Tuesday, September 28, 2021

PSBB Lagi, Properti Ambruk Lagi, Colliers: Waktu Tepat Investasi

Semua sektor properti akan kembali pada kondisi semula, meski mulai tumbuh di masa transisi dari PSBB tahap awal. Namun demikian, properti tetaplah instrumen investasi yang paling menjanjikan. Dan saat inilah waktu tepat untuk beli properti.

PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menerapkan kembali Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB), mulai 14 September 2020. PSBB Tahap II ini dipastikan akan membuat situasi industri properti semakin sulit, baik untuk hunian, komersial, ritel, dan perhotelan.

Ferry Salanto, Senior Associate Director Colliers International Indonesia mengatakan, sejak fase pertama PSBB, Colliers telah melihat perlambatan atau penurunan trafik dari pengunjung pusat perbelanjaan yang berujung pada penurunan penjualan.

Baca Juga: Jangan Mau Diperdaya Oknum Kepailitan

“Ini bukan kondisi yang ideal untuk industri properti, karena akan ada penurunan penjualan dan pendapatan,” ujar Ferry dalam keterangannya, Kamis (17/9/2020), lalu.

Di sektor perumahan pun, Colliers Indonesia mencatat terjadi banyak keterlambatan pembelian, dimana minat beli juga berkurang. Pada tahap awal PSBB tahap I, banyak orang yang memilih untuk tidak melakukan pembelian dalam jumlah besar atau yang tidak penting.

“Saat ini, pembelian mungkin telah meningkat meskipun tidak signifikan; namun karena ada fase kedua PSBB, maka kemungkinan besar orang akan kembali menunda pembeliannya,” terang Ferry.

Sementara untuk sektor komersial seperti perkantoran, PSBB tahap II juga tentunya akan mengembalikannya ke posisi semula, dimana perkantoran akan menerapkan sistem work from home (WFH) kepada seluruh karyawannya.

Dengan begitu, seperti yang juga sudah pernah dialami sebelumnya, akan berdampak pada ruang yang dibutuhkan perusahaan.

Baca Juga: Okupansi Hotel Turun Hingga 7 Persen, Ini yang Harus Dilakukan Hotelier

Di sisi tenant, meski belum pulih dari situasi awal PSBB, kini mereka harus kembali mengalami kesulitan baru di fase kedua.

“Omzet mereka akan menurun lagi, dan penyewa pada akhirnya akan kembali untuk bernegosiasi dengan pemilik bangunan untuk sewa dan jangka waktu pembayaran,” lanjut Ferry.

Untuk hotel yang paling awal terdampak PSBB pun diprediksi akan Kembali pada kondisi awal. Padahal sudah mulai membaik pada masa transisi ini.

Ferry menjelaskan, pada awal PSBB pertama, penurunan terjadi hingga 10% untuk kasus-kasus tertentu, karena aktivitas bisnis dan liburan menurun secara signifikan. Adapun saat ini, dengan adanya PSBB tahap II, sektor perhotelan harus kembali mencari strategi lain agar bisa bertahan seperti yang dilakukan pada PSBB awal.

Ritel pun demikian adanya. Salah satu sektor properti yang juga cukup terpengaruh sejak awal. Selama masa transisi, sudah terlihat adanya pergerakan, meski pun tidak cukup.

Agar suatu pusat perbelanjaan memiliki kinerja yang baik, maka diperlukan okupansi yang tinggi dan trafik yang tinggi agar dapat terjadi transaksi. Kini dengan PSBB fase kedua, ritel akan kesulitan.

“Dengan adanya sejumlah ketentuan yang berlaku untuk pusat perbelanjaan atau retail, maka dapat mempersulit kinerja sektor ini pulih dengan cepat,” katanya.

Masuk Resesi

Industri properti sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi. Jika pada kuartal ketiga kembali menunjukkan angka negatif, maka tidak menutup kemungkinan akan masuk ke dalam resesi.

Bahkan tanpa PSBB, banyak ekonom memperkirakan penurunan lebih lanjut, meski tidak sedalam kuartal kedua.

Meski secara regional, global, resesi ekonomi sebenarnya merupakan hal yang lumrah dalam kondisi tersebut. Tetapi pertanyaannya adalah, bagaimana kita keluar dari resesi itu dengan cepat?

Baca Juga: Pengembang Apartemen Semakin Tak “PD”

Dengan kondisi perekonomian saat ini, daya beli masyarakat semakin berkurang, dan masyarakat cenderung lebih selektif dalam melakukan pembelian, kebutuhan pokok akan lebih diutamakan, dan hal ini akan berdampak pada properti juga. Tanpa PSBB, Colliers menilai kemungkinan pada akhir tahun 2020 pertumbuhan atau tren akan menurun, karena pertumbuhan properti sejalan dengan produk domestik bruto (PDB).

Jika PDB pada akhir tahun diperkirakan akan anjlok hingga -2,7% (menurut Oxford Economics), berarti properti sulit untuk pindah ke kondisi semula, dan ini berarti masih membutuhkan lebih banyak waktu untuk pulih.

“Semoga di semester II 2021 industri properti bisa mulai bangkit,” tandasnya.

Kondisi Tepat Investasi

Meski tengah dilanda badai krisis akibat pandemi Covid-19, namun properti tetap menjanjikan sebagai instrumen investasi. Ferry pun sependapat bahwa sekarang adalah saat yang tepat untuk berinvestasi.

Kata dia, seharusnya masyarakat tidak hanya melihat situasi dari perspektif jangka pendek karena industri properti memiliki siklus. Saat ini, meski cukup rendah, ada kalanya properti akan rebound.

Colliers Indonesia menemukan bahwa, banyak investor, terutama yang berasal dari luar negeri, kini sudah bersiap-siap karena mengantisipasi rebound ini terjadi.

“Karena itu, inilah momentum yang tepat dan harus diperhatikan dalam jangka panjang. Artinya, saat properti memasuki rebound, produk sudah siap dan bisa diserap pasar,” tegasnya.

Baca Juga: Diterpa Corona, Pembangunan Rumah Eksklusif di Bogor Tetap Dilanjutkan

“Itulah mengapa kita seharusnya tidak melihat momen ini sebagai batasan atau tantangan. Kami melihat apa yang bisa jadi dari kondisi pasar properti ini dapat menciptakan peluang baru untuk memaksimalkan potensi properti di masa depan,” lanjutnya.

BERITA TERKAIT

PROPERTI TV

BERITA TERBARU