PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Optimasi pendapatan hotel kini tidak lagi sebatas memutar strategi penyesuaian harga harian. Banyak pengelola akomodasi di Indonesia maupun global kerap menghadapi kebocoran potensi penerimaan akibat masalah mendasar pada saluran distribusi digital.
Mulai dari koneksi channel manager yang terputus hingga pemetaan tipe kamar yang tidak sinkron, kendala teknis ini memicu kerugian nilai peluang (opportunity cost) hingga miliaran dolar di industri perhotelan.
Baca Juga: Pemesanan Hotel Indonesia Diproyeksikan Pulih pada September, Wisatawan Asing Jadi Penopang
Menjawab tantangan tersebut, platform hotel commerce global SiteMinder resmi memperkenalkan Dynamic Commerce Engine. Inovasi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan machine learning (ML) ini dirancang khusus untuk menutup jurang pemisah antara analisis data dan eksekusi komersial secara real-time.
Menutup Celah Eksekusi Saluran Distribusi Digital
Selama ini, mayoritas perangkat lunak manajemen akomodasi hanya menyajikan data laporan atau rekomendasi tarif berdasarkan lonjakan permintaan. Namun, keputusan operasional tetap membebankan eksekusi manual kepada manajemen.
CEO dan Managing Director SiteMinder, Sankar Narayan, membeberkan alasan utama di balik pengembangan inovasi sistem pintar ini.
“Hotel ingin mengikuti perkembangan lanskap pariwisata yang terus berubah, namun mereka tidak selalu memiliki waktu atau sumber daya untuk melakukannya. Akibatnya, tetap tersedia secara online sering kali menjadi pilihan paling sederhana,” ujar Sankar Narayan.
Baca Juga: Bisnis MICE Global Digenjot MHR Lewat Akselerasi Digital HXE
Ia menambahkan bahwa praktik tersebut telah dibiarkan terlalu lama sehingga menciptakan kesenjangan nyata antara niat dan tindakan eksekusi.
“Dynamic Commerce Engine dari SiteMinder menunjukkan bahwa AI tidak hanya dapat membantu hotel mengidentifikasi peluang, tetapi juga membantu menutup kesenjangan antara rekomendasi dan pelaksanaannya, dengan tetap memastikan pengelola hotel memegang kendali penuh,” lanjut Sankar.
Melalui mesin pintar ini, sistem memproses hampir 4 miliar sinyal availability, rates, and inventory (ARI) dari basis data 56.000 properti dan 2,6 juta kamar untuk menyaring peluang optimasi paling akurat.
“Laporan dan asisten AI saja tidak lagi cukup. Hotel perlu mengetahui peluang mana yang benar-benar penting tanpa harus terus-menerus meminta sistem mereka untuk menemukannya, sekaligus memiliki kemampuan untuk mengubah peluang tersebut menjadi pendapatan,” tegas Sankar.
Baca Juga: Bejana by Petty Elliott Hadirkan Warisan Kuliner Nusantara di Bali
Sankar juga menekankan pentingnya keseimbangan antara penetapan harga dan keandalan fondasi distribusi.
“Penetapan harga tidak boleh menjadi satu-satunya fokus. Perhatian yang sama perlu diberikan pada fondasi distribusi di bawahnya karena hal tersebut berdampak langsung pada pengalaman tamu. Dengan distribusi yang dioptimalkan, tamu dapat mengetahui ketersediaan kamar dan menemukan harga yang sesuai dengan keinginan mereka,” tutup Sankar.
Akurasi Informasi Tentukan Keputusan Wisatawan
Pentingnya penguatan fondasi distribusi digital ini sejalan dengan dinamika perilaku konsumen saat ini. Riset terbaru SiteMinder terhadap 12.000 wisatawan di 14 negara—termasuk Indonesia—mengungkapkan bahwa 51,4% responden pernah membatalkan pemesanan hotel secara online akibat pengalaman transaksi yang buruk.
Bahkan, sebanyak 26,5% wisatawan memilih batal memesan lantaran menemukan ketidaksesuaian informasi, foto, maupun ulasan fasilitas yang kurang dapat dipercaya.
Baca Juga: Pasar Hunian Ekspatriat Jakarta Tertekan Nilai Tukar Rupiah
Kondisi tersebut turut dirasakan langsung oleh calon tamu saat memilih tempat menginap secara online. Pengalaman ini diungkapkan oleh salah seorang wisatawan, Kamilia Rudolf, yang kerap menghadapi hambatan informasi saat hendak melakukan pemesanan.
“Ketika informasi di internet tidak lengkap atau foto yang ditampilkan tidak menggambarkan kondisi hotel yang sebenarnya, saya menghabiskan banyak waktu untuk mencari ulasan atau video tur kamar dari wisatawan lain sebelum memutuskan apakah akan memesan,” kata Kamilia Rudolf.
Fenomena ini mempertegas bahwa ketimpangan data di saluran pemasaran digital tidak sekadar membuang waktu konsumen, tetapi juga memicu potensi kehilangan transaksi bagi pengelola properti perhotelan.
Peluncuran Dynamic Commerce Engine secara global dijadwalkan berlangsung dalam beberapa bulan mendatang untuk menjadi standar baru modernisasi komersial perhotelan.
Baca Juga:
RedDoorz Perkuat Industri Perhotelan Indonesia lewat Lapangan Kerja dan Pelatihan
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com dan WA Channel





