PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Penjualan properti PT Summarecon Agung Tbk pada awal 2026 menunjukkan tren yang tetap solid. Pengembang berkode saham SMRA ini membukukan marketing sales sebesar Rp1,2 triliun sepanjang kuartal pertama 2026, naik 37 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kinerja tersebut menjadi sinyal positif bagi sektor properti yang masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari fluktuasi nilai tukar rupiah hingga kenaikan suku bunga acuan.
Baca Juga: Bellefont Summarecon Serpong Bukukan Penjualan Rp600 Miliar dalam 5 Bulan
President Director PT Summarecon Agung Tbk, Adrianto P. Adhi, mengatakan pencapaian tersebut memperlihatkan bahwa permintaan terhadap produk hunian berkualitas masih terjaga, khususnya di segmen menengah dan menengah atas.
“Pasar hunian menengah dan menengah atas tetap menunjukkan resiliensi yang baik terhadap produk-produk Summarecon yang mengedepankan inovasi, kualitas pembangunan yang tinggi, konsep pengembangan kawasan yang terintegrasi, serta memiliki nilai investasi jangka panjang,” ujar Adrianto dalam Public Expose dan RUPS Tahunan Summarecon 2026, Kamis (11/6/2026).
Pertumbuhan penjualan tersebut melanjutkan capaian positif sepanjang tahun 2025. Dalam laporan tahun buku 2025, Summarecon berhasil mencatat marketing sales sebesar Rp5,53 triliun atau melampaui target perusahaan sebesar Rp5 triliun.
Penjualan Summarecon Capai Rp2 Triliun, Pembeli Tunai Makin Dominan
Momentum penjualan ternyata masih berlanjut setelah kuartal pertama berakhir.
Direktur & Corporate Secretary PT Summarecon Agung Tbk, Lydia Tjio mengungkapkan bahwa, hingga akhir Mei 2026, nilai marketing sales telah mencapai sekitar Rp2 triliun atau setara 38 persen dari target tahunan sebesar Rp5,2 triliun.
“Pencapaian tersebut menunjukkan daya tahan pasar yang masih cukup baik di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih,” katanya.
Baca Juga: Bebas Macet ke Jakarta! Jalur MRT Koridor Timur-Barat Bakal Tembus Summarecon Serpong dan Tangerang
Menurutnya, konsumen di segmen menengah atas masih menjadi motor utama penjualan karena memiliki ketahanan finansial yang relatif lebih kuat dibanding segmen lainnya.
Kondisi ini juga tercermin dari pola pembayaran konsumen yang mulai mengalami perubahan, dimana sepanjang 2025 hingga awal 2026 porsi pembelian melalui Kredit Pemilikan Rumah (KPR) mengalami penurunan.
Jika sebelumnya kontribusi KPR bisa mencapai lebih dari 50 persen, kini porsinya turun menjadi sekitar 40 persen. Sebaliknya, transaksi melalui pembayaran tunai keras maupun cicilan bertahap (cash bertahap) semakin mendominasi.
“Di tahun 2025 sampai dengan lima bulan pertama tahun 2026, cara bayar yang terbanyak itu adalah cash keras dan cash bertahap. Sedangkan KPR memang sudah mengalami penurunan, yang sebelumnya bisa mencapai lebih dari 50 persen, sekarang sekitar 40 persen,” terang Lydia.
Menurutnya, pembeli di segmen menengah dan menengah atas yang menjadi pasar utama Summarecon saat ini cenderung memiliki fleksibilitas pendanaan yang lebih baik sehingga tidak terlalu bergantung pada pembiayaan perbankan.
Baca Juga: Summarecon Tutup Rangkaian Operasi Katarak Gratis HUT ke-50 di Bandung
Dominasi pembayaran tunai dan cicilan bertahap tersebut menunjukkan likuiditas pasar premium masih relatif kuat meskipun biaya pinjaman mengalami kenaikan akibat penyesuaian suku bunga.
Kondisi itu turut membantu menjaga stabilitas penjualan properti Summarecon di tengah tantangan ekonomi yang masih berlangsung sepanjang 2026.
PPN DTP Masih Jadi Pendorong Pasar
Selain didukung segmen pasar yang relatif tangguh, penjualan properti juga terbantu oleh keberlanjutan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP).
Lydia menyebut program tersebut masih memberikan dampak positif bagi konsumen maupun pengembang.
“Hingga Mei 2026, penjualan produk kami yang memanfaatkan fasilitas PPN DTP telah mencapai sekitar Rp874 miliar,” katanya.
Baca Juga: Summarecon Bandung Raih Penghargaan Urban Regeneration Tingkat Asia
Adapun target penjualan yang memanfaatkan program tersebut sepanjang tahun ini dipatok sebesar Rp1,6 triliun.
Adrianto menambahkan, insentif tersebut menjadi salah satu kebijakan yang efektif karena memberikan manfaat langsung kepada pembeli rumah sekaligus mendorong percepatan pembangunan proyek.
“PPN DTP merupakan kebijakan yang sangat baik dan masih dibutuhkan industri properti,” tegasnya.
Summarecon Fokus pada Sembilan Kota Terpadu
Untuk mencapai target marketing sales tahun 2026 sebesar Rp5,2 triliun, Summarecon mengandalkan kontribusi dari sembilan kawasan kota terpadu yang saat ini dikembangkan.
Kawasan tersebut meliputi Summarecon Kelapa Gading, Summarecon Serpong, Summarecon Bekasi, Summarecon Bogor, Summarecon Bandung, Summarecon Emerald Karawang, Summarecon Mutiara Makassar, Summarecon Crown Gading, dan Summarecon Tangerang.
Baca Juga: Summarecon Mall Makassar Masuk Tahap Konstruksi Utama, Jadi Pusat Lifestyle Baru Indonesia Timur
Di antara seluruh kawasan tersebut, Summarecon Serpong masih menjadi kontributor terbesar terhadap penjualan perusahaan dengan porsi sekitar 45 persen.
Menurut Adrianto, kinerja tersebut tidak lepas dari perkembangan kawasan Serpong yang terus tumbuh sebagai salah satu pusat hunian dan komersial terbesar di Jabodetabek.
“Summarecon Serpong masih unggul memberi kontribusi terbanyak di township Summarecon. Di kawasan Serpong memang banyak pengembang besar, tetapi justru itu menjadi daya tarik tersendiri. Kami dan para pengembang di sekitar kawasan tersebut bisa bersinergi dengan baik, bahkan dalam berbagai aspek pengembangan kawasan,” ujar Adrianto.

Ia menilai keberadaan sejumlah pengembang besar di koridor Serpong justru menciptakan ekosistem yang semakin matang dan memperkuat daya tarik kawasan bagi masyarakat maupun investor properti.
“Masing-masing pengembang mendapatkan manfaat positif. Persaingan tetap ada, tetapi perkembangan kawasan yang semakin lengkap membuat pasar tumbuh bersama,” tambahnya.
Baca Juga: Emerald Commercial Jadi Pusat Bisnis Baru di Summarecon Crown Gading
Perseroan juga menegaskan akan tetap mengedepankan pengelolaan kas secara prudent, menjaga kualitas produk, serta terus berinovasi dalam menghadapi perubahan pasar dan dinamika ekonomi yang berkembang sepanjang tahun 2026.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com dan WA Chanel





