BERITA TERKAIT

Lahan KAI Kiaracondong Bakal Jadi Hunian TOD Pertama di Bandung

Pemerintah mulai membidik lahan milik PT KAI di Kiaracondong Bandung untuk proyek rumah susun terintegrasi. Langkah ini menjadi solusi bagi warga penghasilan rendah yang selama ini kesulitan mencari tempat tinggal strategis.

PropertiTerkini.com(BANDUNG) — Kawasan padat penduduk di Kiaracondong, Kota Bandung, kini punya harapan baru setelah lahan milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) resmi dilirik untuk proyek hunian vertikal.

Lahan KAI Kiaracondong yang luasnya mencapai 6.000 meter persegi ini akan disulap menjadi kawasan Transit Oriented Development (TOD) khusus bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Baca Juga: Perumnas Lepas 22 Ha Lahan untuk PSU dan Fasilitas Umum di Malang, Ini Rencana Pemanfaatannya

Isu hunian memang sedang panas belakangan ini, terutama karena sulitnya mencari tanah murah di tengah kota yang dekat dengan akses transportasi massal.

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait turun langsung meninjau lokasi ini pada Senin (6/4/2026). Kedatangannya bukan tanpa alasan, sebab kebutuhan rumah di Bandung sudah sangat mendesak, sementara lahan pemerintah yang menganggur justru sering kali terabaikan.

Isu ini penting karena selama ini belum ada hunian berbasis kereta api yang benar-benar terintegrasi di Bandung. Jadi, proyek ini adalah upaya perdana untuk memastikan warga kelas bawah tidak terlempar ke pinggiran kota yang jauh dari tempat kerja.

Rencana Pemanfaatan Lahan KAI Kiaracondong untuk Rakyat

Rencana pembangunan ini tidak hanya sekadar membangun gedung apartemen murah atau rusunawa biasa. Lokasi yang berada di dekat Stasiun Kiaracondong memungkinkan penghuninya nanti bisa bekerja atau bepergian tanpa perlu pusing memikirkan biaya bensin atau kemacetan Bandung yang makin parah.

Baca Juga: Manfaatkan Lahan Negara 45 Hektar, Kementerian PKP Siap Bangun Rumah Susun MBR di Depok

Menteri Ara menyatakan bahwa lokasi tersebut dinilai strategis karena berada di kawasan transportasi publik dan memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi hunian terintegrasi yang memudahkan mobilitas masyarakat. Fokus utamanya adalah efisiensi hidup bagi warga yang secara ekonomi memang terbatas.

Pemerintah sadar bahwa membangun hunian di lahan mahal seperti pusat kota butuh anggaran besar, maka dari itu skema pembiayaan kreatif mulai disusun.

Kementerian PKP juga membuka peluang pembiayaan melalui berbagai skema kolaboratif, termasuk dukungan dari sektor swasta. Menteri Ara bahkan menyebut sudah ada komitmen dari pihak luar, seperti Astra yang siap membangun 1.000 unit rumah susun.

“Jangan ragukan potensi Indonesia. Kita akan membuat berbagai skema pembiayaan, termasuk dukungan CSR dari perusahaan,” kata Menteri Ara saat meninjau lokasi tersebut.

Lahan seluas 6.000 meter persegi itu nantinya tidak berdiri sendiri sebagai blok hunian, melainkan bakal ada fasilitas penunjang yang cukup lengkap di sekitarnya.

Rencananya, tim gabungan dari Kementerian, KAI, hingga Pemerintah Kota Bandung akan segera merumuskan konsep finalnya. Targetnya sangat cepat, di mana konsep besar harus sudah dipaparkan pada akhir April ini.

Baca Juga: Menteri PKP Ingin Penyediaan Hunian Layak di Kota Batam Tepat Sasaran

“Kita melihat langsung lahannya, demand-nya, dan semua aturan yang bisa memudahkan rakyat sesuai arahan Presiden Prabowo,” ujar Menteri Ara menegaskan keseriusannya.

Masyarakat yang nantinya tinggal di sini diperkirakan akan mendapatkan manfaat ganda dari sisi ekonomi. Meski harga sewa atau cicilan unitnya belum dirilis secara detail karena masih dalam tahap penghitungan potensi lahan, target utamanya tetap pada kategori MBR.

Namun, catatan pentingnya adalah pengawasan harus ketat agar unit-unit ini tidak jatuh ke tangan spekulan atau orang kaya yang hanya ingin investasi.

Fasilitas kesehatan, pendidikan, tempat ibadah, hingga ruang kreatif untuk bisnis skala kecil juga menjadi bagian dari janji pemerintah dalam pengembangan kawasan terpadu ini.

Konektivitas Stasiun dan Fasilitas Publik Terintegrasi

Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin menjelaskan bahwa proyek ini nantinya akan menghubungkan Stasiun Kiaracondong dengan Stasiun Bandung melalui sistem yang lebih tertata. Konsep TOD ini memang sengaja dirancang agar aktivitas ekonomi warga tidak terputus, sehingga ada ruang bisnis dan area publik yang tersedia.

Menurutnya, kawasan tersebut nantinya akan terhubung dengan Stasiun Kiaracondong, Stasiun Bandung, serta kawasan pengembangan lainnya seperti ruang kreatif dan area bisnis untuk mendukung aktivitas ekonomi masyarakat. Hal ini tentu menjadi angin segar bagi pelaku UMKM lokal di sekitar Kiaracondong.

Baca Juga: KPR Syariah Baru 8%, Padahal 87% Muslim, Peluang Besar untuk Milenial dan MBR

Meskipun terlihat ambisius, realisasi proyek di Kiaracondong ini memiliki risiko klasik pembangunan perkotaan, yaitu penataan sosial di sekitar lahan eksisting.

Kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat menjadi kunci agar proses pembersihan lahan atau pembangunan konstruksi tidak bergesekkan dengan kepentingan warga sekitar yang sudah lama beraktivitas di sana.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman juga ikut mengawal peninjauan ini untuk memastikan sinkronisasi antara pemerintah pusat dan daerah berjalan mulus tanpa kendala birokrasi yang berbelit.

Menteri PKP Maruarar Sirait menjelaskan konsep Transit Oriented Development (TOD)
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait (kanan) memaparkan rencana sinergi pemanfaatan Lahan KAI Kiaracondong menjadi kawasan hunian terpadu. Tampak hadir dalam rombongan, Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman (tengah, berbaju putih celana hitam). (Foto: Dok. Kementerian PKP)

Jumlah unit hunian saat ini memang masih dalam tahap optimasi, namun harapannya bisa menampung ribuan warga yang butuh kepastian tempat tinggal.

Bobby Rasyidin menyebutkan bahwa konsep TOD ini kawasan terintegrasi, ada kawasan hunian, kawasan bisnis, dan fasilitas umum. “Jumlah unitnya masih dihitung dan akan dioptimalkan sesuai potensi lahan,” jelas Bobby.

Dengan demikian, pemanfaatan aset negara yang selama ini kurang produktif bisa memberikan dampak sosial yang nyata bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat di Jawa Barat.

Baca Juga: Kota Bandung Siapkan Lahan Untuk Bangun 1 Tower Rusun

Ke depan, model pembangunan seperti di Kiaracondong ini diharapkan menjadi standar baru bagi kota-kota besar lainnya di Indonesia yang memiliki aset lahan transportasi. Jika proyek ini berhasil, maka stigma bahwa rumah murah harus jauh di pinggir kota akan hilang.

Warga Bandung tinggal menunggu hasil pemaparan konsep pada 25 April mendatang untuk melihat sejauh mana rencana ini akan mengubah wajah Kiaracondong menjadi kawasan hunian modern yang manusiawi bagi semua kalangan tanpa terkecuali.

***
Untuk berita santai yang tak kalah serumampir juga kePropertiPlus.com

*** Baca berita lainnya di GoogleNews
——— KONTAK REDAKSI:
Telepon/WA: 0821 2543 0279
Email Redaksi: redaksi@propertiterkini.com
Email Iklan: iklan@propertiterkini.com

BERITA TERBARU

Demo Half Page