PropertiTerkini.com, (NUSANTARA) — Pengembangan Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai kota cerdas memasuki tahap penguatan kerja sama teknologi dengan Korea Selatan. Sejumlah agenda dibahas dalam Nusantara Smart City Forum (NSCF) 2026, mulai dari pengoperasian gedung cerdas dan gedung hijau, energi terbarukan, hingga pengembangan pusat kolaborasi teknologi di kawasan ibu kota baru.
Forum yang diselenggarakan Otorita IKN bersama mitra dari Korea Selatan tersebut berlangsung di Kantor Bersama 3, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Nusantara, Kalimantan Timur, Selasa (3/11/2026).
Memasuki penyelenggaraan kedua, NSCF 2026 mengangkat tema GREEN dengan fokus pada pembangunan hijau berbasis pengetahuan lokal dan penerapan teknologi kota cerdas. Kegiatan ini diikuti lebih dari 150 peserta dari kalangan pemerintah, akademisi, peneliti, dan praktisi teknologi.
Kolaborasi tersebut melibatkan Ministry of Land, Infrastructure and Transport (MOLIT), University of Seoul, CJ OliveNetworks, serta Korea Institute of Civil Engineering and Building Technology (KICT).
Smart City Cooperation Center Jadi Pusat Pengembangan Teknologi IKN
Salah satu agenda utama kerja sama Indonesia dan Korea Selatan adalah pembangunan Smart City Cooperation Center (SCCC) di IKN. Fasilitas yang didukung Pemerintah Korea Selatan ini dirancang sebagai pusat pertukaran teknologi dan pengetahuan untuk mendukung penerapan konsep kota cerdas di Nusantara.
Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, mengapresiasi dukungan tersebut. Dia juga mendorong perguruan tinggi dan mahasiswa di Kalimantan Timur untuk terlibat dalam pemanfaatan fasilitas SCCC, terutama dalam mengimplementasikan hasil penelitian.
Menurut Basuki, pengembangan IKN perlu diimbangi dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, bukan hanya pembangunan fisik.
“Kalau apa yang Bapak tulis di sini bisa diimplementasikan, itu jauh lebih baik daripada hanya tinggal di paper. Jadi, saya mohon betul, ajak mahasiswanya agar tidak hanya gedung-gedung fisik di IKN ini yang berdiri, tetapi juga ilmu pengetahuan, khususnya dengan smart city technology,” ujar Basuki.
Project Manager SCCC dari CJ OliveNetworks, Kido Oh, menjelaskan bahwa proyek tersebut juga menjadi sarana pertukaran teknologi dan pengetahuan antara Indonesia dan Korea Selatan.
Dia berharap kolaborasi para ahli dari kedua negara dapat terus berlangsung, termasuk setelah pembangunan pusat kerja sama tersebut selesai.
“Proyek ini bukan hanya tentang membangun Smart City Cooperation Center, tetapi juga tentang kerja sama teknologi dan berbagi pengetahuan antara kedua negara. Saya berharap pertukaran teknologi dan pengetahuan di antara para ahli akan terus berjalan, bahkan setelah proyek ini berakhir,” kata Kido.
Gedung Cerdas, Gedung Hijau, dan Energi Terbarukan Dibahas
Pembahasan teknologi dalam NSCF 2026 turut menyentuh pemanfaatan SCCC sebagai living lab atau laboratorium penerapan untuk pengoperasian gedung cerdas dan gedung hijau.
Agenda tersebut mencakup pengembangan indikator kinerja atau Key Performance Indicators (KPI) untuk mengukur kinerja operasional bangunan dan penerapan teknologi yang digunakan.
Selain sektor bangunan, forum juga membahas energi terbarukan, pembangunan kawasan berkelanjutan, pertanian perkotaan, serta pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan lingkungan.
Bagi industri properti, pengembangan gedung cerdas dan gedung hijau berkaitan dengan efisiensi operasional, pengelolaan energi, serta pengukuran kinerja lingkungan bangunan. Integrasi teknologi dalam pengelolaan gedung juga menjadi salah satu aspek penting dalam perkembangan konsep properti berkelanjutan.
Pengembangan Smart City IKN Perhatikan Kawasan Penyangga
Pengembangan kota cerdas di IKN juga menjadi perhatian kalangan akademisi, khususnya terkait keterhubungan Nusantara dengan wilayah sekitarnya.
Rahmat Aris Pratomo dari Institut Teknologi Kalimantan (ITK), memperkenalkan pendekatan Regional Circular and Ecological Sphere (R-CES). Pendekatan ini menekankan keterkaitan pengelolaan sumber daya antara IKN dan kawasan regional, termasuk Balikpapan, Samarinda, Penajam Paser Utara, serta Kutai Kartanegara.
Rahmat menilai pembangunan kota hijau maupun kota cerdas perlu mempertimbangkan hubungan dengan wilayah penyangga, terutama dalam pengelolaan sumber daya dan lingkungan.
“Kota, apakah kita menyebutnya hijau, pintar, atau bahkan kota hutan, tidak bisa berdiri sendiri. Seberapa hijau sebuah kota bergantung pada hubungannya dengan kawasan di sekelilingnya,” ujarnya.
Forum tersebut juga melibatkan sejumlah perguruan tinggi di Kalimantan Timur, antara lain Politeknik Negeri Samarinda, Institut Teknologi Kalimantan, Universitas Mulawarman, dan Universitas Balikpapan.
Melalui kolaborasi dengan Korea Selatan, Otorita IKN berharap pengembangan teknologi kota cerdas dapat disesuaikan dengan kebutuhan Nusantara. Cakupannya meliputi pengelolaan bangunan, pengembangan kawasan berkelanjutan, pertukaran pengetahuan, serta peningkatan keterlibatan institusi pendidikan dalam penerapan teknologi perkotaan.
Bangunan Modular China Tarik Minat Pembeli Internasional, Pasar Asia Tenggara Jadi Incaran
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com dan WA Channel



