PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Industri pariwisata Bali menghadapi tantangan baru pada semester kedua 2026. Setelah bertahun-tahun menjadikan jumlah kunjungan sebagai salah satu tolok ukur utama keberhasilan pariwisata, perhatian kini semakin bergeser pada seberapa besar nilai ekonomi yang dihasilkan setiap wisatawan.
Dalam pemaparan pasar properti kuartal III 2026, Colliers Indonesia menilai daya tarik Bali sebagai destinasi wisata premium masih kuat. Namun, pertumbuhan permintaan wisatawan mulai lebih moderat, sementara pembangunan hotel mewah terus berlanjut.
Ferry Salanto, Head of Research Colliers Indonesia, menekankan bahwa tantangan Bali ke depan bukan semata-mata mendatangkan lebih banyak pengunjung.
“Tantangan Bali ke depan itu bukan semata-mata bagaimana mendatangkan lebih banyak wisatawan, tapi bagaimana setiap wisatawan yang datang bisa memberikan value yang lebih besar,” ujar Ferry dalam media briefing Colliers Q3 2026 di Jakarta, belum lama ini.
Pandangan tersebut menggeser fokus dari visitor volume atau jumlah pengunjung menuju visitor value, yakni nilai ekonomi yang ditinggalkan wisatawan melalui lama tinggal, pengeluaran, dan pengalaman selama berada di Bali.
Target 7 Juta Wisatawan Asing Masih Menantang
Berdasarkan pemaparan Ferry, target kunjungan wisatawan asing ke Bali pada 2026 berada di kisaran 7 juta kunjungan. Hingga Juli 2026, berada di sekitar 3,8 juta kunjungan.
Untuk mencapai target tersebut, Bali masih membutuhkan sekitar 3,1–3,2 juta kunjungan wisatawan asing dalam lima bulan tersisa. Artinya, rata-rata kunjungan bulanan perlu mencapai sekitar 600.000–800.000 wisatawan.
Secara matematis, target tersebut masih mungkin dicapai. Namun, Ferry menilai pencapaiannya cukup menantang karena kondisi global dan biaya perjalanan belum sepenuhnya stabil.
Harga tiket pesawat, gangguan geopolitik, keterbatasan penerbangan, dan perubahan anggaran perjalanan dapat memengaruhi keputusan wisatawan. Ketergantungan Bali pada konektivitas udara membuat faktor-faktor tersebut semakin penting bagi prospek kunjungan.
Karena itu, pertumbuhan pariwisata perlu dibaca dengan mempertimbangkan lebih dari sekadar jumlah kedatangan. Lama tinggal dan pola pengeluaran wisatawan juga menentukan seberapa besar dampak kunjungan terhadap bisnis hotel, restoran, spa, dan aktivitas wisata lokal.
Nilai Belanja Wisatawan Menjadi Ukuran Penting
Ferry mempertanyakan apakah target jumlah kunjungan harus menjadi satu-satunya indikator keberhasilan pariwisata Bali.
“Jadi bukan bagaimana membuat semakin banyak orang yang datang ke Bali, tapi bagaimana membuat orang yang sudah datang itu tinggalnya lebih lama, belanja lebih banyak, dan mendapatkan pengalaman yang lebih baik,” tegas Ferry.
Pendekatan visitor value menempatkan kualitas pengalaman wisatawan sebagai bagian penting dari strategi destinasi. Wisatawan yang tinggal lebih lama dan membelanjakan uang untuk restoran, spa, aktivitas lokal, maupun pengalaman tambahan berpotensi memberikan kontribusi ekonomi yang lebih besar.
Bagi operator hotel, pendekatan ini membuka ruang untuk mengembangkan sumber pendapatan di luar penjualan kamar. Paket pengalaman, layanan kebugaran, fasilitas bersantap, serta aktivitas yang relevan dengan karakter destinasi dapat menjadi bagian dari strategi peningkatan pendapatan per tamu.
Meski demikian, strategi tersebut tidak berarti mengabaikan target kunjungan. Jumlah wisatawan tetap penting, tetapi perlu dibaca bersama indikator lain, seperti lama tinggal, pengeluaran, dan dampak ekonomi yang diterima pelaku usaha serta masyarakat lokal.
Hotel Mewah Bertambah, Persaingan Semakin Kompleks
Di tengah prospek pariwisata Bali, merek hotel mewah internasional terus memperluas kehadirannya. Menurut Ferry, perkembangan ini berkaitan dengan reputasi Bali sebagai destinasi premium.
Investasi hotel mewah dapat menciptakan lapangan kerja, mendorong aktivitas ekonomi, dan menambah potensi pendapatan daerah. Produk akomodasi premium juga dapat membantu menarik wisatawan dengan kemampuan belanja lebih tinggi.
Namun, pertumbuhan investasi perlu dilihat bersama dampaknya terhadap kawasan. Ferry menyoroti potensi kenaikan harga tanah, kemacetan, tekanan lingkungan, dan alih fungsi lahan ketika pembangunan terlalu terkonsentrasi di area tertentu.
Pertumbuhan kawasan premium juga dapat meningkatkan biaya hidup masyarakat setempat. Karena itu, nilai ekonomi yang dihasilkan industri pariwisata perlu dilihat bersama manfaat yang benar-benar diterima masyarakat lokal.
Lebih lanjut Ferry mengingatkan bahwa keberhasilan pariwisata Bali tidak semestinya hanya diukur dari banyaknya hotel baru yang dibangun.
“Investasi baru juga perlu dinilai dari kontribusinya terhadap kualitas destinasi dan kemampuan kawasan menampung pertumbuhan aktivitas wisata,” katanya.
Pasokan Kamar Bertambah, Persaingan Hotel Bali Makin Ketat
Dari sisi pasokan, hampir 800 kamar baru tercatat masuk ke pasar Bali pada 2026. Pada saat yang sama, Colliers melihat tingkat hunian hotel Bali masih relatif sehat, tetapi pertumbuhan permintaan lebih moderat dibandingkan periode sebelumnya. Kombinasi tersebut membuat kemampuan operator menaikkan tarif kamar menjadi lebih menantang.
Persaingan tidak hanya datang dari hotel berbintang. Ferry juga menyoroti pertumbuhan vila dan akomodasi sewa jangka pendek, termasuk sebagian yang tidak masuk ke pasar perhotelan formal.
Bagi hotel berizin, persaingan dengan akomodasi yang memiliki struktur biaya dan kewajiban perizinan berbeda dapat menciptakan tekanan, khususnya pada segmen wisatawan yang sensitif terhadap harga.
Meski demikian, Ferry mengingatkan agar penurunan tarif rata-rata atau pendapatan per kamar tidak langsung dikaitkan dengan satu faktor saja. Kinerja hotel juga dipengaruhi komposisi wisatawan, lama tinggal, musim kunjungan, negara asal, tambahan pasokan, serta strategi harga masing-masing operator.
Dengan demikian, pertumbuhan pasokan tidak otomatis menjadi masalah apabila permintaan dan segmentasi pasar dapat dikelola dengan baik. Tantangannya adalah memastikan penawaran hotel tetap sesuai dengan karakter permintaan dan daya beli wisatawan.
Pemesanan Semakin Dekat dengan Tanggal Kedatangan
Perubahan perilaku pemesanan juga menjadi tantangan bagi operasional hotel. Ferry menjelaskan bahwa jika sebelumnya wisatawan dapat memesan hotel di Bali sekitar 12 minggu sebelum kedatangan, kini rentang tersebut dapat memendek menjadi sekitar 4–6 minggu.
Wisatawan cenderung menunda keputusan karena menghadapi ketidakpastian yang lebih tinggi. Bagi hotel, perubahan ini mengurangi waktu untuk memperkirakan tingkat permintaan dan menentukan strategi harga.
“Karena semakin pendek booking window-nya, juga semakin rendah forecast visibility-nya,” ujar Ferry.
Ketidakpastian tersebut memengaruhi keputusan kapan hotel perlu menaikkan tarif, menawarkan promosi, atau membuka inventori kamar untuk dijual.
Dalam kondisi seperti ini, diskon agresif tidak selalu menjadi solusi. Penurunan harga yang terlalu cepat demi mengejar okupansi dapat menekan tarif tanpa menjamin tambahan pendapatan yang sepadan.
Ferry menekankan pentingnya disiplin pengelolaan pendapatan atau revenue management. Hotel dapat mengoptimalkan pendapatan melalui penawaran peningkatan kelas kamar, pengalaman bersantap, spa, dan paket aktivitas yang relevan dengan kebutuhan tamu.
Strategi tersebut membantu hotel mengejar nilai transaksi yang lebih besar dari setiap tamu, bukan hanya meningkatkan jumlah kamar yang terjual.
Pertumbuhan Pariwisata Perlu Diukur dari Manfaatnya
Prospek pariwisata Bali masih ditopang reputasi destinasi, kehadiran merek hotel internasional, serta daya tarik pengalaman wisata. Namun, pertumbuhan ke depan akan semakin bergantung pada kemampuan menjaga keseimbangan antara permintaan, pasokan akomodasi, infrastruktur, dan keberlanjutan lingkungan.
Bagi operator hotel, tantangannya adalah meningkatkan kualitas pendapatan melalui pengelolaan tarif, pengalaman tamu, serta sumber pendapatan di luar kamar. Bagi pengembang dan pemangku kebijakan, penambahan akomodasi perlu mempertimbangkan kapasitas kawasan dan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
Arah yang disoroti Colliers bukan meninggalkan target kunjungan wisatawan, melainkan melengkapinya dengan ukuran yang lebih luas. Lama tinggal, pengeluaran, kualitas pengalaman, dan distribusi manfaat ekonomi menjadi bagian penting dalam menilai keberhasilan pariwisata.
Dengan pendekatan tersebut, keberhasilan Bali tidak semata-mata ditentukan oleh berapa banyak wisatawan yang datang, tetapi juga oleh seberapa besar nilai yang dihasilkan tanpa mengorbankan kualitas destinasi yang menjadi daya tarik utamanya.
Daftar Perempuan Paling Berpengaruh di Asia 2026 Versi Fortune: 3 Tokoh Terkait Bisnis Properti
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com dan WA Channel





