PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Strategi ritel di Jakarta mulai bergeser. Jika sebelumnya ekspansi dan penambahan area sewa menjadi fokus utama, kini banyak pengelola pusat perbelanjaan lebih memilih memperkuat pengalaman pengunjung sebagai strategi mempertahankan daya saing.
Perubahan tersebut tercermin dalam laporan Colliers Quarterly Property Market Report Q1 2026 sektor ritel Jakarta. Di tengah tantangan ekonomi dan perubahan perilaku konsumen, pusat perbelanjaan tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat berbelanja, tetapi berkembang menjadi destinasi gaya hidup dan ruang sosial.
Baca Juga: 23 Semarang Dibuka, Traffic Hari Pertama Tembus 30 Ribu Pengunjung
Data Colliers menunjukkan rata-rata tingkat hunian pusat perbelanjaan di Jakarta mencapai sekitar 73 persen pada kuartal pertama 2026. Namun, kinerja terbaik masih ditunjukkan oleh mal premium dan menengah atas yang mampu mempertahankan okupansi di kisaran 90 persen.
Menurut Ferry Salanto, Head of Research Colliers Indonesia, mal kelas premium masih berhasil menarik minat merek internasional sekaligus konsumen dengan daya beli yang relatif kuat.
“Mal-mal ini semakin berperan sebagai pusat gaya hidup, dengan kurasi penyewa yang kuat, penyelenggaraan acara, serta ruang sosial yang tidak dapat tergantikan oleh platform online,” ujar Ferry.
F&B dan Gen Z Menentukan Arah Ekspansi Peritel
Sektor makanan dan minuman (F&B) tetap menjadi salah satu kategori paling aktif di pasar ritel Jakarta. Konsep gerai minuman, restoran tematik, hingga tempat makan yang menawarkan pengalaman sosial terus menjadi pilihan utama pengelola pusat perbelanjaan.
Selain F&B, segmen olahraga dan active lifestyle juga menunjukkan ekspansi yang cukup konsisten. Tren hidup sehat di kalangan masyarakat urban mendorong peningkatan kebutuhan terhadap produk olahraga, kebugaran, dan aktivitas pendukung gaya hidup aktif.
Baca Juga: Ritel Rumah Tangga Tumbuh 10,1% di Awal 2026, Ekspansi Toko Jadi Kunci
Fenomena ini menunjukkan bahwa keputusan konsumen untuk datang ke mal semakin dipengaruhi oleh pengalaman yang tidak dapat diperoleh melalui platform digital.
Di sisi lain, peritel fesyen menghadapi tekanan yang semakin besar dari platform e-commerce dan merek lokal yang berkembang pesat.
Konsumen Generasi Z yang kini menjadi salah satu kelompok pengunjung terbesar pusat perbelanjaan cenderung lebih selektif dalam berbelanja. Harga, nilai produk, pengalaman berbelanja, hingga identitas merek menjadi faktor yang semakin diperhatikan.
Perubahan perilaku tersebut membuat banyak peritel mulai menyesuaikan strategi ekspansi. Format toko yang lebih kecil, durasi sewa yang lebih fleksibel, dan lokasi dengan lalu lintas pengunjung tinggi menjadi pilihan yang semakin diminati.
Renovasi Mal Lebih Menarik Dibanding Bangun Baru
Alih-alih melakukan pembangunan pusat perbelanjaan baru secara agresif, banyak pemilik mal kini memilih melakukan renovasi dan repositioning aset.
Langkah yang ditempuh antara lain menghadirkan area semi-outdoor, ruang komunal, fasilitas hiburan keluarga, hingga konsep lifestyle destination yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat perkotaan.
Baca Juga: Proyek Molor Bisa Tekan Nilai Aset, Colliers Soroti Digitalisasi Konstruksi
Strategi tersebut sejalan dengan tren global sektor ritel yang menempatkan pusat perbelanjaan sebagai bagian dari ekosistem urban living, bukan sekadar lokasi transaksi.
Kualitas aset, komposisi tenant, serta kemampuan menciptakan pengalaman yang berbeda kini menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilan sebuah pusat perbelanjaan.
Pasar Ritel Jakarta Semakin Selektif
Colliers menilai pasar ritel Jakarta memasuki fase yang lebih selektif. Baik pengelola mal maupun peritel dituntut mampu menghadirkan diferensiasi yang jelas, efisiensi operasional, dan pengalaman pelanggan yang relevan.
Mal yang mampu menggabungkan fungsi komersial, hiburan, komunitas, dan gaya hidup diperkirakan akan memiliki daya tahan lebih baik dibanding aset yang masih mengandalkan model bisnis konvensional.
Baca Juga: Tarif Sewa Kantor Diproyeksi Naik, Pasokan Gedung Baru Menurun
Di tengah pertumbuhan ekonomi perkotaan dan perubahan preferensi konsumen, konsep experience-based retail tampaknya akan menjadi arah utama perkembangan sektor ritel Jakarta dalam beberapa tahun ke depan.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com dan WA Chanel




