Sunday, September 25, 2022

Pengelola Apartemen Wajib Pahami Psikologi Penghuni

- Advertisement -

Pengelola apartemen harus menyediakan ruang bagi penghuni untuk dapat berkumpul baik ruang terbuka maupun menginisiasi kegiatan bersama.

Sudah bisa dipastikan, penghuni apartemen adalah orang-orang super sibuk dan jarang berinteraksi dengan tetangga atau penghuni sekitar. Beda dengan tinggal di landed (rumah tapak) yang lebih terbuka peluang interaksi dan bersosialisasi antar tetangga, bahkan warga kompleks. Untuk ini, pengelola apartemen wajib menyediakan fasilitas agar menjadi sarana interaksi antar para penghuni.

Psikolog Nirmanisa Ruskin mengatakan, fasilitas dan sarana interaksi tersebut juga dapat menjadi fungsi kontrol sekaligus mendeteksi situasi apartemen yang berpotensi menimbulkan masalah.

Baca:

Menurut Nirmanisa, hal ini sangat mungkin terjadi akibat perubahan gaya hidup sebagai konsekuensi tinggal di vertical house (apartemen), dimana sisi-sisi kekeluargaan dan kehidupan bertetangga hampir tidak dapat lagi dirasakan.

“Penguni apartemen umumnya sangat menekankan pada prinsip individualisme yang tinggi dan area privasi. Padahal manusia merupakan mahluk sosial. Butuh untuk bersosialisasi dan berinteraksi. Hal yang mudah dilakukan ketika tinggal di area perumahan yang bersifat landed house namun akan sulit dilakukan di apartemen,” tutur psikolog jebolan Universitas Gadjah Mada.

Situasi ini, lanjutnya, tentu saja akan  berpotensi untuk timbulnya permasalahan sosial bila tidak dikelola dengan baik karena harus disadari menjadi penghuni apartemen akan sangat menuntut kematangan pribadi untuk dapat saling menjaga area privasi dari penghuni lain.

Selain itu setiap penghuni apartemen dituntut dapat mandiri dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang ada, khususnya permasalahan personal terutama sindrom perasaan sepi (empty) karena tidak satu orang pun dapat ditemui atau diajak berkomunikasi di huniannya saat sedang menghadapi masalah.

“Oleh sebab itu, peran dari pengelola menjadi sangat penting untuk penyedia sarana untuk penghuni tetap dapat berinteraksi dan melakukan kegiatan sosial. Pengelola harus menyediakan ruang bagi penghuni untuk dapat berkumpul baik ruang terbuka maupun menginisiasi kegiatan bersama,” tuturnya.

Senada dengan Nirmanisa, Marketing Director Green Pramuka City, Jeffry Yamin menuturkan penyediaan ruang-ruang bersosialisasi bagi penghuni hanya dapat diakomodasi oleh apartemen yang sejak awal didesain dengan konsep one stop living.

“Dengan konsep one stop living, Green Pramuka City yang berada di pusat kota memang sejak awal dirancang mendukung fungsi penghuninya tidak hanya tinggal dan menikmati hidup namun dapat bersosialisasi bersama komunitasnya,” ujarnya.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

PROPERTI TV

BERITA TERBARU