BERITA TERKAIT

Rebranding Hotel Makin Marak, Jakarta dan Bali Berebut Pasar Wisata Premium

Perlambatan pasar tidak menghentikan investasi di sektor perhotelan. Pengelola hotel justru mengandalkan rebranding, peningkatan kualitas, dan pengalaman menginap yang lebih personal untuk mempertahankan daya saing.

PropertiTerkini.com(JAKARTA) — Rebranding hotel menjadi salah satu strategi yang semakin banyak dipilih pelaku industri perhotelan di Indonesia. Di tengah pasar yang belum sepenuhnya pulih, pemilik hotel di Jakarta maupun Bali mulai mengalihkan fokus dari sekadar mengejar okupansi menuju peningkatan nilai aset dan profitabilitas.

Laporan terbaru Colliers Indonesia mencatat, sepanjang satu tahun terakhir sedikitnya lima hotel di Jakarta telah berganti merek atau menjalani reposisi bisnis.

Baca Juga: Peluang Sektor Perhotelan di Tengah Pelemahan Rupiah

Langkah tersebut mencerminkan perubahan strategi operator hotel dalam menyesuaikan diri terhadap pola permintaan yang terus berkembang.

Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, mengatakan tren tersebut tidak sekadar pergantian nama hotel, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan daya saing aset.

“Beberapa temuan utama dari fenomena rebranding hotel ini mencakup pergeseran dari volume ke profitabilitas, peningkatan nilai aset, reposisi melalui konsep yang diperbarui, serta adaptasi terhadap pola permintaan yang terus berubah,” ujar Ferry dalam keterangan tertulisnya.

Rebranding Hotel Dorong Persaingan Segmen Premium di Jakarta

Meskipun aktivitas Meeting, Incentive, Convention, Exhibition (MICE) mengalami perlambatan, pasar hotel Jakarta masih ditopang permintaan dari sektor pemerintahan dan korporasi.

Baca Juga: Mews dan SiteMinder Luncurkan Solusi Distribusi Hotel Terintegrasi Berbasis AI

Kondisi tersebut membuat pengembangan hotel kelas atas tetap berlangsung. Bahkan, sejumlah hotel memilih melakukan renovasi dan rebranding dibanding membangun proyek baru karena dinilai lebih efektif meningkatkan posisi di pasar.

Data Colliers menunjukkan hingga kuartal I-2026, inventaris hotel di Jakarta mencapai sekitar 49.106 kamar. Hotel bintang empat menjadi segmen terbesar dengan porsi sekitar 40 persen dari total pasokan.

Dalam beberapa tahun ke depan, tambahan pasokan hotel premium diperkirakan masih akan masuk ke pasar Jakarta. Konsekuensinya, persaingan antaroperator diperkirakan semakin ketat sehingga diferensiasi layanan menjadi faktor penting.

Bali Masih Menarik Investasi Hotel Mewah

Sementara itu, Bali tetap mempertahankan posisinya sebagai salah satu destinasi investasi hotel paling menarik di Indonesia.

Baca Juga: Hotel Hyatt Place Semarang Mulai Dibangun, Pertama di Jawa Beroperasi 2028

Pembukaan sejumlah hotel hasil rebranding selama kuartal pertama 2026 menjadi sinyal bahwa investor masih optimistis terhadap prospek jangka panjang industri pariwisata Pulau Dewata.

Colliers memperkirakan sekitar 1.623 kamar hotel bintang lima akan selesai dibangun sepanjang periode 2026 hingga 2029. Tambahan tersebut memperkuat dominasi Bali sebagai pasar utama pengembangan hotel mewah.

Namun, konsep kemewahan kini mengalami perubahan. Bukan lagi semata-mata ditentukan oleh ukuran bangunan atau jumlah fasilitas, melainkan pengalaman menginap yang lebih eksklusif dan personal.

Pengembangan hotel terbaru mulai mengedepankan konsep wellness, suasana retreat, hingga layanan yang dirancang sesuai preferensi tamu.

Baca Juga: Gedung Kantor Dekat MRT dan LRT Catat Tingkat Okupansi Lebih Tinggi

Pendekatan ini dinilai lebih relevan dengan karakter wisatawan generasi milenial dan Gen Z yang mencari pengalaman autentik selama bepergian.

Hotel Berbasis Pengalaman Diprediksi Lebih Tahan Menghadapi Perubahan Pasar

Harris Hotel & Convention Serpong di kawasan Summarecon Serpong Tangerang
Tampak eksterior Harris Hotel & Convention Serpong di kawasan Summarecon Serpong, Tangerang. Hotel yang terintegrasi dengan Summarecon Mall Serpong ini memiliki 282 kamar serta fasilitas konvensi berkapasitas hingga 1.500 orang. (Foto: Pius Klobor/PropertiTerkini.com)

Masih menurut Colliers, kemampuan beradaptasi menjadi salah satu faktor yang menentukan daya tahan bisnis hotel di tengah perubahan pasar.

Operator yang mampu melakukan rebranding secara tepat, meningkatkan efisiensi operasional, sekaligus membaca peluang dari segmen permintaan baru diperkirakan memiliki posisi yang lebih kuat dalam menjaga tingkat hunian maupun kinerja bisnis.

Baca Juga: Jakarta Masuk Top 5 Pusat Operasional Finansial APAC versi Colliers

Di tengah bertambahnya pasokan hotel premium, strategi diferensiasi berbasis pengalaman diperkirakan akan menjadi salah satu kunci utama memenangkan persaingan industri perhotelan dalam beberapa tahun mendatang.

***
Untuk berita santai yang tak kalah serumampir juga kePropertiPlus.com dan WA Chanel

*** Baca berita lainnya di GoogleNews
——— KONTAK REDAKSI:
Telepon/WA: 0821 2543 0279
Email Redaksi: redaksi@propertiterkini.com
Email Iklan: iklan@propertiterkini.com

BERITA TERBARU

Demo Half Page