PropertiTerkini.com, (SEMARANG) — Saat banyak pusat perbelanjaan berlomba menjadi yang terbesar, PT Indonesian Paradise Property Tbk (Paradise Indonesia/INPP) justru mengambil pendekatan yang berbeda ketika mengembangkan 23 Semarang Shopping Center.
Dengan luas sekitar 48.000 meter persegi, 23 Semarang memang bukan mal terbesar di Kota Semarang, bahkan bukan yang terbesar di Jawa Tengah.
Baca Juga: 23 Semarang Resmi Dibuka, Hadirkan Oase Baru Gaya Hidup dan Investasi di Semarang
Namun siapa pun yang pernah berkunjung ke sana mungkin memiliki kesan yang sama: tempat ini terasa jauh lebih luas daripada ukuran sebenarnya.
Di balik pengalaman tersebut, ternyata ada filosofi desain yang cukup unik.
Anthony P. Susilo yang dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Kamis (18/6/2026) lalu ditunjuk sebagai Presiden Komisaris Paradise Indonesia, menyebut konsep itu sebagai “jauh di mata, dekat di kaki.”
Kalimat tersebut bukan slogan pemasaran. Bagi Anthony, itulah cara sebuah pusat perbelanjaan modern seharusnya dirancang.
Mall yang Tidak Boleh Membingungkan Pengunjung
Anthony mengaku tidak lagi tertarik membangun proyek yang sekadar berbeda dari sisi bentuk atau kemegahan arsitektur.
Baca Juga: Bidik Pertumbuhan 10%, Paradise Indonesia Tetap Andalkan Pendapatan Berulang
Baginya, desain yang baik bukan hanya soal tampilan, tetapi bagaimana sebuah bangunan bekerja dan memberikan pengalaman yang nyaman bagi pengunjung.
“Good design is not how it looks, but how it works,” ujarnya.
Pemikiran itu kemudian diterjemahkan ke dalam desain 23 Semarang.
Berbeda dengan banyak pusat perbelanjaan yang berbentuk kotak dengan koridor-koridor panjang dan bercabang, 23 Semarang menggunakan konsep sirkular atau melingkar.
Bahkan Anthony menyebutnya sebagai salah satu mall berkonsep double-facade pertama di Semarang.
Tujuannya sederhana: membuat pengunjung selalu tahu di mana posisi mereka berada.
Baca Juga: 23 Semarang Dibuka, Traffic Hari Pertama Tembus 30 Ribu Pengunjung
“Sering kali kalau di mall besar, orang janjian ketemu saja bingung. Datang dari arah mana, berada di lantai berapa, kadang sulit menemukan orientasi ruang,” katanya.
Karena itu, desain 23 Semarang dibuat dengan jalur sirkulasi yang mudah dipahami dan minim koridor sekunder yang berpotensi membuat pengunjung tersesat.

Kenapa Terasa Sangat Luas?
Menurut Anthony, rahasianya bukan pada ukuran bangunan, melainkan pada apa yang disebut sebagai visual line of sight.
Dalam istilah sederhana, pengunjung hampir selalu bisa melihat area yang jauh dari titik mereka berdiri.
Mata tidak terhalang banyak dinding, sudut mati, atau lorong sempit.
Baca Juga: 23 Paskal Extention Bandung Dorong Bandung Jadi Kota Global
“Di mana pun berdiri, orang bisa melihat jauh. Ada pandangan 50 sampai 100 meter ke depan. Itu yang menciptakan sensasi ruang yang luas,” terangnya.
Konsep tersebut terlihat jelas di area Downtown Park yang menjadi pusat aktivitas kawasan.
Taman terbuka itu tidak hanya berfungsi sebagai ruang hijau, tetapi juga menjadi titik orientasi visual yang menghubungkan berbagai area dalam pusat perbelanjaan.
Kehadiran pepohonan, ruang terbuka, dan area komunal membuat suasana terasa lebih lapang dibanding pusat perbelanjaan konvensional yang sepenuhnya tertutup.
Jauh di Mata, Dekat di Kaki
Filosofi lain yang diterapkan tim perancang adalah bagaimana membuat bangunan terasa luas, tetapi tetap mudah diakses.
Anthony menyebut konsep ini sebagai “jauh di mata, dekat di kaki”.
Pengunjung dibuat dapat melihat ruang yang luas dan terbuka, tetapi tidak harus berjalan terlalu jauh untuk mencapai tujuan.
Pada akhirnya, pengalaman itulah yang diharapkan membuat 23 Semarang menjadi tempat yang “dekat di hati” masyarakat Semarang.
Drop-off kendaraan, area parkir, dan akses menuju tenant dirancang agar lebih efisien.
Jika tujuan berada di lantai tertentu, pengunjung tidak perlu memulai perjalanan dari lantai dasar dan berputar mengelilingi bangunan.
“Kami ingin orang merasa ruangnya besar, tetapi tetap nyaman dijelajahi,” kata Anthony.
Mall yang Harus Membuat Orang Ingin Kembali

Di balik seluruh keputusan desain tersebut, sebenarnya ada alasan bisnis yang sangat sederhana.
Menurut Anthony, keberhasilan sebuah pusat perbelanjaan tidak ditentukan oleh jumlah pengunjung yang datang sekali karena rasa penasaran.
Yang jauh lebih penting adalah seberapa sering mereka kembali.
“Saya bisa hidup jika orang datang ke mall saya lima sampai sepuluh kali dalam setahun. Tapi kalau hanya satu atau dua kali saja, saya bisa bangkrut,” ujarnya sambil tersenyum.
Pernyataan itu menggambarkan bagaimana industri retail modern bekerja. Sebuah pusat perbelanjaan harus menjadi bagian dari keseharian masyarakat, bukan sekadar destinasi yang dikunjungi sesekali.
Karena itu, 23 Semarang dirancang tidak hanya sebagai tempat belanja, tetapi juga ruang untuk berkumpul, bersantai, menikmati kuliner, menghadiri acara komunitas, hingga sekadar mencari suasana baru.
The Oasis of Semarang
Pendekatan tersebut juga terlihat dari keputusan menghadirkan Downtown Park sebagai jantung kawasan.
Alih-alih memaksimalkan seluruh lahan untuk area komersial, sebagian ruang justru didedikasikan untuk taman terbuka dan area publik.
Paradise Indonesia menyebut konsep ini sebagai The Oasis of Semarang.
Sebuah ruang yang menggabungkan retail, hiburan, kuliner, komunitas, dan ruang hijau dalam satu kawasan terpadu.

Tidak heran jika sejak dibuka, tingkat okupansi tenant telah mencapai sekitar 90 persen dan trafik pengunjung disebut berada di kisaran 30.000 hingga 40.000 orang per hari.
Bagi Anthony, angka tersebut memang menggembirakan. Namun yang lebih penting adalah memastikan masyarakat Semarang terus memiliki alasan untuk kembali.
Sebab pada akhirnya, pusat perbelanjaan yang sukses bukanlah yang paling besar.
Baca Juga: BP Tapera dan BNI Perkuat Lima Strategi Jaga Keterhunian Rumah FLPP
Melainkan yang mampu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kota tempatnya berdiri.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com dan WA Chanel





