BERITA TERKAIT

Ketika Inspirasi Hannah Sunito Menjadi Ruang Inklusi One Muse

Berangkat dari perjalanan Hannah Sunito, One Muse hadir di Green Square, Sydney, sebagai kafe, bar, galeri seni, sekaligus platform social enterprise yang membawa visi inklusi Sunito Foundation ke dalam ruang nyata.

PropertiTerkini.com(SYDNEY) — Sebuah kisah personal tentang seni dan ketekunan kini berkembang menjadi sebuah ruang yang lebih besar. One Global Resorts Green Square memperkenalkan One Muse, sebuah kafe, bar, galeri seni, dan platform social enterprise yang dibangun untuk membuka ruang kreativitas sekaligus peluang bagi individu dengan kebutuhan belajar khusus.

One Muse merupakan bagian dari visi Sunito Foundation, yang ingin melihat setiap individu berdasarkan potensi yang dapat dikembangkan.

Baca Juga: Iwan Sunito Gandeng Koichi Takada Bangun Five Dock, Proyek Mixed-Use Rp25 Triliun di Sydney

Platform ini diarahkan bukan hanya sebagai tempat untuk menikmati seni, tetapi juga sebagai ruang bagi anak-anak, generasi muda, dan orang dewasa dengan kebutuhan belajar khusus untuk mengembangkan kepercayaan diri, keterampilan, hingga peluang profesional.

Gagasan tersebut berawal dari Hannah Sunito, putri kedua Iwan Sunito, Founder dan CEO One Global Resorts.

Hannah merupakan anak dengan kebutuhan belajar khusus yang tumbuh melalui berbagai tantangan, dukungan keluarga, serta kecintaannya terhadap seni. Perjalanan tersebut kemudian membawanya berkembang sebagai seorang seniman.

Karya Hannah telah dipamerkan di sejumlah lokasi di Sydney, termasuk kegiatan amal dan pameran kelompok seperti Randwick Art Society Annual Art Show.

Pada 2021, Hannah memenangkan kategori lukisan minyak/akrilik dalam Randwick Art Society Annual Exhibition. Ia juga telah menggelar pameran tunggal pertamanya.

Kini, Hannah menjabat sebagai CEO One Muse dan terlibat dalam membentuk sekaligus mengarahkan bisnis serta misi sosial yang dibawa platform tersebut.

Baca Juga: One Global Capital Tambah Portofolio Hotel AUD 25 Juta di Parramatta, Bidik Pasar Bisnis dan Liburan Sydney

“Visi utama Sunito Foundation sebenarnya sederhana: setiap orang berhak dilihat berdasarkan apa yang dapat mereka capai, bukan dari hal-hal yang menjadi tantangan bagi mereka,” ujar Iwan Sunito.

Menurut Iwan, One Muse memang berawal dari Hannah, tetapi platform tersebut tidak dirancang hanya untuk menjadi kisah tentang putrinya.

Perjalanan Hannah justru menjadi titik awal untuk membuka kesempatan bagi lebih banyak individu dengan kebutuhan belajar khusus.

“Hannah mungkin merupakan muse pertama, tetapi kami berharap ia dapat menginspirasi ribuan muse lainnya,” kata Iwan.

Baca Juga: Jejak Perjalanan Anak Senen: Chandra Leonardi dan Asa CVIG Menembus Pasar Properti Sydney

One Muse Membuka Ruang Bagi Seni, Pekerjaan dan Kewirausahaan

Konsep One Muse dikembangkan lebih jauh dari sebuah galeri seni.

Di dalamnya terdapat ruang untuk pameran dan penjualan karya, workshop, kolaborasi kreatif, hingga peluang pekerjaan. Karya seni yang dihasilkan juga dapat disewakan untuk perkantoran, hotel, proyek properti, maupun berbagai acara.

Pendekatan tersebut menempatkan seni sebagai bagian dari ekosistem ekonomi. Tujuannya bukan sekadar memberikan ruang untuk memajang karya, tetapi membantu individu membangun kepercayaan diri, identitas profesional, penghasilan, dan rasa memiliki terhadap komunitas.

Bagi Sunito Foundation, inklusi membutuhkan bentuk yang lebih konkret.

“Inklusi atau pemerataan sosial tidak dapat berhenti pada kata-kata atau kegiatan yang hanya dilakukan sesekali. Dia juga harus menciptakan platform yang nyata, tanggung jawab yang sesungguhnya, penghasilan yang memadai, serta kepercayaan diri untuk ikut berpartisipasi,” jelas Iwan.

Baca Juga: 100 Tahun Ingvar Kamprad: Filosofi Sederhana yang Diam-Diam Mengubah Cara Orang Indonesia Menata Rumah

One Muse juga ingin berjalan bersama keluarga. Dengan begitu, keluarga dapat melihat bahwa kreativitas dan kemampuan anak memiliki nilai yang dapat dikembangkan menjadi bagian dari masa depan.

Dari One Muse Menuju One Muse Art Street

One Muse menjadi tahap awal dari rencana yang lebih luas.

Sunito Foundation menyiapkan konsep One Muse Art Street, yang diarahkan untuk membawa aktivitas seni keluar dari ruang galeri menuju jalan dan ruang publik di sekitar One Global Resorts dan Green Square Library.

Konsep tersebut terinspirasi dari art street dan piazza di Eropa serta Italia.

Ruang publik tersebut direncanakan dapat menjadi tempat untuk live painting, pameran seni, musik, pertunjukan, workshop, outdoor dining, dan kegiatan komunitas.

Baca Juga: Cap Rate Asia Pasifik Stabil, Investor Makin Selektif Pilih Aset

Jika terealisasi, One Muse Art Street akan memperluas ekosistem yang sedang dibangun One Muse. Seniman, musisi, penampil, keluarga, sekolah, pelaku usaha, warga, dan pengunjung dapat bertemu dalam satu ruang kreatif.

Saat ini, One Muse bersama Pemerintah Kota Sydney tengah mendiskusikan peluang pemanfaatan jalan dan ruang publik tersebut sebagai ruang seni, dengan tetap mengikuti regulasi yang berlaku.

“Jalan memiliki arti penting karena seni tidak seharusnya tersembunyi di dalam satu ruangan. Kami ingin kreativitas dan kesempatan menjadi bagian dari kehidupan publik sehari-hari,” ujar Sunito.

Dalam jangka panjang, One Muse dan One Muse Art Street diharapkan menjadi salah satu representasi Sunito Foundation dalam menghubungkan seni, komunitas, dunia usaha, keluarga, sekolah, dan berbagai organisasi kreatif.

Baca Juga: Dulu Bertaruh Nyawa 3 Jam di Tebing Terjal, Sky School Bus Yunnan Kini Antar Anak ke Sekolah dalam 30 Menit

Kinerja Hotel Menopang Misi Sosial One Muse

Pengembangan One Muse juga memiliki fondasi bisnis yang berasal dari kinerja One Global Resorts Green Square.

Sepanjang Januari hingga Juni 2026, hotel bintang lima tersebut mencatat rata-rata tingkat okupansi 95,07 persen, dengan pendapatan kotor sekitar AUD5,6 juta.

Berdasarkan laporan STR (Smith Travel Research) yang tercantum dalam materi perusahaan, One Global Resorts Green Square juga berada pada posisi market leader di kelasnya.

Hotel tersebut menerima Tripadvisor Travelers’ Choice Best of the Best 2026, penghargaan tahunan Tripadvisor yang dalam dokumen disebut hanya diberikan kepada kurang dari 1 persen properti di seluruh dunia.

Baca Juga: Pajak Properti Singapura Naik 60%, Batam dan Johor Jadi Opsi Alternatif

One Global Resorts Green Square juga tercatat berada di peringkat ke-12 dari 196 hotel di Sydney berdasarkan Tripadvisor.

Bagi Iwan, performa bisnis dan tujuan sosial bukan dua hal yang harus berjalan sendiri-sendiri.

“Bagi kami, keberhasilan komersial dan tujuan sosial seharusnya bisa saling mengisi. Bisnis yang berkelanjutan memberikan kemampuan bagi sebuah visi untuk bertahan, berkembang, dan menciptakan peluang dari tahun ke tahun,” ungkapnya.

Peluncuran One Muse berlangsung ketika aktivitas pariwisata Sydney masih menunjukkan permintaan yang kuat. Dalam periode satu tahun hingga Maret 2026, Sydney menerima 67,5 juta kunjungan wisatawan, dengan total belanja wisatawan mencapai AUD34,7 miliar. Sebanyak AUD13,9 miliar berasal dari wisatawan internasional.

Baca Juga: Dukung Ekonomi Syariah, Pesona Prima 9 Cikahuripan Gelar Akad Massal Rumah Subsidi Bersama BSN

Green Square Menjadi Panggung Berikutnya

Dari perspektif kawasan, lokasi One Muse menjadi bagian penting dari konsep yang dibangun.

One Global Resorts Green Square terhubung langsung dengan jaringan kereta Sydney melalui Green Square Station. Dalam materi perusahaan, hotel ini disebut sebagai satu-satunya hotel bintang lima di Sydney yang memiliki akses langsung ke jaringan kereta kota.

Konektivitas tersebut memberi One Muse posisi yang menarik. Aktivitas hospitality, seni, dan komunitas tidak ditempatkan di lokasi yang terpisah dari kehidupan kota, tetapi berada di kawasan yang memiliki akses transportasi publik dan aktivitas urban.

Rencana One Muse Art Street kemudian membawa gagasan tersebut satu langkah lebih jauh: menjadikan seni sebagai bagian dari pengalaman ruang publik.

Baca Juga: Edenhaus Serpong Hadir, Rumah Garden Home Mulai Rp1,2 Miliar

Karya seni dipamerkan dalam One Muse sebagai bagian dari ruang inklusi Sunito Foundation
Karya seni menjadi bagian dari visi One Muse untuk membuka ruang kreativitas dan inklusi bagi individu dengan kebutuhan belajar khusus. (Foto: Dok. One Muse)

Pada akhirnya, perjalanan One Muse kembali pada gagasan yang melahirkannya.

Hannah menjadi inspirasi pertama. One Muse menjadi ruangnya. Dan melalui Sunito Foundation, ruang tersebut diproyeksikan berkembang menjadi platform yang lebih luas bagi talenta-talenta lain untuk mendapatkan kesempatan, membangun kepercayaan diri, memperoleh penghasilan, dan menemukan tempatnya di tengah komunitas.

“Ini baru permulaan,” tegas Sunito.

Baca Juga: Berawal dari Candaan Sang Ayah, Kini Iwan Sunito Kelola Proyek Hingga Rp25 Triliun

Harapannya, talenta dapat berkembang menjadi kepercayaan diri, kemudian membuka peluang menuju kemandirian. One Muse menjadi langkah awal dari visi tersebut—sebelum gagasan itu bergerak lebih jauh ke ruang-ruang publik di sekitar Green Square.

***
Untuk berita santai yang tak kalah serumampir juga kePropertiPlus.com dan WA Chanel

*** Baca berita lainnya di GoogleNews
——— KONTAK REDAKSI:
Telepon/WA: 0821 2543 0279
Email Redaksi: redaksi@propertiterkini.com
Email Iklan: iklan@propertiterkini.com

BERITA TERBARU

Demo Half Page