PropertiTerkini.com, (SINGAPURA) — Harga properti Singapura sedang bergerak dalam dua arah. Pada kuartal III 2026, harga hunian privat meningkat 1,4% secara kuartalan, menjadi kenaikan tercepat sejak kuartal IV 2024. Pada periode yang sama, harga apartemen dan rumah tapak di kawasan suburban justru menjadi motor utama pertumbuhan.
Di pasar perumahan publik, ceritanya berbeda. Indeks harga resale Housing & Development Board (HDB) turun 0,2% pada kuartal III 2026, menjadi penurunan kuartalan ketiga berturut-turut.
Perbedaan ini membuat pasar hunian Singapura menarik untuk dicermati. Kenaikan harga tidak lagi terjadi secara merata di seluruh segmen.
Harga Properti Singapura Terdorong Rumah Tapak dan Kawasan Suburban
Data flash estimate Urban Redevelopment Authority (URA) menunjukkan harga properti residensial privat Singapura naik 1,4% pada kuartal III 2026, lebih tinggi dari pertumbuhan 0,5% pada kuartal sebelumnya.
Rumah tapak (landed properties) mencatat kenaikan paling tinggi, yakni 2,8%. Sementara properti non-landed naik 0,9%. Di dalam segmen apartemen, kawasan Outside Central Region (OCR) atau wilayah di luar pusat kota justru mencatat kenaikan 2,2%.
Sebaliknya, harga hunian non-landed di Core Central Region (CCR) turun tipis 0,1%. Kawasan Rest of Central Region (RCR) hanya tumbuh 0,2%.
| Segmen | Perubahan harga Q3 2026 |
|---|---|
| Hunian privat secara keseluruhan | +1,4% |
| Rumah tapak | +2,8% |
| Non-landed | +0,9% |
| CCR | -0,1% |
| RCR | +0,2% |
| OCR | +2,2% |
Sumber: URA, flash estimate Q3 2026.
CBRE melihat pergerakan tersebut sebagai indikasi bahwa pembeli semakin selektif. Pertumbuhan harga memang menguat, tetapi transaksi rumah baru justru melemah.
Sepanjang kuartal III, CBRE mencatat sekitar 1.082 rumah privat baru, tidak termasuk Executive Condominium (EC), terjual. Jumlah tersebut turun 49,5% dibandingkan kuartal II dan 67% dibandingkan kuartal III 2025.
Dengan kata lain, harga naik tidak berarti seluruh pasar sedang ramai.
HDB Resale Justru Mengalami Koreksi
Pergerakan HDB memberikan gambaran berbeda.
Indeks harga resale HDB turun dari 202,8 pada kuartal II menjadi 202,4 pada kuartal III 2026. Penurunan tersebut mengikuti koreksi 0,1% pada kuartal I dan 0,3% pada kuartal II.
Meski harga sedikit melemah, aktivitas transaksi tidak menghilang. HDB mencatat 7.528 transaksi resale hingga 29 September 2026, sekitar 5,2% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kondisi ini memperlihatkan pasar yang lebih seimbang setelah periode kenaikan harga yang cukup panjang.
Pada 2025, pertumbuhan harga resale HDB sudah melambat menjadi 2,9%, jauh di bawah kenaikan 9,7% pada 2024, menurut Housing & Development Board.
Mengapa Dua Pasar Bergerak Berlawanan?
Perbedaan tersebut berkaitan dengan karakter masing-masing segmen.
HDB merupakan bagian penting dari sistem perumahan publik Singapura dan sangat dipengaruhi kebijakan pemerintah, pasokan flat baru, skema pembiayaan serta profil pembeli.
Sementara pasar privat lebih sensitif terhadap harga tanah, biaya konstruksi, peluncuran proyek baru, suku bunga dan persepsi terhadap aset premium.
Pemerintah Singapura juga terus menjaga pasokan hunian privat. Untuk 2026, 9.320 unit masuk dalam Confirmed List Government Land Sales, lebih dari 50% di atas rata-rata tahunan 10 tahun terakhir.
Sekitar 60.600 unit hunian privat, termasuk EC, diperkirakan akan selesai dalam beberapa tahun mendatang, mengutip Urban Redevelopment Authority (URA).
Properti Singapura Makin Selektif, Bukan Sekadar Makin Mahal
Sementara Knight Frank menilai kenaikan harga rumah privat pada 2026 masih dapat berlanjut, tetapi pembeli semakin memperhatikan lokasi dan prospek kawasan.
Leonard Tay, Head of Research Knight Frank Singapore, menyebut pembeli akan semakin mengarah pada proyek dengan lokasi strategis, konektivitas dan potensi pertumbuhan kawasan.
Fenomena tersebut penting bagi investor Indonesia yang melihat Singapura sebagai pasar properti internasional.
Harga yang tinggi bukan satu-satunya cerita. Pemerintah juga menerapkan Additional Buyer’s Stamp Duty (ABSD) sebesar 60% bagi warga asing yang membeli properti residensial, sehingga strategi investasi lintas negara membutuhkan perhitungan yang jauh lebih matang.
Pelajaran terbesarnya justru berada pada perbedaan antara pusat kota, suburban, hunian privat dan HDB.
Pasar properti Singapura pada 2026 bukan sedang bergerak dalam satu arah. Pasar sedang memilah lokasi, tipe hunian dan profil pembeli.
Bagi pengembang dan investor Indonesia, ini menjadi pengingat bahwa kenaikan indeks nasional belum tentu berarti seluruh segmen mengalami kondisi yang sama. Lokasi, supply pipeline, konektivitas dan karakter pembeli semakin menentukan ke mana harga bergerak.
Harga Rumah Jepang Naik, tetapi Jutaan Rumah Kosong: Mengapa Pasarnya Bisa Kontradiktif?
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com dan WA Channel





