PropertiTerkini.com, (SYDNEY) — Investasi properti Sydney semakin relevan untuk dibaca dari perspektif yang lebih luas. Daya tarik kota terbesar di Australia tersebut bukan hanya terletak pada aset properti, tetapi juga pada konektivitas, aktivitas bisnis, pariwisata, pendidikan, hospitality, dan kemampuan kota menarik talenta dari berbagai negara.
Pandangan tersebut disampaikan Iwan Sunito, Founder dan CEO One Global, setelah sejumlah tokoh Indonesia berkunjung ke Sydney sepanjang September 2026. Kunjungan itu datang dari latar belakang bisnis, pemerintahan, ekonomi, olahraga, hingga industri kreatif.
Baca Juga: Ketika Inspirasi Hannah Sunito Menjadi Ruang Inklusi One Muse
Bagi Iwan, keberagaman aktivitas tersebut memperlihatkan karakter Sydney sebagai kota global yang terus menjadi titik temu modal, gagasan, talenta, dan peluang lintas negara.
“Sydney bukan hanya tentang pemandangan yang indah atau gaya hidup. Bagi banyak orang, Sydney adalah tempat untuk bertemu, bertukar gagasan, melihat peluang, dan memahami bagaimana sebuah kota global terus berkembang,” ujarnya.
Perspektif tersebut menarik jika dikaitkan dengan pasar properti. Dalam membaca sebuah investasi, nilai sebuah aset tidak sepenuhnya berdiri sendiri. Performa kawasan, konektivitas, aktivitas ekonomi, serta daya tarik kota bagi penghuni dan pelaku bisnis ikut membentuk konteks investasi.
Investasi Properti Sydney Bergantung pada Ekosistem Kota
Salah satu kunjungan yang menjadi bagian dari rangkaian tersebut adalah kedatangan Sandiaga Uno bersama delegasi Surabaya Business Forum.
Kunjungan tersebut berkaitan dengan Sydney Business Insights & Mini Marathon, yang mempertemukan komunitas bisnis Indonesia dengan berbagai pembahasan mengenai bisnis, investasi, pariwisata, dan perkembangan Sydney.
Baca Juga: Iwan Sunito Bawa World Roadshow ke Indonesia, Bahas Peluang Bisnis dan Properti Australia
Iwan menerima kunjungan tersebut di One Global Resorts Green Square. Pertemuan itu juga memiliki dimensi personal karena keduanya telah saling mengenal sejak Iwan mengenal Sandiaga ketika masih menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta.
Menurut Iwan, komunitas bisnis yang datang ke Sydney tidak semata-mata mencari informasi mengenai bangunan atau properti.
Ada pertanyaan yang lebih luas mengenai bagaimana ekonomi kota bergerak, bagaimana infrastrukturnya berkembang, bagaimana masyarakatnya bertumbuh, serta peluang bisnis apa yang muncul dari perkembangan tersebut.
Cara pandang ini menjadi relevan dalam membaca investasi properti Sydney. Lokasi sebuah properti dapat menjadi faktor penting, tetapi daya tarik kawasan juga berkaitan dengan aktivitas yang berlangsung di sekitarnya.
Kunjungan lain dilakukan Mari Elka Pangestu, mantan Menteri Perdagangan dan mantan Managing Director of Development Policy and Partnerships World Bank, yang berada di Sydney dalam rangka mengikuti Sydney Marathon.
Sementara dari sektor industri kreatif, aktor Joe Taslim tercatat menginap di One Global Resorts Green Square bersama timnya.
Baca Juga: Siasat CVIG Garap Pasar Properti Indonesia di Tengah Kelangkaan Hunian Sydney
Ketiga kunjungan tersebut memiliki tujuan berbeda. Namun, menurut Iwan, semuanya memperlihatkan satu karakter yang sama: Sydney tetap menjadi kota yang menarik bagi orang dengan kebutuhan dan kepentingan yang beragam.
Bagi pasar properti, keberagaman aktivitas semacam ini dapat menjadi bagian dari cara membaca daya tarik sebuah kawasan. Kota yang menjadi tujuan bisnis, wisata, olahraga, pendidikan, dan aktivitas profesional memiliki ekosistem penggunaan ruang yang lebih beragam.

Apa yang Membuat Properti Sydney Menarik bagi Investor?
Iwan melihat daya tarik Sydney melalui sejumlah elemen yang saling berkaitan.
Infrastruktur, konektivitas internasional, pendidikan, pariwisata, lifestyle, dan lingkungan bisnis disebut sebagai bagian dari pertimbangan ketika seseorang melihat peluang investasi di kota tersebut.
Dengan pendekatan tersebut, properti menjadi bagian dari sistem perkotaan yang lebih besar.
Investor tidak hanya mempertanyakan berapa harga sebuah aset. Ada pula pertanyaan mengenai siapa pengguna aset tersebut, bagaimana akses menuju kawasan, aktivitas ekonomi apa yang tersedia, serta seberapa kuat permintaan terhadap kawasan dalam jangka panjang.
“Investor saat ini tidak hanya melihat sebuah aset. Mereka juga melihat kotanya,” kata Iwan.
Bagi sektor hospitality, misalnya, tingkat kunjungan dan aktivitas bisnis dapat berkaitan dengan permintaan kamar. Sementara pada kawasan mixed-use, keberadaan retail, hunian, fasilitas komersial, serta akses transportasi dapat membentuk daya tarik kawasan.
Karena itu, membaca properti Sydney tidak cukup hanya melalui harga atau jenis aset. Konteks kawasan menjadi bagian penting dalam analisis.
One Global Resorts Green Square Catat Okupansi 95,07 Persen
Gambaran mengenai aktivitas hospitality Sydney juga terlihat dari kinerja One Global Resorts Green Square.
Menurut data internal perusahaan, hotel bintang lima tersebut mencatat rata-rata okupansi 95,07 persen sepanjang Januari hingga Juni 2026. Pada periode yang sama, gross income tercatat sekitar AU$10,8 juta.
Properti tersebut juga memperoleh penghargaan Travelers’ Choice Best of the Best 2026 dari Tripadvisor dan berada di posisi ke-11 dari 195 hotel di Sydney, berdasarkan keterangan perusahaan.
Baca Juga: Menakar Potensi Roselands, ‘Hidden Gem’ Rumah Tapak Sydney untuk Investor Indonesia
Angka tersebut memberikan gambaran mengenai performa operasional hotel pada periode Januari–Juni 2026. Namun, performa hospitality tentu hanya salah satu indikator dalam membaca sebuah investasi properti.
Kondisi kawasan, struktur biaya, karakter aset, profil pengguna, serta prospek permintaan tetap menjadi faktor yang perlu diperhitungkan ketika menilai sebuah properti.
Bagi Iwan, angka tersebut memiliki konteks yang lebih luas.
“Di balik angka tersebut, ada orang yang datang, tinggal, bekerja, bertemu, dan menikmati Sydney,” tegas Iwan.
Dengan kata lain, performa sebuah properti juga berkaitan dengan aktivitas kota yang menopangnya.
Hubungan Indonesia-Australia Membuka Ruang Koneksi Bisnis
Hubungan Indonesia dan Australia menjadi bagian lain dari perspektif Iwan mengenai Sydney.
Sebagai pengusaha kelahiran Indonesia yang membangun karier dan bisnis di Australia, Iwan melihat meningkatnya kedatangan masyarakat Indonesia ke Sydney sebagai bagian dari koneksi lintas negara.
Baca Juga: Cap Rate Asia Pasifik Stabil, Investor Makin Selektif Pilih Aset
Koneksi tersebut tidak hanya berlangsung melalui perdagangan dan investasi, tetapi juga melalui hubungan antarmasyarakat atau people-to-people connection.
Bagi investor Indonesia yang mempertimbangkan pasar luar negeri, koneksi seperti ini menjadi konteks yang menarik untuk diperhatikan.
Pemahaman terhadap karakter kota, pola mobilitas, lingkungan bisnis, kebutuhan pengguna, dan perkembangan kawasan dapat melengkapi analisis terhadap aset yang akan dipertimbangkan.
Investasi Properti Sydney dan Cara Membaca Kota Global
Pasar properti pada dasarnya tidak bergerak dalam ruang hampa. Perubahan ekonomi, suku bunga, permintaan, regulasi, hingga perilaku pengguna dapat memengaruhi performa aset.
Namun, narasi yang disampaikan Iwan menempatkan kualitas kota sebagai salah satu faktor jangka panjang.
Menurutnya, kondisi pasar dapat berubah dan ekonomi dapat mengalami siklus. Kota dengan fundamental yang kuat perlu memiliki kemampuan beradaptasi agar tetap menarik bagi talenta, modal, wisatawan, pelaku usaha, dan investor.

Dalam konteks investasi properti Sydney, perspektif tersebut memberikan cara membaca pasar yang lebih komprehensif.
Bukan hanya mencari properti yang terlihat menarik, tetapi memahami mengapa orang datang ke sebuah kota, mengapa orang tinggal di sana, aktivitas apa yang membuat kawasan terus bergerak, dan bagaimana ekosistem tersebut mendukung nilai sebuah aset.
Sydney, dalam pandangan Iwan, memiliki karakter tersebut.
“Orang datang tidak hanya untuk melihat Sydney, tetapi untuk menjadi bagian dari kota ini—bisa hanya untuk beberapa hari, beberapa bulan, atau jangka panjang,” ungkapnya.
Pada akhirnya, daya tarik investasi sebuah kota tidak hanya tercermin dari bangunan yang berdiri di atas lahannya. Aktivitas ekonomi dan sosial yang berlangsung di sekitarnya turut membentuk cerita mengenai nilai sebuah kawasan.
Baca Juga:
Pajak Properti Singapura Naik 60%, Batam dan Johor Jadi Opsi Alternatif
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com dan WA Channel





