BERITA TERKAIT

Pasar Properti Jakarta 2026 Bergerak Selektif, Retail dan Industri Menguat

Pasar properti Jakarta pada awal 2026 mulai menunjukkan pergerakan yang tidak merata antar sektor. Retail modern dan kawasan industri masih tumbuh positif, sementara apartemen dan rental apartment menghadapi tekanan akibat perubahan perilaku konsumen dan dinamika global.

PropertiTerkini.com(JAKARTA) — Pasar properti Jakarta pada kuartal pertama 2026 bergerak lebih selektif di tengah perubahan perilaku konsumen, tekanan global, serta penyesuaian strategi pelaku industri properti.

Laporan Jakarta Property Market Insight Q1 2026 dari Leads Property menunjukkan sektor retail dan kawasan industri masih menjadi penopang utama pertumbuhan pasar properti Jakarta.

Baca Juga: Rumah Tapak Suburban Kian Dilirik Gen Z dan Milenial, Pasar Apartemen Tertekan

Sementara itu, pasar apartemen dan rental apartment mulai menghadapi tekanan akibat perlambatan permintaan dan perubahan preferensi hunian.

Associate Director LEADS Property, Martin Samuel Hutapea mengatakan pasar properti saat ini bergerak lebih selektif dibanding beberapa tahun sebelumnya.

“Pasar masih bergerak, tetapi konsumen maupun investor sekarang jauh lebih rasional dalam mengambil keputusan. Faktor value, aksesibilitas, dan fleksibilitas menjadi pertimbangan utama,” ujarnya.

Retail Jakarta Tetap Tumbuh Positif

Segmen retail menjadi salah satu sektor yang masih menunjukkan performa positif pada awal 2026. Leads Property mencatat total supply retail Jakarta meningkat menjadi 3,58 juta meter persegi setelah beroperasinya Pondok Indah Mall 5 (PIM 5).

Permintaan retail juga meningkat sebesar 26.465 meter persegi dengan tingkat okupansi mencapai 90,6 persen.

Baca Juga: Investasi Properti Asia Pasifik Naik 15%, Jepang Pimpin Arus Modal

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh sektor F&B, fashion, lifestyle, serta ekspansi sejumlah brand asal China seperti Xiaomi, KKV, Chagee, Molly Tea, dan Top Toy.

Martin menilai retail modern kini tidak lagi hanya berfungsi sebagai pusat belanja, tetapi berkembang menjadi lifestyle destination yang lebih mengandalkan pengalaman konsumen.

“Mall sekarang lebih bertumpu pada experience dan lifestyle. Tenant mix juga mulai berubah mengikuti pola konsumsi generasi muda,” katanya.

Kawasan Industri Masih Jadi Primadona

Selain retail, sektor industrial-land masih menjadi segmen properti paling stabil pada awal tahun ini.

Leads Property mencatat total pasokan kawasan industri di Greater Jakarta meningkat menjadi 14.007 hektare dengan sales rate tetap tinggi di level 91,47 persen. Harga rata-rata lahan industri juga naik menjadi Rp3,15 juta per meter persegi.

Baca Juga: Hunian Luxury di Tangerang Tetap Laris, CBRE Ungkap Alasannya

Permintaan kawasan industri didorong oleh sektor data center, otomotif, FMCG, logistik, hingga manufaktur. Selain kawasan industri eksisting di Bekasi dan Karawang, investor mulai melirik area timur seperti Subang, Majalengka, dan Indramayu karena harga tanah dan biaya tenaga kerja yang lebih kompetitif.

Menurut Martin, industrial estate masih menjadi sektor properti dengan fundamental paling kuat di tengah kondisi pasar yang lebih berhati-hati.

“Permintaan dari sektor logistik, data center, dan manufaktur masih cukup aktif. Ini membuat kawasan industri tetap menarik bagi investor,” ujarnya.

Pasar Apartemen dan Rental Apartment Mulai Tertekan

Berbeda dengan retail dan industri, pasar apartemen Jakarta mulai menghadapi tekanan, terutama di segmen middle market.

Leads Property mencatat total penjualan apartemen pada Q1 2026 mencapai 216.268 unit dengan sales rate sebesar 83,2 persen. Namun, kenaikan permintaan hanya bertambah sekitar 202 unit dibanding kuartal sebelumnya.

Baca Juga: Saat Rupiah Melemah, Harga Rumah Sekunder Masih Naik di 11 Kota

Rata-rata harga apartemen Jakarta tercatat mencapai Rp28,10 juta per meter persegi, sementara kawasan CBD sudah menyentuh Rp59,06 juta per meter persegi.

Menurut Leads Property, sebagian pembeli muda mulai membandingkan apartemen dengan rumah tapak suburban yang menawarkan ruang lebih besar dan value yang lebih kompetitif.

Selain pasar kondominium, tekanan juga terlihat di segmen rental apartment. Leads Property mencatat total pasokan rental apartment Jakarta masih bertahan di level 11.067 unit, sementara tingkat okupansi turun menjadi 62,3 persen.

Martin mengatakan perubahan pola kerja hybrid dan meningkatnya preferensi terhadap rumah tapak suburban mulai memengaruhi pasar hunian vertikal di Jakarta.

“Konsumen sekarang lebih memperhatikan fungsi ruang, fleksibilitas, dan efisiensi biaya jangka panjang,” ungkapnya.

Office Market Mulai Stabil

Di sektor perkantoran, pasar office CBD Jakarta mulai menunjukkan pemulihan perlahan. Tingkat okupansi office CBD naik menjadi 73,7 persen dengan tambahan permintaan sebesar 24.325 meter persegi pada Q1 2026.

Baca Juga: Saat Ibu Makin Melek Finansial, Rumah Impian Lebih Mudah Dicapai

Permintaan terutama berasal dari sektor IT, perbankan, oil and gas, serta perusahaan logistik. Koridor Sudirman dan SCBD masih menjadi lokasi favorit tenant premium.

Sementara itu, pasar office outside CBD (OCBD) justru mengalami tekanan akibat perpindahan tenant ke kawasan CBD.

Tingkat okupansi OCBD turun menjadi 76 persen dengan negative net absorption sebesar 26.156 meter persegi.

Hotel Masih Terpengaruh Efisiensi dan Geopolitik

Harris Hotel & Convention Serpong di kawasan Summarecon Serpong Tangerang
Tampak eksterior Harris Hotel & Convention Serpong di kawasan Summarecon Serpong, Tangerang. Hotel yang terintegrasi dengan Summarecon Mall Serpong ini memiliki 282 kamar serta fasilitas konvensi berkapasitas hingga 1.500 orang. (Foto: Pius Klobor/PropertiTerkini.com)

Pasar hotel Jakarta juga menghadapi tantangan pada awal tahun ini. Tingkat okupansi hotel turun menjadi 51,52 persen dengan Average Daily Rate (ADR) sebesar Rp1,51 juta.

Menurut Leads Property, efisiensi anggaran pemerintah dan tensi geopolitik Timur Tengah ikut memengaruhi kinerja sektor hospitality, terutama dari sisi perjalanan bisnis dan wisatawan internasional.

Baca Juga: Pasar Properti Awal 2026: Logistik Melaju, Gudang Menguat, Apartemen Melambat

Meski demikian, pasar hotel masih berpeluang pulih seiring meningkatnya agenda konser, pameran, konferensi internasional, dan event berskala global di Jakarta sepanjang 2026.

***
Untuk berita santai yang tak kalah serumampir juga kePropertiPlus.com dan WA Chanel

*** Baca berita lainnya di GoogleNews
——— KONTAK REDAKSI:
Telepon/WA: 0821 2543 0279
Email Redaksi: redaksi@propertiterkini.com
Email Iklan: iklan@propertiterkini.com

BERITA TERBARU

Demo Half Page