BERITA TERKAIT

Rukita Tekan Intensitas Karbon 77% di Bawah Standar Global, Masuk Daftar Impact Story 2025 PBB

Hunian rendah karbon mulai menjadi perhatian di industri properti perkotaan. Rukita mencatat intensitas karbon 77% lebih rendah dari standar global dan masuk dalam daftar “Impact Story 2025”.

PropertiTerkini.com(JAKARTA) — Perusahaan proptech dan pengelola hunian coliving, PT Rukita Bhinneka Indonesia (Rukita) mencatatkan intensitas karbon rata-rata sebesar 13,1 kgCO₂ per meter persegi. Angka tersebut diklaim 77% lebih rendah dibandingkan standar global dan 11% di bawah tolok ukur nasional.

Pencapaian itu membuat Rukita masuk dalam publikasi “Impact Story 2025” yang diterbitkan UN Global Compact Network Indonesia atau IGCN.

Baca Juga: Perkuat Market Prop-Tech Indonesia, Rukita Akuisisi Infokost.id

Dalam laporan tersebut, Rukita menjadi satu-satunya perusahaan coliving dari Indonesia yang dinilai memiliki kontribusi nyata terhadap target pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

Rukita juga tercatat bersanding dengan sejumlah perusahaan besar seperti Sinar Mas Land, Pertamina, dan Wijaya Karya (WIKA) sebagai bagian dari 38 perusahaan terpilih dari total 179 anggota IGCN.

“Terpilihnya Rukita dalam Impact Story 2025 merupakan validasi penting bagi model bisnis kami. Terbukti bahwa kami berhasil menyediakan hunian berkualitas tinggi di perkotaan yang berjalan selaras dengan tanggung jawab lingkungan,” ujar Sabrina Soewatdy, CEO & Founder Rukita.

Menurut Sabrina, pendekatan keberlanjutan tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memberi nilai investasi jangka panjang bagi pemilik properti yang bekerja sama dengan Rukita.

Baca Juga: Rukita Rilis Fitur Mods untuk Professional, Content Creator dan Gamers

Rukita Klaim Bangun Standar Hunian Rendah Karbon

Salah satu proyek yang menjadi contoh penerapan strategi rendah karbon adalah Rukita Askara Tanah Abang. Properti tersebut mencatatkan intensitas karbon sebesar 9,37 kgCO₂/m².

Selain emisi karbon, efisiensi juga dilakukan pada penggunaan air. Konsumsi air harian penghuni tercatat sekitar 147 liter per orang, lebih rendah dibanding rata-rata nasional sebesar 161 liter dan standar global sekitar 150 liter per hari.

Rukita menyebut pencapaian itu berasal dari kolaborasi antara pemilik properti, penghuni, dan tim operasional di lapangan.

Dalam operasionalnya, seluruh unit Rukita (100%) kini menggunakan lampu LED hemat energi. Perusahaan juga mulai mengintegrasikan pemanas air tenaga surya di sekitar 22% portofolionya.

Baca Juga: TRINLAND Akuisisi Prime Land: Targetkan 3 Sumber Pendapatan Berulang dari Sektor Hospitality

Di sisi lain, teknologi pemantauan operasional berbasis real-time diterapkan untuk mengontrol penggunaan energi dan sumber daya agar lebih efisien tanpa mengurangi kenyamanan penghuni.

Strategi ESG Dinilai Mulai Jadi Nilai Tambah Properti

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap aspek ESG (Environmental, Social, and Governance), efisiensi energi mulai dipandang sebagai faktor penting dalam industri properti dan hunian sewa.

Rukita menyebut audit emisi karbon dilakukan secara transparan, mencakup Lingkup 1, 2, dan 3. Langkah tersebut dinilai membantu perusahaan menjaga efisiensi operasional sekaligus meningkatkan daya saing aset properti di masa depan.

Baca Juga: Padukan Hunian dengan Co-Living, Sinar Mas Land Hadirkan Klaster de Silva di Kota Deltamas Cikarang

Interior kamar coliving modern Rukita
Interior kamar Rukita dirancang untuk mendukung gaya hidup urban modern dengan konsep efisiensi energi dan kenyamanan penghuni. (Foto: Dok. Rukita)

“Pencapaian ini membuktikan bahwa efisiensi karbon dan profitabilitas bisnis bukan merupakan dua hal yang terpisah. Di Rukita, kami mengintegrasikan teknologi hijau bukan hanya untuk menjaga bumi, tetapi untuk memastikan aset para mitra pemilik properti tetap relevan, efisien, dan memiliki daya saing tinggi di pasar masa depan,” terang Sabrina.

Rukita sendiri resmi bergabung dengan United Nations Global Compact sejak Juli 2025. Sejak saat itu, perusahaan memperkuat kerangka ESG dengan mengadopsi sejumlah praktik keberlanjutan global melalui jaringan IGCN.

Baca Juga: Matera Lakeside Gading Serpong Diluncurkan, 25 Rumah Premium di Tepi Danau Cihuni Mulai Rp6,9 Miliar

Langkah ini sekaligus memperlihatkan perubahan arah industri properti perkotaan. Kini, ukuran inovasi tidak lagi hanya soal okupansi dan pertumbuhan bisnis, tetapi juga bagaimana sebuah hunian mampu menekan dampak lingkungan.

***
Untuk berita santai yang tak kalah serumampir juga kePropertiPlus.com dan WA Chanel

*** Baca berita lainnya di GoogleNews
——— KONTAK REDAKSI:
Telepon/WA: 0821 2543 0279
Email Redaksi: redaksi@propertiterkini.com
Email Iklan: iklan@propertiterkini.com

BERITA TERBARU

Demo Half Page