PropertiTerkini.com, (BANDUNG) — Prioritas konsumen dalam memilih hunian di Indonesia mengalami pergeseran mendasar dalam beberapa tahun terakhir. Pandemi COVID-19 menjadi titik balik yang mengubah cara pandang masyarakat terhadap fungsi rumah, dari yang semula sekadar tempat singgah fungsional menjadi ruang hidup total selama 24 jam.
Perubahan perilaku ini mendorong urgensi implementasi konsep next level living yang mengutamakan kualitas kehidupan dibanding sekadar kuantitas bangunan fisik.
Baca Juga: Generasi Muda Serbu Properti, Data Rumah123 Bongkar Faktanya
Dalam diskusi panel di ajang Synergy Ecosystem Expo 2026 yang berlangsung di d’Botanica Bandung, beberapa hari lalu, dinamika pasar properti ini dibahas secara mendalam.
Perubahan pola pikir ini sangat terlihat pada kelompok konsumen generasi muda seperti milenial dan Gen Z yang kini menguasai ceruk pasar potensial.
Pergeseran Prioritas Generasi Muda Pasca-Pandemi
Arsitek prinsipal Atelier Cosmas Gozali, Cosmas D. Gozali, menjelaskan bahwa pendekatan berbasis riset mendalam terhadap perilaku pengguna akhir menjadi kunci utama dalam merancang kawasan hunian modern.
Risiko global seperti pandemi hingga dampak perubahan iklim telah memicu tingginya pencarian terhadap ruang-ruang yang mendukung kesehatan fisik dan mental (healthy body, healthy mind).
Baca Juga: Luna Residences Tawarkan Pengalaman Tinggal Terintegrasi, Bukan Sekadar Hunian Premium di Bali
“Generasi muda sekarang secara ekonomi dan prioritas berbeda dari generasi sebelumnya. Bagi orang tua terdahulu, membeli properti adalah langkah utama untuk memiliki aset. Namun bagi anak muda saat ini, aset terbesar adalah bagaimana bisa menikmati hidup semaksimal mungkin,” kata Cosmas.
Kecenderungan tersebut membuat fleksibilitas, efisiensi ruang yang kompak, serta integrasi teknologi menjadi kebutuhan mutlak.
Menurut Cosmas, konsumen muda cenderung cepat bosan namun sangat menghargai efisiensi waktu. Keberadaan fasilitas publik yang lengkap di dalam lingkungan terdekat menjadi faktor penentu karena aktivitas mobilisasi jarak jauh yang memakan waktu di perjalanan dinilai tidak lagi relevan dengan gaya hidup modern.
Respons Pengembang Terhadap Tren Hunian dan Konsep Next Level Living
Fenomena ini dijawab oleh para pelaku industri melalui pengembangan kawasan mandiri terintegrasi. Salah satu contoh konkret terlihat pada pengembangan Bandung Teknopolis di wilayah Gedebage yang mengawinkan kesiapan infrastruktur makro dengan kenyamanan bersosialisasi secara mikro.
Baca Juga: Summarecon Bandung Raih Penghargaan Urban Regeneration Tingkat Asia
Executive Director Summarecon Region 3, Hindarko Hasan, memaparkan bahwa esensi dari pengembangan properti berkelanjutan adalah membangun ekosistem kehidupan, bukan sekadar membangun komersial atau deretan rumah.
Transformasi kawasan timur dan selatan Bandung yang padat penduduk memerlukan perencanaan matang berbasis Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) pemerintah agar mampu membaca potensi pertumbuhan infrastruktur jangka panjang.
“Sejak awal, konsep next level living yang kami tawarkan berfokus pada software atau kehidupan itu sendiri, bukan hanya hardware berupa bangunan mall atau rumah. Bagaimana aktivitas bekerja (work), tinggal (live), dan berekreasi (play) bisa berjalan selaras di satu kawasan,” ujar Hindarko.
Kawasan Gedebage saat ini menjadi titik strategis berkat pertemuan jaringan infrastruktur vital, mulai dari tol dalam kota Bandung Intra Urban Toll Road (BIUTR), Tol Purbaleunyi, Tol Gede Bage-Tasikmalaya-Cilacap (Getaci), hingga akses yang hanya berjarak 10 menit dari Stasiun Kereta Cepat Tegalluar.
Baca Juga: Sharp Bidik Penjualan Naik 20 Persen Lewat Promo Jakarta Fair 2026
Penerapan Prinsip ESG dan Kualitas Lingkungan Kawasan
Selain konektivitas, aspek pengelolaan lingkungan berbasis prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) turut menjadi parameter baru nilai investasi properti.
Masalah klasik wilayah urban seperti banjir dan manajemen limbah diselesaikan melalui rekayasa teknis yang masif, termasuk pembuatan danau pengendali banjir seluas 20 hektar dari total 300 hektar kawasan, sistem perbaikan tanah prefabricated vertical drain, serta pengolahan sampah mandiri menggunakan metode maggot yang berkolaborasi dengan lembaga sosial.
Integrasi lingkungan ini juga diwujudkan melalui penyediaan jalur pedestrian yang teduh serta sirkulasi sepeda tanpa hambatan (underpass).
Kehadiran fasilitas komersial skala regional seperti Summarecon Mall Bandung yang mencatat kunjungan hingga 14 juta orang per tahun, rumah sakit, institusi pendidikan, hingga pasar modern menjadi motor penggerak ekonomi yang meningkatkan nilai tambah properti secara organik.
Baca Juga: Rumah Tapak Suburban Kian Dilirik Gen Z dan Milenial, Pasar Apartemen Tertekan
Desain hunian modern saat ini juga wajib memperhitungkan aspek alami seperti cross ventilation dan optimalisasi pencahayaan guna menekan konsumsi energi. Dengan demikian, kenyamanan termal kawasan tetap terjaga sekaligus memberikan dampak positif bagi kesehatan penghuninya.
Pada sesi penutup diskusi yang dimoderatori oleh CEO Indonesia Property Watch, Ali Tranghanda, kedua narasumber memberikan catatan penting bagi arah industri ke depan.
Pengembang dituntut untuk terus melahirkan produk properti yang unik dan adaptif. Di sisi lain, konsumen disarankan untuk jeli memilih hunian yang paling sesuai dengan kebutuhan fungsional dan karakter aktivitas pribadi, bukan sekadar mengikuti tren harga atau prestise semata.
Baca Juga: KPR Syariah Baru 8%, Padahal 87% Muslim, Peluang Besar untuk Milenial dan MBR
Dukungan pasar terhadap pengembang yang mengutamakan kualitas kehidupan secara jangka panjang akan mendorong transformasi positif bagi industri properti nasional.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com dan WA Chanel





