PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Memiliki sertifikasi bangunan hijau kini tidak lagi menjadi sekadar nilai tambah bagi sebuah gedung. Di tengah meningkatnya tuntutan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), keberlanjutan telah berkembang menjadi standar baru yang menentukan daya saing properti komersial, mulai dari menarik minat investor, memperoleh pembiayaan hijau, hingga memenuhi ekspektasi penyewa korporasi.
Namun di balik meningkatnya jumlah bangunan bersertifikasi hijau, muncul tantangan baru. Sertifikasi hanya menjadi titik awal. Yang kini menjadi perhatian pasar adalah bagaimana sebuah bangunan dikelola setiap hari agar benar-benar hemat energi, rendah emisi, dan mampu beroperasi secara efisien sepanjang siklus hidupnya.
Perubahan paradigma tersebut menjadi sinyal bahwa masa depan industri properti tidak lagi hanya ditentukan oleh desain bangunan, tetapi juga oleh kecerdasan sistem yang mengelola energi di dalamnya.
Data Colliers Indonesia menunjukkan bahwa sertifikasi Greenship, EDGE, LEED, dan Bangunan Gedung Hijau (BGH) terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Hingga pertengahan 2025, sekitar 88 persen bangunan bersertifikasi berasal dari sektor perkantoran, sementara jumlah sertifikasi diperkirakan meningkat sekitar 54 persen hingga akhir tahun. Hal itu menunjukkan bahwa bangunan hijau telah berkembang dari sekadar diferensiasi menjadi standar baru di pasar real estat komersial.
Sertifikasi Saja Tidak Lagi Cukup
Pergeseran tersebut dipengaruhi meningkatnya perhatian terhadap kinerja operasional bangunan.
Laporan Colliers juga menilai keberlanjutan kini menjadi faktor yang memengaruhi nilai aset, efisiensi operasional, hingga akses terhadap pembiayaan hijau.
Baca Juga: 5 Tips Cegah Kebakaran dan Kesetrum Akibat Korsleting Listrik
Masuknya sektor konstruksi dan real estat ke dalam Taksonomi Hijau OJK juga membuka peluang bagi proyek yang memenuhi standar keberlanjutan untuk memperoleh skema pendanaan yang lebih kompetitif.
Di sisi lain, berbagai kajian menunjukkan bahwa sebagian besar emisi karbon bangunan justru berasal dari tahap operasional, seperti penggunaan listrik untuk sistem pendingin udara, pencahayaan, dan distribusi energi, bukan hanya dari proses konstruksi. Karena itu, efisiensi energi menjadi faktor utama dalam upaya dekarbonisasi sektor bangunan.
Artinya, sebuah gedung tidak cukup hanya memiliki label hijau. Bangunan juga harus mampu mengendalikan konsumsi energinya secara berkelanjutan.
Bangunan Efisien Menjadi Bagian dari Kota Berkelanjutan
Pandangan tersebut sejalan dengan konsep sustainable living yang dikemukakan Ketua Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) Periode 2025–2028, Adriadi Dimastanto.
Baca Juga: Kolaborasi Nestlé Indonesia, Waste4Change, dan Arkadia Green Park Bangun Kebiasaan Kelola Sampah
Menurutnya, pembangunan kawasan masa depan harus bertumpu pada tiga pilar utama, yakni keberlanjutan lingkungan, inklusivitas sosial, dan ekonomi yang inklusif.
“Tiga indikator utama kawasan berkelanjutan adalah ramah lingkungan melalui efisiensi energi, air, dan pengelolaan sampah; inklusivitas sosial; serta ekonomi yang inklusif,” ujar Adriadi kepada PropertiTerkini.com.
Ia menegaskan bahwa konsep keberlanjutan tidak boleh berhenti sebagai slogan pemasaran. Kawasan harus dirancang untuk mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi, memperkuat ruang terbuka hijau, menyediakan transportasi publik, dan mengelola sumber daya secara efisien.
Namun, kawasan yang berkelanjutan tidak akan tercapai apabila setiap bangunan di dalamnya masih mengonsumsi energi secara boros.
Baca Juga: Green Building Makin Dilirik: Saat Biaya Energi Naik, Bangunan Hemat Jadi Andalan
Schneider Electric: Bangunan Masa Depan Harus Dikelola Secara Cerdas
Di sinilah teknologi digital mulai memainkan peran yang semakin penting.
Buildings Business Vice President Schneider Electric Indonesia, Reza Syarif, mengatakan bangunan masa depan tidak cukup hanya dirancang dengan konsep ramah lingkungan, tetapi juga harus mampu mengelola energi secara cerdas melalui sistem digital yang terintegrasi.
“Penerapan digitalisasi dan manajemen energi terintegrasi bukan sekadar efisiensi operasional, melainkan fondasi penting dalam membangun ekosistem gedung yang efisien, tangguh, berkelanjutan, dan tetap berfokus pada kenyamanan penggunanya,” kata Reza.
Schneider Electric mengembangkan pendekatan tersebut melalui ekosistem EcoStruxure, yang menghubungkan sistem distribusi listrik, HVAC, pencahayaan, dan pemantauan energi ke dalam satu platform digital.
Baca Juga: BSD Urbanatura Eco Urban Park, Ruang Hijau Baru BSD City Perkuat Konsep Kota Berkelanjutan
Melalui EcoStruxure Building Operation dan EcoStruxure Power Monitoring Expert, pengelola gedung dapat memantau konsumsi energi secara real-time, mendeteksi potensi gangguan sejak dini, hingga mengoptimalkan penggunaan listrik berdasarkan data operasional.
Untuk sektor perhotelan, Guest Room Management System (GRMS) memungkinkan penggunaan energi di kamar kosong dikendalikan secara otomatis sehingga konsumsi listrik lebih efisien tanpa mengurangi kenyamanan tamu.
Pendekatan digital seperti ini menjadi semakin relevan karena penelitian Schneider Electric menunjukkan bahwa modernisasi sistem pengelolaan bangunan dan elektrifikasi dapat memangkas emisi operasional gedung perkantoran hingga 70 persen apabila diterapkan secara menyeluruh.
Efisiensi Energi Menjadi Nilai Baru Properti
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa ukuran sebuah bangunan hijau kini tidak lagi berhenti pada kepemilikan sertifikasi.
Yang semakin diperhatikan investor, penyewa, maupun regulator adalah bagaimana bangunan mampu mengurangi konsumsi energi, menekan emisi karbon, sekaligus menjaga efisiensi biaya operasional melalui pemanfaatan teknologi.
Baca Juga: Kualitas Udara di Dalam Rumah Tak Selalu Lebih Baik, Dokter Ingatkan Pentingnya Udara Bersih
Dengan kata lain, sertifikat hijau menjadi pintu masuk, sedangkan pengelolaan energi berbasis data menjadi faktor yang menentukan keberlanjutan sebuah bangunan dalam jangka panjang.
Ketika bangunan hijau telah menjadi standar pasar, teknologi digital bukan lagi pelengkap. Ia menjadi fondasi agar gedung benar-benar efisien, memenuhi target ESG, dan tetap memiliki daya saing di tengah transformasi industri properti.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com dan WA Chanel





