BERITA TERKAIT

Menakar Potensi Roselands, ‘Hidden Gem’ Rumah Tapak Sydney untuk Investor Indonesia

Keterbatasan lahan matang dan ketatnya geografi Sydney mendorong pergeseran tren hunian landed. Kawasan suburban Roselands hadir menawarkan kombinasi aksesibilitas, komunitas keluarga, dan pasokan yang kian terbatas bagi investor Indonesia.

PropertiTerkini.com(SYDNEY) — Pasar properti di Sydney, Australia, tengah menghadapi tantangan klasik yang kian meruncing: keterbatasan lahan matang untuk pengembangan rumah tapak (landed housing).

Sebagai kota metropolitan terbesar di Negeri Kanguru, Sydney terbentang dalam himpitan batas-batas alam yang kaku. Kondisi ini membuat ketersediaan tanah kosong baru di dekat pusat kota kian langka dan mengarahkan pencarian hunian ke kawasan suburban.

Baca Juga: Siasat CVIG Garap Pasar Properti Indonesia di Tengah Kelangkaan Hunian Sydney

Pemerintah New South Wales (NSW) melalui panduan tata kota The Sydney Plan telah memfokuskan pembangunan hunian vertikal seperti apartemen dan kondominium di area pusat kota dan wilayah timur.

Sementara itu, kawasan barat, barat daya, dan selatan dialokasikan untuk pusat kegiatan ekonomi baru serta pengembangan rumah tapak dan townhouse.

Situasi kelangkaan ini menjadi perhatian serius bagi investor maupun pembeli properti asal Indonesia yang membidik hunian landed di Sydney.

Bentang Alam Pembatas dan Paradoks Lahan Sydney

Kondisi geografis Sydney memang terbilang unik karena dikelilingi oleh benteng alam mutlak. Di sebelah timur terbentang Samudra Pasifik, utara dibatasi Taman Nasional Ku-ring-gai Chase dan Sungai Hawkesbury, selatan diapit Taman Nasional Royal dan Woronora, serta sebelah barat berdiri kokoh Pegunungan Blue Mountains.

Eksplorasi lahan kosong berskala besar dalam radius 30 menit dari Sydney Harbour praktis hampir habis terurbanisasi.

Pembangunan yang terdorong terlalu jauh ke pinggiran luar—seperti area Penrith, Wilton, hingga Marsden Park yang berjarak 50–70 kilometer dari Sydney CBD—membawa konsekuensi meningkatnya durasi perjalanan harian serta tingginya biaya pembangunan infrastruktur pendukung.

Baca Juga: Jejak Perjalanan Anak Senen: Chandra Leonardi dan Asa CVIG Menembus Pasar Properti Sydney

Director & CEO Capital Value International Group (CVIG), Chandra Leonardi, menjelaskan bahwa dinamika ini menciptakan nilai kelangkaan tersendiri bagi pasar rumah tapak di Sydney.

Kelangkaan properti Sydney bukan hanya persoalan tingginya permintaan, tetapi juga keterbatasan geografis yang membuat kota ini sulit terus berkembang ke luar,” kata Chandra melalui pernyataan resminya, dikutip, Senin (7/9/2026).

Menurutnya, pertanyaan mendasar bagi investor saat ini adalah berapa banyak lahan yang masih dapat dikembangkan di lokasi ideal dan seberapa besar akses yang dapat dimanfaatkan oleh pembeli asing.

Pembatasan Regulasi dan Fenomena ‘Rare Investment’

Bagi pembeli internasional asal Indonesia, ruang gerak transaksi properti di Australia diatur secara khusus. Pembeli asing umumnya hanya diperbolehkan membeli properti unit baru atau proyek yang dibeli secara off-the-plan.

Baca Juga: Ketika Inspirasi Hannah Sunito Menjadi Ruang Inklusi One Muse

Ketika pasokan tanah di kawasan suburban matang tidak bisa diciptakan kembali, hadirnya proyek rumah tapak baru di lokasi strategis menjadi sebuah rare investment opportunitypeluang investasi langka yang belum tentu berulang di lokasi yang sama.

Sebagian besar wilayah dekat pusat kota kini mengandalkan model infill development, peremajaan kota (urban renewal), dan padat hunian vertikal di sepanjang koridor transportasi utama.

Hal ini menjadikan setiap kehadiran hunian landed baru di area suburban terdekat sebagai komoditas yang diperebutkan.

Roselands: Alternatif Strategis di Barat Daya Sydney

Di tengah melambungnya harga properti di area ternama seperti Sydney CBD, Eastern Suburbs, maupun Northern Beaches, perhatian pasar mulai bergeser ke area yang belum terlalu tersorot namun memiliki basis fundamental kuat, salah satunya Roselands.

Terletak di koridor Barat Daya Sydney, Roselands berjarak sekitar 20 hingga 30 menit berkendara dari Sydney CBD. Kawasan ini didominasi oleh lingkungan residensial yang tenang dengan karakter komunitas keluarga yang mapan.

Baca Juga: Cap Rate Asia Pasifik Stabil, Investor Makin Selektif Pilih Aset

Fasilitas publik di kawasan ini juga tergolong lengkap. Pusat aktivitas komersial bertumpu pada Roselands Shopping Centre yang telah beroperasi sejak 1965.

Dari sisi konektivitas, kawasan ini terhubung secara langsung melalui jaringan bus, akses stasiun kereta, serta koridor jalan tol Motorway M5 dan M8 yang memudahkan mobilitas harian warga menuju pusat kota maupun kawasan industri sekitar.

Profil Demografi dan Fundamental Pertumbuhan Jangka Panjang

Desain interior modern rumah tapak Sydney di kawasan Roselands dengan ruang keluarga berkonsep terbuka dan jendela kaca besar.
Tampilan interior modern salah satu hunian rumah tapak di Roselands, Sydney, yang menawarkan kenyamanan hunian keluarga dengan pencahayaan alami alami. (Foto: Dok. CVIG)

Salah satu indikator utama stabilitas investasi properti di Roselands terletak pada komposisi demografinya. Berdasarkan data statistik setempat, lebih dari 53 persen hunian di Roselands diisi oleh pasangan keluarga dengan anak.

Tingkat kepemilikan rumah (owner-occupier) mencapai sekitar 70 persen, sementara porsi penyewa berada di angka 30 persen.

Dominasi pemilik rumah yang menghuni properti mereka sendiri menunjukkan bahwa permintaan kawasan ini digerakkan oleh kebutuhan riil tempat tinggal jangka panjang, bukan semata-mata transaksi spekulatif atau siklus investasi jangka pendek.

Baca Juga: Pajak Properti Singapura Naik 60%, Batam dan Johor Jadi Opsi Alternatif

Pasar di Roselands juga tergolong tightly held, yakni kondisi di mana sebagian besar pemilik cenderung mempertahankan properti mereka dalam rentang waktu yang lama. Akibatnya, pasokan unit rumah tapak yang diperjualbelikan secara aktif di pasar relatif terbatas.

Kombinasi antara permintaan riil keluarga yang konsisten, tingkat kepemilikan tinggi, dan keterbatasan pasokan unit inilah yang membentuk dinamika supply-demand yang sehat bagi potensi capital growth jangka panjang.

“Bagi pembeli Indonesia, Roselands menawarkan sesuatu yang semakin sulit ditemukan di Sydney, yakni kesempatan memiliki properti landed di kawasan metropolitan dengan akses yang relatif dekat ke CBD, namun tetap memiliki karakter lingkungan keluarga yang sangat residential,” pungkas Chandra.

Baca Juga:

Iwan Sunito Gandeng Koichi Takada Bangun Five Dock, Proyek Mixed-Use Rp25 Triliun di Sydney

***
Untuk berita santai yang tak kalah serumampir juga kePropertiPlus.com dan WA Channel

*** Baca berita lainnya di GoogleNews
——— KONTAK REDAKSI:
Telepon/WA: 0821 2543 0279
Email Redaksi: redaksi@propertiterkini.com
Email Iklan: iklan@propertiterkini.com

BERITA TERBARU

Demo Half Page