah kasus yang berdiri sendiri. Sebelumnya, kedua pengembang juga sukses memasarkan Botanic Villa di kawasan yang sama dengan harga mulai Rp55 miliar hingga Rp89 miliar per unit. Sebanyak 14 unit yang ditawarkan tercatat habis terjual hanya dalam waktu sekitar lima bulan.
Keberhasilan penjualan produk-produk bernilai puluhan hingga ratusan miliar rupiah tersebut menunjukkan bahwa pasar rumah mewah memiliki karakter yang berbeda dibanding segmen residensial pada umumnya.
Kelompok pembelinya relatif terbatas, tetapi memiliki daya beli yang kuat serta cenderung mencari produk yang menawarkan kelangkaan, privasi, kualitas lingkungan, dan potensi menjaga nilai kekayaan dalam jangka panjang.
Baca Juga: Trésor BSD City Mulai Handover Perdana, The 61 Clubhouse Resmi Dibuka
Dalam kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian, properti premium juga kerap dipandang sebagai aset riil yang lebih stabil dibanding sejumlah instrumen investasi lain yang cenderung fluktuatif.
Kemewahan Kini Diukur dari Kualitas Hidup

Perubahan menarik lainnya adalah bergesernya definisi kemewahan itu sendiri.
Jika sebelumnya kemewahan identik dengan ukuran bangunan atau kemegahan fasad, kini kualitas lingkungan menjadi faktor yang tidak kalah penting.
Kawasan yang memiliki danau, taman luas, jalur pedestrian, fasilitas olahraga, pusat kesehatan, hingga tingkat privasi yang tinggi semakin diminati oleh pasar kelas atas.
Kondisi tersebut menjelaskan mengapa sejumlah proyek hunian premium tetap mencatatkan penjualan yang baik meski harga terus meningkat.
Baca Juga: American Standard Design Award 2026 Soroti Inovasi Kamar Mandi Multigenerasi
Bagi kelompok pembeli tertentu, rumah mewah bukan lagi sekadar aset properti. Hunian menjadi bagian dari strategi menjaga kualitas hidup, kenyamanan keluarga, sekaligus penyimpanan nilai kekayaan dalam jangka panjang.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com dan WA Chanel





