PropertiTerkini.com, (TOKYO) — Arimasuton Building di Tokyo, Jepang, menjadi contoh bagaimana sebuah karya arsitektur dapat bertahan di tengah tekanan pembangunan perkotaan.
Bangunan beton karya arsitek Keisuke Oka ini dikerjakan secara bertahap sejak 2005 dan dipindahkan sekitar 10 meter pada 2025 menggunakan teknik tradisional Jepang, tanpa harus dibongkar terlebih dahulu, mengutip shinkenchiku.online.
Berlokasi di kawasan Mita, Distrik Minato, Tokyo, bangunan ini dikenal melalui bentuk beton yang tidak simetris, dinding bertekstur kasar, serta jendela dengan sudut yang tidak beraturan.
Penampilannya kontras dengan gedung perkantoran dan hunian yang mendominasi lingkungan sekitarnya. Sejumlah publikasi arsitektur menjulukinya Sagrada Familia of Mita, merujuk pada karakter artistiknya yang tidak lazim.
Arimasuton Building Tokyo Dibangun dengan Metode Manual
Oka memulai pembangunan Arimasuton Building pada 2005 tanpa terlebih dahulu menetapkan seluruh detail desain melalui cetak biru konvensional.
Bentuk bangunan berkembang selama pengerjaan berlangsung, mengikuti keputusan desain dan penyesuaian yang dibuat langsung di lokasi.
Metode tersebut berbeda dari pendekatan konstruksi modern yang umumnya mengandalkan perencanaan terperinci sebelum pekerjaan fisik dimulai.
Dalam wawancara dengan IGNITION pada 2015, Oka menjelaskan pendekatannya melalui keinginan untuk menemukan bentuk bangunan selama proses konstruksi. Ia membandingkan aktivitas tersebut dengan merawat bonsai, ketika hasil akhirnya berkembang melalui perhatian dan penyesuaian berulang.
Meski kerap digambarkan sebagai proyek yang dibangun seorang diri, prosesnya turut melibatkan teman, mahasiswa, seniman, arsitek, dan warga sekitar.
Dalam wawancara dengan Tokyo Weekender pada September 2025, Oka mengatakan, “My own imagination is limited,” sembari menjelaskan bahwa bekerja bersama orang lain membuka kemungkinan yang lebih luas.

Dipindahkan 10 Meter untuk Menghadapi Redevelopment Tokyo
Tantangan terbesar proyek ini muncul ketika kawasan tempat bangunan berdiri masuk dalam rencana pembangunan kembali.
Bangunan-bangunan di sekitarnya dibongkar, sementara Arimasuton Building harus menyesuaikan diri dengan perubahan tata ruang tersebut.
Setelah melalui negosiasi, pemindahan struktur menjadi pilihan untuk mempertahankan bangunan tanpa menghancurkan bentuk utamanya.
Pemindahan dilakukan menggunakan teknik hikiya, metode tradisional Jepang untuk menggeser bangunan secara utuh. Publikasi arsitektur Domus melaporkan pada Juli 2026 bahwa Arimasuton Building telah dipindahkan sekitar 10 meter pada 2025.
Teknik ini memungkinkan struktur dipertahankan tanpa dibongkar menjadi bagian-bagian kecil.
Pelajaran bagi Pasar Properti dan Pembangunan Kota
Kisah Arimasuton Building memperlihatkan bahwa pembangunan kembali kawasan tidak selalu berakhir dengan hilangnya bangunan lama. Dalam kasus ini, pemindahan menjadi alternatif untuk menjaga karya arsitektur sekaligus mengakomodasi perubahan lingkungan perkotaan.
Bagi pasar properti Indonesia, pendekatan tersebut relevan sebagai bahan diskusi tentang pelestarian bangunan, perencanaan kawasan, dan keseimbangan antara nilai ekonomi lahan dengan nilai arsitektur.

Namun, pemindahan bangunan beton tidak dapat diterapkan secara universal karena membutuhkan kajian struktur, kondisi fondasi, biaya, dan kelayakan teknis.
Oka sendiri pernah menjelaskan dalam wawancara dengan Infomart Corporation pada Juli 2024 bahwa ia ingin menemukan cara untuk “build slowly”, atau membangun secara perlahan, sebagai alternatif terhadap budaya produksi yang mengejar efisiensi.
Arimasuton Building kini menjadi contoh bagaimana proses konstruksi, keterlibatan komunitas, dan keputusan mempertahankan bangunan dapat membentuk cerita properti yang lebih luas daripada sekadar pembangunan fisik. Nilainya terletak pada hubungan antara karya arsitektur dan kota yang terus berubah.
AI Ubah Kebutuhan Kantor di Asia Pasifik, 47% Perusahaan Cari Format Ruang Baru
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com dan WA Channel





