BERITA TERKAIT

Kelangkaan BBM Bali Menguji Ketahanan Bisnis Properti, CEO Nuanu Creative City: Strategi Mitigasi Jadi Kunci Utama

Kelangkaan pasokan BBM yang memicu antrean panjang di Bali menguji keandalan infrastruktur dan rantai pasok kawasan wisata. CEO Nuanu Creative City, Lev Kroll, menekankan krusialnya strategi mitigasi energi serta keterhubungan kawasan mandiri ramah lingkungan demi menjaga stabilitas bisnis properti.

PropertiTerkini.com, (BALI) — Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang melanda sejumlah wilayah di Bali dalam seminggu terakhir menciptakan dampak berantai bagi mobilitas harian dan operasional kawasan pariwisata. Gangguan distribusi ini tidak hanya menyulitkan warga lokal menuju lokasi kerja, tetapi juga memicu kemacetan parah di sekitar stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius para pelaku usaha dan investor kawasan terpadu. Dampak jangka pendek berupa penurunan konektivitas dinilai dapat mengganggu ritme penerimaan bisnis jika penanganan di tingkat rantai pasok tidak segera dituntaskan.

CEO Nuanu Creative City, Lev Kroll, menegaskan bahwa krisis energi sesaat ini menguji ketahanan bisnis properti sekaligus memperlihatkan pentingnya kesiapan strategi mitigasi dari para pengelola kawasan.

“Ketidakpastian pasokan BBM pada dasarnya berdampak langsung pada hilangnya konektivitas. Bagi kawasan destinasi seperti Bali, kemacetan akibat antrean pengisian bahan bakar membuat orang enggan bepergian. Hal ini memicu dua hal: penurunan aktivitas transaksi bisnis serta gangguan operasional karena para tenaga kerja kesulitan mencapai tempat kerja mereka,” ujar Lev Kroll saat ditemui di kawasan Nuanu Creative City, Tabanan, Bali, Kamis (15/10/2026).

Strategi Mitigasi Energi dan Risiko Opini Publik Global

Meskipun pembatalan reservasi akomodasi secara masif belum terjadi, krisis logistik lokal telah memperpanjang durasi perjalanan wisatawan dari dan menuju pusat-pusat kegiatan. Fenomena antrean panjang kendaraan yang tersebar di media sosial berpotensi membentuk persepsi negatif bagi wisatawan berkualitas tinggi yang sangat mengandalkan kebebasan mobilitas.

Menurut Lev, perhatian utama para investor sebenarnya bukan sekadar pada ada atau tidaknya krisis, melainkan pada keberadaan dan keandalan strategi mitigasi yang disiapkan oleh pengembang maupun pemerintah.

“Investor senantiasa menilai keberadaan strategi mitigasi. Jika gangguan pasokan berlangsung berlarut-larut, persepsi publik global terhadap Bali dapat terpengaruh. Bali adalah wajah pariwisata Indonesia, sehingga kepastian distribusi energi merupakan nadi utama agar aktivitas ekonomi dan iklim investasi tetap kondusif,” ungkapnya.

Lev menambahkan bahwa dorongan untuk mengalihkan seluruh mobilitas ke kendaraan listrik (electric vehicle) dalam skala makro juga menghadapi tantangan riil infrastruktur. Pasalnya, sebagian besar pasokan daya listrik masih bersumber dari pembangkit berbasis batu bara serta membutuhkan kesiapan jaringan grid yang luas.

Kawasan Bebas BBM: Nuanu Creative City Integrasikan Kota 15 Menit

Sebagai bentuk nyata strategi mitigasi jangka panjang dan komitmen keberlanjutan, pengembangan kawasan terpadu seluas 44 hektar Nuanu Creative City menerapkan aturan ketat berupa kawasan bebas kendaraan berbahan bakar fosil (BBM).

Setiap pengunjung, tamu, maupun penghuni yang datang menggunakan kendaraan konvensional wajib memarkirkan kendaraan mereka di kantong parkir khusus di luar area utama. Untuk mobilitas di dalam kawasan, pengelola menyediakan armada kendaraan listrik (buggy dan shuttle listrik) serta stasiun pengisian daya (charging station) terpadu.

Langkah ini dipadukan dengan integrasi konsep 15-minute city, di mana seluruh kebutuhan harian dapat dijangkau dalam durasi 15 menit melalui jalur pejalan kaki yang nyaman dan moda transportasi ramah lingkungan.

nuanu bali, kota kreatif bertenaga listrik, Nuanu Creative City, kota ramah lingkungan, kendaraan listrik
Kendaraan listrik dan panel surya di kawasan Nuanu City. (Dok. Nuanu)

Di kawasan komersial, Nuanu tengah merampungkan pusat kuliner terpadu tower market yang mengurasi 30 restoran dalam satu atap. Kehadiran fasilitas terpusat ini bertujuan mencegah penumpukan deretan bangunan beton di sepanjang jalan raya sekaligus berfungsi sebagai hub distribusi logistik internal berbasis kendaraan listrik.

Selain area kuliner, fasilitas pendukung seperti Nuanu Park, area edukasi keluarga, hingga ruang terbuka hijau terhubung langsung tanpa perlu bergantung pada jalan arteri utama di luar kawasan.

Penerapan ekosistem mandiri dan bebas emisi ini diharapkan menjadi standar baru bagi kawasan hunian berkelanjutan di Bali yang tangguh menghadapi guncangan logistik regional.

BACA JUGA:

Sutala di Nuanu Bali Siapkan 60 Tenant Kuliner, Distrik Gastronomi 17.000 m² Ini Target Buka Oktober 2026

***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com dan WA Channel

*** Baca berita lainnya di GoogleNews
——— KONTAK REDAKSI:
Telepon/WA: 0877 8386 2018
Email Redaksi: redaksi@propertiterkini.com
Email Iklan: iklan@propertiterkini.com

BERITA TERBARU

Demo Half Page