BERITA TERKAIT

Indonesia Berpeluang Tarik Investasi Perusahaan Tiongkok, JLL Ungkap Alasannya

Indonesia dinilai semakin menarik sebagai tujuan ekspansi perusahaan Tiongkok di tengah strategi diversifikasi rantai pasok global. Riset JLL menyebut tren Tiongkok+1 berpotensi meningkatkan permintaan terhadap kawasan industri, gudang logistik, hingga ruang perkantoran di Tanah Air.

PropertiTerkini.com(JAKARTA) Investasi perusahaan Tiongkok di Indonesia diperkirakan terus meningkat seiring bergulirnya strategi diversifikasi rantai pasok global atau Tiongkok+1. Kondisi tersebut dinilai membuka peluang baru bagi pasar properti komersial, terutama kawasan industri, fasilitas logistik, ruang perkantoran, hingga pusat data.

Prospek tersebut disampaikan JLL dalam laporan riset Thriving Beyond: Corporate Real Estate Strategies for Chinese Companies Going Global. Laporan itu menyoroti perubahan pendekatan perusahaan-perusahaan Tiongkok yang kini tidak lagi hanya mengejar akses pasar internasional, tetapi juga membangun operasional global yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.

Baca Juga: Ekspansi Global Perusahaan Tiongkok Dorong Permintaan Commercial Real Estate

Di tengah perubahan tersebut, Indonesia mulai menempati posisi strategis sebagai salah satu negara tujuan investasi berkat kombinasi pasar domestik yang besar, pertumbuhan sektor manufaktur, serta pengembangan infrastruktur yang terus berlangsung.

Tren Tiongkok+1 Dorong Investasi Perusahaan Tiongkok di Indonesia

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak perusahaan manufaktur asal Tiongkok mulai mendiversifikasi lokasi produksi di luar negaranya. Strategi yang dikenal sebagai Tiongkok+1 dilakukan untuk memperkuat rantai pasok sekaligus mengurangi risiko operasional yang muncul akibat dinamika geopolitik maupun perubahan ekonomi global.

Menurut Farazia Basarah, Country Head JLL Indonesia, tren tersebut memberikan peluang pertumbuhan yang signifikan bagi Indonesia.

“Tren Tiongkok+1 terus membuka peluang pertumbuhan bagi Indonesia. Kami melihat semakin banyak perusahaan Tiongkok yang mempertimbangkan Indonesia sebagai basis produksi maupun pusat operasional regional, sehingga mendorong permintaan terhadap berbagai aset properti komersial, mulai dari kawasan industri dan fasilitas logistik hingga ruang perkantoran,” ujarnya.

Baca Juga: Investasi Properti Asia Pasifik Menguat, Data Center dan Kantor Jadi Incaran

Peningkatan aktivitas investasi tersebut diperkirakan akan menciptakan kebutuhan ruang usaha yang lebih beragam, tidak hanya untuk kegiatan produksi, tetapi juga distribusi, administrasi, serta layanan pendukung lainnya.

Kawasan Industri hingga Gudang Logistik Berpotensi Mendapatkan Dampak Positif

Masuknya perusahaan baru umumnya diikuti kebutuhan terhadap berbagai jenis aset properti komersial.

Kawasan industri menjadi salah satu sektor yang diperkirakan memperoleh manfaat terbesar karena menjadi lokasi utama pembangunan fasilitas manufaktur.

Selain itu, permintaan terhadap gudang logistik juga berpotensi meningkat untuk mendukung distribusi barang, baik bagi pasar domestik maupun ekspor.

Di sisi lain, kebutuhan ruang perkantoran tetap tumbuh sebagai pusat koordinasi bisnis, sementara perkembangan ekonomi digital turut membuka peluang bagi pengembangan data center dan infrastruktur digital lainnya.

Baca Juga: Menuju 2030, Investasi Data Center Global Tembus USD 3 Triliun, Indonesia Kian Dilirik Investor

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ekspansi investasi tidak hanya berdampak pada satu jenis properti, tetapi menciptakan efek berantai terhadap berbagai subsektor real estat komersial.

Keputusan Lokasi Menjadi Faktor Penentu Keberhasilan Investasi

Meski peluang pasar terbuka lebar, JLL mengingatkan bahwa ekspansi lintas negara tetap membutuhkan perencanaan yang matang.

Dalam risetnya, sebanyak 82 persen perusahaan Tiongkok mengaku menghadapi tantangan yang tidak terduga saat memilih lokasi bisnis di luar negeri. Hambatan tersebut berujung pada keterlambatan proyek, meningkatnya biaya investasi, hingga pemilihan lokasi yang kurang optimal.

Karena itu, perusahaan kini mulai menempatkan corporate real estate sebagai bagian dari strategi bisnis, bukan sekadar fungsi operasional.

Baca Juga: Tanrise Industrial Park Palembang Jadi Langkah Baru RISE Masuk Bisnis Kawasan Industri

Mulai dari analisis lokasi, pemahaman regulasi, riset pasar properti, hingga koordinasi desain dan konstruksi menjadi aspek yang semakin diperhatikan sebelum keputusan investasi dilakukan.

Pendekatan yang Lebih Strategis

JLL menilai pola ekspansi perusahaan Tiongkok saat ini menunjukkan tingkat kematangan yang berbeda dibanding beberapa tahun sebelumnya.

Semakin banyak perusahaan menyadari bahwa keberhasilan membangun operasi di luar negeri tidak hanya bergantung pada besarnya investasi, tetapi juga pada kemampuan memahami karakter pasar lokal.

Layanan yang paling banyak dibutuhkan meliputi pendampingan dalam pemilihan lokasi, interpretasi regulasi properti, riset pasar, hingga pengelolaan proyek konstruksi di negara tujuan.

Baca Juga: Luna Residences Tawarkan Pengalaman Tinggal Terintegrasi, Bukan Sekadar Hunian Premium di Bali

Menurut Daniel Yao, Head of Research China JLL, perubahan tersebut mencerminkan pergeseran fokus perusahaan.

“Semakin banyak perusahaan yang menyadari bahwa corporate real estate bukan hanya kebutuhan operasional, melainkan faktor strategis yang mendukung daya saing global mereka,” katanya.

Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal positif. Apabila tren Tiongkok+1 terus berlanjut, kebutuhan terhadap kawasan industri modern, fasilitas logistik, ruang perkantoran, dan aset komersial lainnya diperkirakan akan ikut meningkat, sekaligus membuka peluang investasi baru bagi sektor properti nasional.

***
Untuk berita santai yang tak kalah serumampir juga kePropertiPlus.com dan WA Chanel

*** Baca berita lainnya di GoogleNews
——— KONTAK REDAKSI:
Telepon/WA: 0821 2543 0279
Email Redaksi: redaksi@propertiterkini.com
Email Iklan: iklan@propertiterkini.com

BERITA TERBARU

Demo Half Page