PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Pasar perkantoran Jakarta mulai memperlihatkan perubahan pola permintaan pada kuartal III 2026. Setelah beberapa tahun didominasi relokasi dan efisiensi penggunaan ruang, sejumlah perusahaan mulai membutuhkan tambahan area kantor untuk menopang ekspansi bisnis dan proyek-proyek baru.
Colliers Indonesia memproyeksikan permintaan ruang kantor di Jakarta mencapai 198.555 m² sepanjang 2026. Peningkatan aktivitas penyewaan tersebut menjadi sinyal awal perubahan pasar, meskipun sebagian besar transaksi masih berasal dari perpindahan penyewa antargedung dan belum sepenuhnya menghasilkan penyerapan bersih (net absorption).
Ferry Salanto, Head of Research Colliers Indonesia, mengatakan bahwa pasar perkantoran Jakarta mulai memperlihatkan perubahan pola permintaan setelah beberapa tahun didominasi penyesuaian kebutuhan ruang.
“Pola pemulihan pasar perkantoran Jakarta mulai menunjukkan perubahan. Setelah beberapa tahun didominasi oleh penyesuaian kebutuhan ruang, kini mulai terlihat sejumlah perusahaan yang melakukan ekspansi, di samping aktivitas relokasi dan perpindahan ke gedung dengan kualitas lebih baik. Ini merupakan perkembangan yang positif,” ujar Ferry.
Ia menilai, keberlanjutan pemulihan pasar masih bergantung pada meluasnya ekspansi perusahaan yang mampu menciptakan tambahan permintaan ruang kantor secara konsisten.
Tingkat Hunian Gedung Premium Jakarta Mendekati 84%
Data Colliers memperlihatkan pemulihan pasar perkantoran Jakarta berlangsung tidak merata. Pada kuartal III 2026, tingkat hunian gedung perkantoran di kawasan Central Business District (CBD) Jakarta tercatat sekitar 76,3%.
Gedung Grade A membukukan rata-rata tingkat hunian mendekati 78%, sedangkan kategori Premium mencapai hampir 84%. Bahkan, sejumlah gedung Premium telah mencatat tingkat hunian di atas 90%.
Perbedaan tingkat hunian tersebut turut memengaruhi posisi tawar pemilik gedung. Properti dengan tingkat okupansi tinggi dan ketersediaan ruang terbatas memiliki ruang negosiasi lebih kuat untuk mempertahankan harga sewa serta mengurangi insentif kepada calon penyewa.
Sebaliknya, gedung dengan tingkat kekosongan tinggi masih harus bersaing melalui penyesuaian tarif sewa, insentif, dan fleksibilitas ketentuan kontrak.
Colliers juga memproyeksikan tingkat kekosongan ruang kantor Jakarta turun dari 25,7% pada akhir 2026 menjadi 21,1% pada 2029.
Preferensi Penyewa Bergeser dari Flight-to-Quality ke Flight-to-Value
Perubahan berikutnya terlihat pada pertimbangan perusahaan ketika memilih gedung perkantoran. Lokasi, akses transportasi, dan kualitas bangunan tetap menjadi faktor penting, tetapi penilaian kini semakin mencakup keseluruhan manfaat yang diperoleh penyewa.
Konsep flight-to-quality, yakni perpindahan menuju gedung dengan kualitas lebih baik, mulai berkembang menjadi flight-to-value. Perusahaan mempertimbangkan kesesuaian antara kualitas fasilitas, pengelolaan gedung, penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), kenyamanan lingkungan kerja, serta total biaya hunian kantor.
Dalam sejumlah lokasi, selisih tarif sewa antarkelas gedung yang relatif kecil turut membuat perpindahan ke properti berkualitas lebih tinggi menjadi pilihan bagi perusahaan yang tetap memperhitungkan efisiensi anggaran.
Ketersediaan ruang kantor siap pakai atau ready-to-use office juga semakin menarik perhatian. Ruang yang telah dilengkapi furnitur dan penataan interior dapat mengurangi kebutuhan investasi awal (fit-out) sekaligus mempercepat proses operasional perusahaan.
Meski demikian, kesesuaian tata ruang dengan jumlah karyawan, pola kerja, dan kebutuhan operasional tetap menjadi pertimbangan dalam memilih fasilitas tersebut.
Strategi Workplace Berbasis Data Ikut Menentukan Kebutuhan Ruang
Rahmat Alam, Head of Project Management Colliers Indonesia, menyoroti pentingnya penggunaan data dalam merencanakan kebutuhan ruang kerja perusahaan.
“Strategi penataan ruang kerja berbasis data dapat membantu perusahaan merencanakan kebutuhan kantornya secara lebih tepat, dengan mempertimbangkan masukan karyawan, data penggunaan ruang, serta kebutuhan bisnis,” jelas Rahmat.
Pendekatan tersebut relevan untuk berbagai kebutuhan korporasi, mulai dari relokasi, perpanjangan kontrak sewa, penggabungan ruang kantor, renovasi, hingga penambahan tenaga kerja.
Kajian Colliers bertajuk Workplace Strategy: How to Improve Space Efficiency, Employee Well-being and Productivity juga menempatkan strategi ruang kerja sebagai bagian dari efektivitas operasional dan kesejahteraan karyawan, bukan sekadar penghitungan luas area kantor.
Ekspansi Perusahaan Menjadi Penentu Pemulihan Pasar Kantor Jakarta
Colliers memperkirakan pasar perkantoran Jakarta akan membaik secara bertahap hingga 2027. Namun, peningkatan transaksi penyewaan belum otomatis mencerminkan pertumbuhan permintaan bersih.
Perubahan yang lebih menentukan adalah semakin luasnya kebutuhan tambahan ruang akibat ekspansi usaha. Jika tren tersebut berlanjut, penyerapan ruang kantor berpotensi memperoleh dukungan yang lebih kuat dibandingkan periode ketika transaksi didominasi relokasi.
Bagi pemilik gedung, prospek setiap properti juga akan berbeda. Gedung Premium dengan okupansi tinggi berpeluang mempertahankan posisi tawar dalam penentuan tarif sewa, sedangkan gedung dengan tingkat kekosongan besar masih menghadapi persaingan melalui harga dan fleksibilitas penawaran.
Dengan demikian, perkembangan pasar perkantoran Jakarta pada periode berikutnya akan sangat ditentukan oleh kualitas permintaan, bukan semata-mata besarnya volume transaksi penyewaan.
BI Perpanjang LTV 100% hingga 2027, Peluang KPR Tanpa DP Berlanjut
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com dan WA Channel




