BERITA TERKAIT

Green Building Makin Dilirik: Saat Biaya Energi Naik, Bangunan Hemat Jadi Andalan

Kenaikan biaya energi mulai mengubah cara pengembangan dan pemilihan properti. Bangunan ramah lingkungan kini bukan sekadar tren, tetapi solusi efisiensi jangka panjang.

PropertiTerkini.com(JAKARTA) — Bangunan bertajuk “green building” kini semakin dilirik di pasar properti 2026, terutama saat biaya energi terus menunjukkan tren kenaikan. Konsep ini tidak lagi sekadar label ramah lingkungan, tetapi mulai dilihat sebagai strategi untuk menekan biaya operasional.

Kondisi ini tidak muncul tiba-tiba. Dalam beberapa waktu terakhir, tekanan biaya energi mulai terasa, baik dari sisi operasional gedung maupun konstruksi. Hal ini membuat pelaku industri mulai mencari pendekatan yang lebih efisien.

Baca Juga: Green Office di CBD Jakarta 37%, Knight Frank Catat Definisi dan Permintaannya Kian Matang

“Efisiensi energi sekarang bukan lagi pilihan tambahan, tapi sudah menjadi kebutuhan,” ujar Ferry Salanto, Head of Research Colliers Indonesia, menjawab PropertiTerkini.com, beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut Ferry mengatakan, saat ini jumlah gedung yang telah bersertifikasi green building juga terus meningkat, seiring kebutuhan untuk mengakomodasi permintaan pasar yang semakin mengarah pada efisiensi dan keberlanjutan.

“Jumlah gedung green building memang terus bertambah karena permintaan pasar juga berubah,” ungkapnya.

Bangunan yang dirancang dengan konsep hemat energi, seperti penggunaan pencahayaan alami, sistem pendingin efisien, hingga pengelolaan air yang lebih baik, dinilai mampu menekan biaya jangka panjang.

Baca Juga: Transformasi Real Estat Komersial: 88% Bangunan Bersertifikasi Hijau, Mendorong Standar Baru di Indonesia

Di tengah kondisi global yang masih fluktuatif, pendekatan ini mulai menjadi pertimbangan utama, bukan lagi sekadar nilai tambah.

Saat Biaya Energi Naik, Efisiensi Jadi Penentu dan Tenant Makin Selektif

Kenaikan biaya energi tidak hanya berdampak pada tahap pembangunan, tetapi juga pada operasional harian properti.

Gedung perkantoran, apartemen, dan pusat perbelanjaan memiliki ketergantungan tinggi terhadap konsumsi listrik. Ketika biaya energi naik, pengelola properti harus menyesuaikan strategi agar tetap efisien.

Dalam kondisi seperti ini, green building menjadi salah satu solusi yang semakin relevan.

“Dengan konsep green building, pengelola bisa mengurangi beban biaya jangka panjang, terutama dari sisi energi,” jelas Ferry.

Baca Juga: Perang Timur Tengah Bisa Picu Kenaikan Harga Properti 2026, Begini Penjelasannya!

Pendekatan ini mencakup berbagai aspek, mulai dari desain bangunan, teknologi yang digunakan, hingga sistem pengelolaan operasional yang lebih terintegrasi.

Dampaknya tidak hanya pada efisiensi, tetapi juga pada kestabilan biaya operasional dalam jangka panjang.

Perubahan juga terlihat dari sisi permintaan. Tenant dan pengguna kini tidak hanya mempertimbangkan lokasi dan harga, tetapi juga efisiensi biaya operasional.

Bangunan dengan konsep ramah lingkungan dinilai lebih menarik karena mampu menawarkan pengeluaran yang lebih terkontrol.

“Tenant sekarang lebih selektif. Mereka melihat total biaya, bukan hanya harga sewa,” ungkap Zyotty Thamsil, Associate Director Colliers Indonesia.

Dalam kondisi pasar yang masih cenderung tenant market, faktor efisiensi ini menjadi keunggulan kompetitif bagi pemilik gedung.

Baca Juga: Pasar Properti 2026 Masuk Fase Transisi: Pasok Baru Turun hingga 80%, Pemulihan Mulai Terlihat

Hal ini membuat green building semakin relevan, tidak hanya bagi developer, tetapi juga bagi pengguna akhir.

Bukan Hanya Lingkungan, Tapi Juga Nilai Investasi

Green building juga mulai dilihat dari sisi investasi.

Properti dengan konsep ramah lingkungan cenderung memiliki daya tarik yang lebih tinggi di pasar, baik dari sisi okupansi maupun nilai jangka panjang.

Selain itu, potensi penghematan biaya operasional menjadi faktor penting yang meningkatkan daya saing properti tersebut.

Zyotty menambahkan bahwa tren ini tidak hanya terjadi di sektor perkantoran, tetapi juga mulai masuk ke sektor residensial dan pengembangan mixed-use.

Green concept sekarang sudah mulai masuk ke berbagai sektor, tidak hanya office,” ujarnya.

Baca Juga: Aturan WFH ASN Berlaku, Apakah Gedung Kantor di Jakarta Bakal Makin Sepi?

Perkembangan ini menunjukkan bahwa green building bukan lagi segmen khusus, tetapi mulai menjadi bagian dari arah utama pengembangan properti.

Dari Tren ke Strategi, Arah Pasar Mulai Jelas

Green building kini mulai bergeser dari sekadar tren menjadi strategi investasi di sektor properti. Bangunan dengan konsep ramah lingkungan dinilai memiliki daya saing yang lebih kuat, terutama dalam menjaga stabilitas okupansi di tengah perubahan pasar.

Selain itu, efisiensi operasional yang ditawarkan menjadi faktor penting yang semakin diperhitungkan. Di tengah tekanan biaya energi, kemampuan untuk menjaga biaya tetap stabil menjadi keunggulan tersendiri bagi pemilik properti.

Kecenderungan ini juga mulai terlihat jelas dari sisi investor dan arah kebijakan yang menguat ke standar keberlanjutan.

Baca Juga:  Paramount Petals dan Momentum Baru Barat Jakarta: Ketika Konektivitas Menuju Realisasi

Adopsi teknologi ramah lingkungan yang berdampak pada efisiensi operasional masih diminati oleh investor institusional, terutama di tengah kondisi tingkat hunian (occupancy rate) yang masih menantang. Dengan penggunaan teknologi tersebut, beban biaya operasional atau bottom line cost dapat ditekan, sehingga membantu menjaga profitabilitas bangunan.

Di segmen tertentu, seperti perkantoran Grade A dan premium, sertifikasi bangunan hijau bahkan mulai menjadi standar. Hal ini seiring dengan meningkatnya target keberlanjutan (sustainability goals) dari para penyewa (occupiers).

Selain itu, pemerintah juga telah menyiapkan roadmap yang mendorong bangunan dengan ukuran tertentu untuk memenuhi kriteria ramah lingkungan sebagai syarat memperoleh izin operasional, seperti Sertifikat Laik Fungsi (SLF).

Meski biaya awal pembangunan green building relatif lebih tinggi dibandingkan bangunan konvensional, efisiensi jangka panjang yang dihasilkan dinilai mampu menutup biaya tersebut.

Baca Juga:  Incar Pekerja Jaksel, HK Realtindo Rilis Rumah Rp700 Jutaan di Sawangan

Perkembangan ini menunjukkan bahwa green building telah bergeser dari opsi tambahan menjadi standar baru dalam pengembangan properti.

Green building bukan lagi sekadar tren, tapi sudah menjadi kebutuhan, baik dari sisi investor maupun pengguna,” tutup Zyotty.

***
Untuk berita santai yang tak kalah serumampir juga kePropertiPlus.com

*** Baca berita lainnya di GoogleNews
——— KONTAK REDAKSI:
Telepon/WA: 0821 2543 0279
Email Redaksi: redaksi@propertiterkini.com
Email Iklan: iklan@propertiterkini.com

BERITA TERBARU

Demo Half Page