Sunday, May 22, 2022

Kamu Termasuk Fixed Mindset atau Growth Mindset?

"Buka jendela pikiranmu. Biarkan udara segar, cahaya baru, dan kebenaran baru masuk."- Dr. Amit Ray, penulis, filsuf, guru spiritual dan pelopor Compassionate AI movement.

- Advertisement -

Oleh: Kris Banarto, MM, CPM

 

Gajah kecil itu di ikat dengan seutas tali kecil yang disambungkan ke dalam batangan besi. Beberapa kali anak gajah itu mencoba melepaskan ikatan dengan berlari, namun usaha itu gagal.

Usaha untuk lepas dari ikatan tali selalu dicoba dan gagal sehingga ia menyerah dan berpikir “aku tidak mampu melepaskan ikatan ini”. Menginjak dewasa dengan kekuatan yang bertambah sebenarnya tali itu cukup mudah untuk dipatahkan.

Baca Juga: Pentingnya “Coaching” untuk Memaksimalkan Kinerja SDM

Namun usaha itu tidak dilakukan lagi karena pola berpikir telah terbentuk bertahun-tahun, ia membatasi kemampuan dengan pola pikir lama ketika masih anak-anak. Inilah yang disebut limiting belief atau membatasi keyakinan.

Di antara kamu mungkin ada yang meyakini itu. “Ah aku tidak dapat berbicara di depan umum karena tidak memiliki bakat.” “Aku tidak mampu menjadi pemimpin karena tidak pernah terlibat dalam organisasi.” Lalu bagaimanakah menyikapinya?

Mari kita akan pelajari apa itu pola pikir tetap dan pola pikir berkembang.

Fixed Mindset Vs Growth Mindset

Carol S. Dweck, guru besar psikologi dari Stanford University, dikenal sebagai perintis studi motivasi manusia dan penelitian tentang teori kecerdasan, bagaimana pola pikir memengaruhi motivasi dan kesuksesan memberikan pandangan.

Menurut Dweck orang yang memiliki pandangan bawaan tentang kecerdasan atau percaya bahwa bakat (talent) dan kemampuan adalah sifat bawaan yang tidak dapat dikembangkan, dikenal sebagai pola pikir tetap (fixed mindset).

Baca Juga: Grup Synergy dan Yayasan OBI Salurkan Ribuan Paket Bantuan di Berbagai Wilayah

Sedangkan mereka yang percaya bahwa kecerdasan, bakat, dan kemampuan dapat ditingkatkan melalui upaya pengembangkan diri, disebut sebagai pola pikir berkembang (growth mindset).

Pengertian Mindset

“Mindset is what determines your thinking. it is your collection of throughts and beliefs that shape your habitual thinking and spontaneous bahaviors.”

Mindset atau pola berpikir merupakan kumpulan dari pikiran dan keyakinan yang memengaruhi persepsi dalam menerjemahkan realitas, termasuk interaksi dengan orang lain, reaksi terhadap kejadian dan pandangan terhadap diri sendiri.

Orang Gagal dan Orang Berhasil

Fixed mindset akan mengantar pada kegagalan sedangkan growth mindset mendekatkan orang pada keberhasilan. Orang gagal akan berhenti melakukan usahanya ketika ia tidak berhasil. Menurutnya kegagalan merupakan hal yang memalukan yang harus dihindari. Sehingga ia tidak berani untuk mencoba dan mencoba lagi.

Sedangkan orang sukses akan terus mencoba, terlepas dari hasil itu baik atau buruk. Ia terus berusaha hingga mencapai keberhasilan. Kegagalan menjadi hal biasa dan merupakan kesempatan untuk belajar lebih baik.

Baca Juga: Etos Kerja Karyawan Penting untuk Meraih Kinerja Puncak

“Banyak kegagalan dalam hidup, mereka tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan saat mereka menyerah.”- Thomas Alfa Edison, penemu, ilmuan, dan pengusaha sukses.

Ilustrasi orang sukses terus berusaha, orang gagal berhenti berusaha
Ilustrasi orang sukses terus berusaha, orang gagal berhenti berusaha. (Sumber Raphael-consulting.com)

Mindset terbentuk dari pengalaman (disadari maupun tidak disadari) dan keyakinan yang akan memengaruhi kita dalam merespons kehidupan. Keyakinan merupakan pikiran ide atau anggapan yang diyakini benar.

Menurut KBBI belief atau keyakinan diterjemahkan sebagai kepercayaan dan sebagainya yang sungguh-sungguh; kepastian; ketentuan. Keyakinan memainkan peranan penting terhadap apa yang kita inginkan dan bagaimana mencapainya.

Keyakinan akan membentuk mindset yang menjadi dasar perilaku. Oleh karena itu keyakinan dapat menjadi kesempatan untuk tumbuh. Namun jika tidak waspada keyakinan dapat menjadi jebakan yang membuat kita terperangkap pada rutinitas.

Coaching Mindset

Seorang coach harus meyakini setiap orang memiliki kesempatan memunculkan bakat dan potensi yang terpendam sebagai jalan untuk bertumbuh dan meraih keberhasilan.

Coach sebaiknya bersikap terbuka, memiliki sikap ingin tahu dan menempatkan klien sebagai pusat perubahan dalam dirinya dan coach tidak boleh memaksakan kehendak. Namun coach akan mengatakan “mari kita cari bersama kemungkinan-kemungkinan terbaik buat kamu.”

Ini 4 Mindset Coach

Mindset menjadi faktor penting keberhasilan seorang coach dalam menjalankan tanggung jawabnya. Sikap ingin membantu orang lain, kepedulian dan keinginan mengubah perilaku klien harus ada dalam pikirannya. Berikut ini ada 4 mindset coach menurut Internasional Coach Federation (ICF):

Baca Juga: Mau Tahu 5 Poin Penting dalam Menyusun “Marketing Plan?”

Four mindset Coach, ICF
Four mindset Coach, ICF. (Dokumen pribadi)

Pertama, Client is at the center

Coach menempatkan klien sebagai pusat perubahan. Seorang coach harus memberikan kesempatan sebanyak-banyak kepada klien untuk berbicara. Coach hadir untuk membantu menyadarkan klien mengenai situasi yang dihadapi, keinginan, harapan, ketertarikan, tantangan bahkan emosinya.

Kedua, I am Open and Curious

Salah satu peran coach adalah bermitra dengan klien pada saat proses pembelajaran dan pengembangan dirinya. Coach hendaknya bersikap terbuka, membangun rasa ingin tahu, dan mengeksplorasi hal-hal yang belum muncul dan disadari.

Ketiga, I am Mindful to What’s Happening in Every Moment

Klien dapat berbicara apa saja mulai dari cerita masa lalu, masa kini dan angan-angan atau harapan masa depan. Coach dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan berbobot yang memberikan kejelasan pada klien dan terus menggali banyak informasi dari klien.

Keempat, I Help the Client Seek New Possibilities

Coach harus dapat membangun keyakinan baru sekalipun ia bertipe fixed mindset. Membantu menemukan makna, mengarahkan untuk berpikir maju yang akan berguna dalam pembelajaran dan pengembangan dirinya. Jauhkan klien dari rasa menyesal atas masa lalunya yang akan menyebabkan klien tidak bersedia untuk berkembang.

Sebenarnya manusia lebih banyak melakukan self talk pada dirinya sendiri dibandingkan dengan berbicara melalui kata-kata. Jika mereka fixed mindset akan mengalami kesulitan dalam mewujudkan harapannya.

Menumbuhkan kepercayaan diri kepada individu yang meyakini fixed minset membutuhkan coaching yang panjang. Para pemimpin sebaiknya memiliki keahlian coaching untuk dapat memberdayakan pegawai mencapai kinerja puncak.

Baca Juga: Peletakan Batu Pertama Pembangunan Kawasan Suci Pura Besakih

Fixed mindset seperti fenomena gunung es, dalam tampilan luar tidak akan tampak. Namun setelah dilakukan eksplorasi akan kelihatan limiting belief yang harus diangkat ke permukaan agar mereka memiliki gairah untuk mencapai tujuan hidupnya. Jika perlu hadirkan coach untuk membantu merancang tujuan bagi masa depanmu. [Rujukan: Falaq Arsendatama, Al. (2021). Professional Coach Certification Program. Jakarta: Kognisio PT Cipta Adhi Potensia].

 

Kris Banarto, MM, CPMadalah Praktisi Bisnis Properti dan Blogger

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

PROPERTI TV

BERITA TERBARU