Sunday, May 22, 2022

Pentingnya “Coaching” untuk Memaksimalkan Kinerja SDM

"Coaching membuka potensi orang untuk memaksimalkan kinerja mereka sendiri. Hal ini lebih sering membantu mereka untuk belajar daripada mengajar mereka." John Whitmore, author and founder of the GROW Model of Coaching.

- Advertisement -

Oleh: Kris Banarto, MM, CPM

 

Perkembangan teknologi digital telah mengubah ekosistem bisnis. Organisasi dituntut kreatif untuk melakukan perbaikan-perbaikan baik pada sisi manajemen maupun SDM.

Selain itu organisasi harus cerdik menganalisis perubahan perilaku konsumen dan dapat menangkap peluang yang ada sebagai dampak dari perkembangan teknologi digital yang begitu cepat.

Baca Juga: Mau Tahu 5 Poin Penting dalam Menyusun “Marketing Plan?”

Organisasi dapat mempelajari strategi pesaing dan mengalihkan pelanggannya kepada produk atau layanan. Namun, organisasi juga dapat menjalin kolaborasi dengan siapa saja, termasuk kompetitor untuk membuat produk yang disukai konsumen.

Salah satu upaya yang cukup signifikan agar bisnis bertumbuh adalah dengan memaksimalkan kinerja SDM melalui coaching. SDM menjadi human capital yang tak ternilai dan berdampak besar.

Mari kita akan belajar apa itu coaching.

Sejarah Coaching

Isilah coaching pertama kali dikenal tahun 1830, untuk bimbingan para mahasiswa di Oxford University. Kala itu dosen pembimbing yang berhasil menghantarkan mahasiswa lulus dengan baik disebut dengan coach.

Tahun 1861 para pelatih olahraga menggunakan istilah coaching untuk menangani para atlet. Mereka dibimbing melalui latihan agar menjadi atlet yang tangguh dan meraih juara. Kepada pelatih yang berhasil itu dijuluki coach.

Ilustrasi coach olahraga
Ilustrasi coach olahraga. (Foto oleh Andrea Piacquadio dari Pexels)

Baca Juga: Etos Kerja Karyawan Penting untuk Meraih Kinerja Puncak

Adalah John Whitmore, seorang penulis dan atlet balap mobil, bersama dengan Thomas J. Leonard, seorang eksekutif dan penulis memperkenalkan coaching pada dunia bisnis tahun 1970.

Akhirnya tahun 1995, mereka berdua dan teman-temanya mendirikan Internasional Coach Federation (ICF), sebagai organisasi profesi coach.

Pengertian Coaching

Kata harfiah coach berasal dalam bahasa inggris, menunjuk kata sifat berarti kereta, gerbong atau bis wisata atau bis jarak jauh. Sedangkan kata kerjanya berarti mengangkut dengan kereta.

Dengan pengertian itu coach berfungsi untuk menghantarkan orang dari suatu tempat menuju tempat tujuan. Menjadi coach harus bersedia menjadi instrumen atau alat bagi orang lain untuk menemukan versi terbaik dirinya.

Dari pengertian coaching secara harfiah tersebut minimal ada 3 filosofi dalam coaching:

Adanya kebaruan, yaitu menghantarkan individu dari tempat lama kepada tujuan yang baru.

Bahwa tujuan harus sesuai dengan keinginan penumpang atau klien bukan keinginan coach.

Baca Juga: Diperpanjang! Beli Rumah Bebas PPN Hingga Akhir 2021

Menyadarkan individu akan posisinya, sekarang ada di mana dan hendak ke mana. Dengan kata lain asalnya seperti apa dan hendak sebagai apa.

Karena coach sifatnya menghantarkan sesuai dengan tujuan yang diinginkan, maka dalam proses coaching akan terjadi proses-proses antara lain membimbing, mengarahkan, mengajari, melatih, memberi tahu, memantau kemajuan, memberi feedback, berempati dan berbagi pengalaman.

Definisi Coaching menurut ICF

Definisi coaching menurut ICF adalah hubungan kemitraan dengan individu atau kelompok dalam sebuah pemikiran dan proses kreatif yang menginspirasi mereka untuk memaksimalkan pribadi dan potensi profesional dalam pencapaian tujuan.

Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan ada 3 hal utama dalam coaching:

Pertama, Kemitraan

Dalam KBBI mitra diterjemahkan sebagai teman; sahabat; kawan kerja; pasangan kerja; rekan. Merujuk terjemahan ini kemitraan merupakan hubungan yang sejajar antara coach dan coachee (klien atau mitra) layaknya teman.

Kemitraan tidak dapat muncul begitu saja namun, membutuhkan kepercayaan dari coachee. Maka coach harus dapat menjalin kedekatan, keterbukaan dan kesamaan dengan coachee.

Kedua, Proses Kreatif

Coaching merupakan proses kreatif dalam suatu perjalanan pembelajaran dan bukan sekali jadi atau instan. Namun membutuhkan proses panjang.

Coanching sebaiknya melibatkan seni bertanya eksploratif (menjelajah, menyelidiki, menjajaki), membangun ide dan mengetahui potensi coachee. Kemudian memberdayakan dan memaksimalkan potensi itu.

Ketiga, Tujuan

Tujuan utama dari coaching adalah menciptakan perubahan perilaku coachee agar mencapai tujuan yang dinginkan. Dibutuhkan pencapaian kesadaran coachee.

Menjadi tugas yang tidak ringan dari coach untuk dapat menggali potensi coachee dan menghantarkan pada tujuan, mengingat karakter coachee sudah terbentuk lama.

Baca Juga: Optimis Target Marketing Sales Tercapai, Lippo Andalkan Rumah Tapak

Lalu pertanyaannya siapa saja yang perlu membutuhkan coaching?

Semua orang yang ingin maju

Individu-individu bertalenta

Mereka yang berada di masa transisi

Siapa pun yang rindu menemukan makna dalam hidup

Tingginya tuntutan kinerja yang harus dicapai karyawan khususnya di kota-kota besar menuntut  pemilik bisnis membekali para pemimpin organisasi dengan kompetensi coach.

Coaching merupakan proses panjang dan dilakukan secara terus menerus untuk memaksimalkan potensi karyawan. Semakin banyak karyawan dengan kinerja baik akan memajukan perusahaan.

Keberhasilan coaching tidak saja ditentukan oleh keahlian coach namun juga partisipasi dari coachee serta dukungan dari manajemen dan pemilik bisnis. [Rujukan: Falaq Arsendatama, Al. (2021). Professional Coach Certification Program. Jakarta: Kognisio PT Cipta Adhi Potensia].

 

Kris Banarto, MM, CPMadalah Praktisi Bisnis Properti dan Blogger

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

PROPERTI TV

BERITA TERBARU