Permintaan Lahan Industri Jakarta dan Sekitarnya Tembus 130,6 Hektare, Ini Pendorongnya

Penyerapan lahan industri mencapai 130,6 hektare pada Q3 2026. Investasi manufaktur, kebutuhan data center, serta aktivitas FMCG dan logistik turut mendorong permintaan, terutama di kawasan Bekasi dan Karawang.

Redaksi Properti Terkini
5 Min Read
Kawasan industri Kota Deltamas di Cikarang, Bekasi, menjadi bagian dari perkembangan pasar lahan industri di kawasan Greater Jakarta. (Foto: Dok. Kota Deltamas)

PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Pasar lahan industri Jakarta dan kawasan sekitarnya mencatat penyerapan mencapai 130,6 hektare sepanjang kuartal III 2026. Aktivitas manufaktur, terutama industri fiber optik dan baja, menjadi salah satu penggerak utama permintaan, diikuti kebutuhan lahan untuk data center, FMCG, dan logistik.

Berdasarkan laporan Jakarta Property Market Insight Q3 2026 dari Leads Property Services Indonesia, tambahan pasokan lahan industri tercatat sekitar 44 hektare. Dengan demikian, total pasokan kumulatif mencapai 14.091 hektare, sedangkan tingkat penjualan meningkat menjadi 92,3 persen.

Aktivitas pasar tersebut memperlihatkan tingginya kebutuhan lahan untuk mendukung kegiatan produksi dan infrastruktur bisnis. Permintaan juga terkonsentrasi di kawasan Greater Eastern Jakarta, terutama Karawang, dengan Bekasi menjadi salah satu wilayah yang mencatat tambahan pasokan.

banner-promo-kulkas-sharp-borderless-tempered-glass-mirror-door-j-tech-inverter

Manufaktur dan Data Center Dorong Permintaan Lahan Industri

Sektor manufaktur menjadi kontributor utama penyerapan lahan industri pada Q3 2026. Leads Property mencatat aktivitas permintaan terutama berasal dari industri fiber optik dan baja.

Selain manufaktur, data center mulai muncul sebagai salah satu kontributor signifikan terhadap transaksi lahan industri. Sejumlah kawasan industri tercatat menerima transaksi dari sektor tersebut, seiring meningkatnya kebutuhan terhadap fasilitas infrastruktur digital.

Permintaan juga berasal dari perusahaan FMCG (Fast-Moving Consumer Goods) dan logistik. Kedua sektor tersebut turut berkontribusi terhadap penyerapan lahan untuk mendukung aktivitas produksi, penyimpanan, serta distribusi barang.

Kombinasi kebutuhan manufaktur dan infrastruktur digital membuat profil permintaan lahan industri semakin beragam. Pengembang kawasan industri juga tetap aktif memperkenalkan inventaris lahan baru, terutama di Bekasi, untuk merespons potensi kebutuhan dari sektor manufaktur dan data center.

Bekasi dan Karawang Menjadi Fokus Pasar Industri

Dari sisi geografis, permintaan lahan industri masih terkonsentrasi di kawasan Greater Eastern Jakarta. Karawang menjadi salah satu wilayah yang paling menonjol dalam aktivitas penyerapan pada kuartal III 2026.

Sementara itu, Bekasi mencatat tambahan pasokan sekitar 44 hektare pada periode yang sama. Perkembangan tersebut membawa total ketersediaan lahan industri di seluruh wilayah cakupan riset menjadi 14.091 hektare.

Laporan Leads Property juga mencatat bahwa investasi dari China dan negara-negara Asia lainnya berkontribusi terhadap aktivitas pasar, khususnya pada sektor manufaktur. Arus investasi tersebut memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu tujuan pengembangan kegiatan produksi dan investasi regional.

Harga Lahan Industri dan Sewa Gudang Ikut Meningkat

Peningkatan aktivitas pasar turut diikuti pergerakan harga lahan industri. Pada Q3 2026, rata-rata harga lahan industri mencapai Rp3,37 juta per meter persegi atau meningkat 0,51 persen secara kuartalan.

Jakarta mencatat harga rata-rata tertinggi sebesar Rp5,73 juta per meter persegi, disusul Bekasi Rp3,83 juta per meter persegi. Sementara itu, harga rata-rata di Bogor mencapai Rp3,3 juta, Karawang dan Purwakarta Rp3 juta, Tangerang Rp3 juta, Cilegon Rp2,2 juta, serta Serang Rp2 juta per meter persegi.

Pasar pergudangan juga memperlihatkan perkembangan positif. Rata-rata tarif sewa gudang mencapai Rp77.000 per meter persegi per bulan, meningkat sekitar 1,5 persen dalam enam bulan terakhir.

Prospek Pasar Lahan Industri Menuju 2027

Leads Property mencatat realisasi investasi Indonesia sepanjang semester I 2026 mencapai sekitar Rp1.010 triliun atau hampir 50 persen dari target tahunan sebesar Rp2.041 triliun. Capaian tersebut turut menjadi bagian dari konteks aktivitas investasi yang mendukung pasar industri.

Untuk periode berikutnya, kawasan industri masih menerima permintaan dari sektor otomotif, tekstil, garmen, dan barang konsumsi. Sementara itu, data center diperkirakan tetap menjadi salah satu sektor yang masuk dalam radar pengembangan kawasan industri.

Kebutuhan lahan untuk data center juga memiliki karakteristik tersendiri. Leads Property mencatat bahwa harga lahan untuk kebutuhan tersebut berada pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan lahan industri reguler.

Dengan penyerapan 130,6 hektare dan tingkat penjualan kumulatif 92,3 persen pada Q3 2026, pasar lahan industri menjadi salah satu sektor properti dengan aktivitas permintaan paling menonjol dalam laporan Leads Property. Perkembangan manufaktur, infrastruktur digital, dan logistik menjadi faktor penting yang membentuk arah pasar tersebut menjelang 2027.

BACA JUGA:

Data Center Mulai Incar Kawasan Industri Semarang, Ini Pemicunya

***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com dan WA Channel

*** Baca berita lainnya di GoogleNews
——— KONTAK REDAKSI:
Telepon/WA: 0877 8386 2018
Email Redaksi: redaksi@propertiterkini.com
Email Iklan: iklan@propertiterkini.com
Share This Article
Leave a Comment