PropertiTerkini.com, (BEKASI) — Laju urbanisasi yang terus meningkat menjadi tantangan besar bagi pembangunan kota-kota di Indonesia. Pemerintah memperkirakan sebagian besar penduduk akan tinggal di kawasan perkotaan dalam beberapa dekade mendatang.
Kondisi tersebut menuntut hadirnya konsep pembangunan yang mampu mengintegrasikan transportasi, tata ruang, kawasan hunian, hingga pusat aktivitas ekonomi secara lebih efisien.
Baca Juga: TOD Summarecon Stasiun Bekasi Ekstensi Mulai Dibangun, Investasi Rp78 Miliar
Karena itu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menilai Transit Oriented Development (TOD) menjadi salah satu pendekatan paling relevan untuk menjawab tantangan urbanisasi sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Hal itu disampaikan AHY saat menghadiri groundbreaking TOD Summarecon Stasiun Bekasi Ekstensi, di Bekasi, Jumat (24/7/2026), yang menurutnya dapat menjadi contoh pengembangan kawasan berbasis transit di Indonesia.
Dalam paparannya, AHY menunjukkan tren urbanisasi Indonesia yang terus meningkat dari sekitar 53,3% pada 2010 dan diproyeksikan mencapai 72,9% pada 2045. Bertambahnya jumlah penduduk perkotaan akan memperbesar kebutuhan terhadap infrastruktur, transportasi, ruang hidup, hingga pelayanan publik.
“Kota-kota akan terus berkembang dan saling terhubung. Karena itu, kita harus memastikan kota mampu mengakomodasi pertumbuhan penduduk tanpa mengorbankan kualitas hidup masyarakat,” ujarnya.
Menurut AHY, urbanisasi bukan persoalan yang harus dihindari, melainkan fenomena yang perlu dikelola melalui perencanaan kota yang matang.
Di sisi lain, pembangunan desa tetap harus diperkuat agar masyarakat memiliki lebih banyak pilihan untuk tinggal dan bekerja tanpa harus selalu bermigrasi ke kota besar.
AHY juga menjelaskan bahwa, pertumbuhan kota yang tidak terkendali atau urban sprawl berpotensi memunculkan berbagai persoalan baru.
Mulai dari semakin padatnya ruang kota, meningkatnya kemacetan, penurunan kualitas lingkungan, eksploitasi air tanah, banjir, hingga tingginya emisi karbon akibat dominasi kendaraan pribadi.
Baca Juga: Menguak Potensi Investasi Wander Alley Walk di Kawasan TOD BSD City
Menurutnya, persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan membangun jalan baru atau menambah kapasitas transportasi semata.
“Kita punya komitmen menuju Net Zero Emission 2060. Karena itu sektor transportasi harus ikut bertransformasi agar emisi karbon dapat ditekan,” katanya.
Bukan Sekadar Membangun Stasiun, TOD Dorong Nilai Properti
Masih banyak anggapan bahwa Transit Oriented Development hanya identik dengan pembangunan stasiun atau jalur kereta api. Padahal, menurut AHY, konsep TOD jauh lebih luas dibanding sekadar menyediakan moda transportasi.
TOD mengintegrasikan kawasan hunian, pusat bisnis, pendidikan, fasilitas kesehatan, ruang publik, hingga jaringan transportasi dalam satu kawasan yang saling terkoneksi.
“Kalau kawasan tempat tinggal, bekerja, pendidikan, layanan publik, dan transportasi saling terhubung, masyarakat akan memiliki kualitas hidup yang lebih baik sekaligus mengurangi kemacetan,” jelasnya.
Baca Juga: Lahan KAI Kiaracondong Bakal Jadi Hunian TOD Pertama di Bandung
Dalam implementasinya, TOD juga menempatkan pejalan kaki, pesepeda, serta transportasi publik sebagai prioritas sehingga ketergantungan terhadap kendaraan pribadi dapat dikurangi.
Selain meningkatkan mobilitas masyarakat, AHY menyebut pengembangan kawasan berbasis transit juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan.
Menurutnya, kawasan TOD berpotensi meningkatkan nilai properti, menarik investasi baru, memperkuat produktivitas kawasan, sekaligus membuka lebih banyak peluang usaha.
Di sisi lain, manfaat lingkungan juga tidak kalah besar karena penggunaan transportasi publik mampu menekan emisi karbon, mengurangi polusi udara, dan meningkatkan efisiensi energi.
“Secara ekonomi, nilai properti pasti meningkat. Investasi bertambah, produktivitas meningkat. Tetapi harus tetap diimbangi tanggung jawab sosial kepada masyarakat,” tegas AHY.
Baca Juga: Gedung Kantor Dekat MRT dan LRT Catat Tingkat Okupansi Lebih Tinggi
AHY menyebut sejumlah kota besar dunia telah membuktikan keberhasilan konsep TOD, seperti Hong Kong, Singapura, dan Tokyo.
Menurutnya, ketiga kota tersebut berhasil mengintegrasikan transportasi publik dengan kawasan komersial, perkantoran, hunian, hingga fasilitas umum sehingga mobilitas masyarakat menjadi lebih efisien.
Indonesia, kata AHY, memiliki peluang menerapkan konsep serupa selama didukung sinkronisasi tata ruang, kepastian regulasi, kolaborasi pemerintah dan swasta, serta pembiayaan infrastruktur yang memadai.
Summarecon Bekasi Jadi Contoh Implementasi
Sebagai implementasi awal, AHY menilai pengembangan TOD Summarecon Stasiun Bekasi Ekstensi dapat menjadi salah satu contoh penerapan konsep tersebut di Indonesia.
Proyek yang mulai dibangun melalui kolaborasi pemerintah dan PT Summarecon Agung Tbk itu tidak hanya menghadirkan stasiun baru, tetapi juga menjadi fondasi pengembangan kawasan yang mengintegrasikan transportasi massal, aktivitas ekonomi, serta ruang publik dalam satu ekosistem.
AHY berharap model serupa dapat diterapkan di lebih banyak kota sehingga pembangunan kawasan perkotaan tidak lagi berjalan secara parsial, melainkan menjadi sistem yang saling terhubung dan berorientasi pada kualitas hidup masyarakat.
“Kunci utamanya adalah kolaborasi. Pemerintah menyiapkan regulasi dan kepastian hukum, sementara dunia usaha menghadirkan investasi, inovasi, dan efisiensi pelaksanaan,” pungkasnya.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com dan WA Chanel





