Monday, September 27, 2021
Pasang Iklan disini ....

Seberapa Besar Peran Founder dalam Membentuk Corporate Culture?

Para pembaca pasti mengenal siapa yang merajai industri sepeda motor di tanah air? Ya sepeda motor Honda!

Oleh: Kris Banarto, MM, CPM

 

Tetapi tahukah merek Honda sebagai pemimpin pasar didirikan oleh seorang yang tidak tamat sekolah?

Soichiro Honda founder atau pendiri sepeda motor Honda, kala itu berumur 16 tahun lebih memilih berhenti dari sekolah dan belajar mekanik secara otodidak.

Melihat hal itu lantas ayahnya Gehei Honda menitipkan anaknya ke direktur bengkel mobil Art di Tokyo. Bukan sebagai karyawan bengkel, namun sebagai pengasuh bayi sang direktur!

Baca Juga: Blue Ocean Strategy, Solusi Bisnis yang Kompetitif

Selama tinggal di rumah tersebut Soichiro secara diam-diam ikut belajar di bengkel sembari membaca buku sewaan mengenai mekanik.

Rupanya ketekunannya membuahkan hasil. Ketika bengkel penuh pelanggan Soichiro diminta untuk membantu melakukan perbaikan, dan ternyata dia menunjukkan kemampuannya.

Melihat kemampuannya bos Art mengangkat Soichiro menjadi mekanik pada bengkel tersebut. Dan akhirnya ditunjuk sebagai kepala bengkel Art cabang Hamamatsu pada usia 22 tahun.

Selama menjadi kepala bengkel ia dikenal keras dan disiplin tinggi, dalam 3 tahun bengkelnya maju. Semula yang hanya ada 1 karyawan menjadi 50 karyawan.

Pada usia 31 tahun Soichiro mendirikan pabrik ring piston merek Tokai Saiki, sedangkan kepala bengkel diserahkan kepada anak buahnya untuk melanjutkan. Namun nahas perang dunia II tahun 1945 berkecamuk yang mengakibatkan pabrik yang ia bangun hancur.

Setelah itu Soichiro sempat mendirikan pabrik tenun, namun hanya bertahan sebentar dan bangkrut karena keterbatasan modal.

Baca Juga: Perbedaan Bunga Flat, Efektif dan Anuitas yang Perlu Dipahami Nasabah

Pria kelahiran Hamamatsu, Jepang, 17 November 1906 itu tidak putus asa. Berawal dari merakit sepeda yang di tempel mesin pemancar radio, jadilah sepeda bermesin radio. Meski sepeda dapat beroperasi jika mesinnya dipanaskan dalam api dan digenjot selama 30 menit terlebih dahulu.

Akhirnya Soichiro mengembangkan sepeda motor mesin 2 tak 98 CC dengan kecepatan maksimal 50 kilometer per jam. Soichiro bekerja sama dengan ahli pemasaran Fujisawa membangun pabrik sepeda motor dan memproduksi sepeda motor mesin 4 tak.

Kini Honda Motor Company, Ltd tidak saja memproduksi sepeda motor, namun juga skuter, mobil, truk, ATV, generator, mesin kelautan dan peralatan taman. Honda menjadi produsen sepeda motor terbesar dunia sejak tahun 1959.

Keberhasilan industri raksasa Honda tidak lepas dari peran besar sang pendiri Soichiro Honda. Ia dikenal sebagai pribadi yang gigih, tekun, disiplin, kerja keras, pantang menyerah, dedikasi dan mau belajar.

Karakter dan nilai-nilai dari Soichiro Honda merupakan filosofi dalam bekerja yang dibangun di dalam perusahaannya menjadi budaya organisasi atau corporate culture.

Pengertian Budaya Organisasi

Menurut Mowat (2002) budaya organisasi adalah “the personality of the organization: the shared beliefs, values and behaviours of the group. It is symbolic, holistic, and unifying, stable, and difficult to change.”

Budaya organisasi adalah keyakinan, nilai, dan perilaku kelompok bersama, merupakan simbolis, holistik, dan pemersatu, stabil, dan sulit diubah. Artinya budaya organisasi sulit untuk diubah karena sudah menjadi kebiasaan yang sudah berlangsung lama.

Baca Juga: Karawang Green Village 3 Buktikan Peminat Rumah di Karawang Tetap Tinggi

Budaya organisasi merupakan pembeda antara perusahaan satu dengan lainnya. Organisasi dapat merekrut orang hebat dan meniru produk tetapi tidak bisa menerapkan budaya organisasi perusahaan lain ke dalam perusahaannya.

Proses Terbentuknya Budaya Organisasi

Menurut Robbins (2008) dibutuhkan waktu yang lama untuk dapat membentuk budaya organisasi. Sekali terbentuk, budaya tersebut cenderung berakar.

Pembentukan budaya organisasi menurut Robbins
Pembentukan budaya organisasi menurut Robbins. (sumber Kajian Pustaka.com)

Budaya organisasi diturunkan dari filosofi pendiri kemudian filosofi tersebut menjadi kriteria yang digunakan di dalam merekrut manajemen puncak.

Manajemen puncak memberikan sosialisasi kepada para karyawan dan dilakukan secara terus menerus menjadi visi dan misi perusahaan sehingga terbentuklah budaya organisasi.

Ada 4 Tipe Budaya Organisasi

Budaya organisasi akan mewarnai perusahaan dalam merekrut karyawan. Menurut Profesor Manajemen Jeffey Sonnenfeld dari Yale School of Management, ada 4 tipe budaya organisasi

4 tipe budaya organisasi Sonnenfeld
4 tipe budaya organisasi Sonnenfeld. (Sumber: tangkapan dari Slideplayer.com)

  1. Akademi

Tipe ini perusahaan cenderung memilih karyawan dari para lulusan fresh graduate, lalu diberikan pelatihan dan penempatan kerja yang tepat. Mereka beralasan karyawan dari lulusan perguruan tinggi lebih cerdas dan mendetail dalam mengerjakan tugas.

  1. Klub

Perusahaan fokus pada karyawan yang dapat bekerja sama dalam tim. Karyawan dengan komitmen tinggi dan kesetiaan akan mempermudah organisasi dalam mencapai tujuan.

  1. Tim Bisbol

Organisasi menyukai karyawan yang berbakat, berpengalaman, berani mengambil risiko, agresif dan seorang inovator. Perusahaan menawarkan insentif yang besar dan reward bagi karyawan yang berprestasi. Umumnya organisasi ini berorientasi pada hasil dibandingkan proses.

  1. Benteng atau Fortress

Tipe benteng adalah perusahaan yang ingin aman dan mempertahankan budaya yang sudah baik. Perusahaan cenderung mempertahankan karyawan yang ada dan enggan untuk merekrut karyawan baru kecuali untuk mengisi kekosongan.

Dalam implementasinya jarang perusahaan yang hanya memilih satu tipe. Namun dari 4 tipe tersebut dapat digabung dengan fokus pada tipe tertentu. Adanya pilihan tipe ini perusahaan dapat memperbaiki kelemahan dan mengembangkan kelebihan budaya organisasi meskipun tidak mudah.

Baca Juga: Cove Hillcrest, Co-Living Mahasiswa Pertama Asia Tenggara, Mulai Rp4 Jutaan

Pendiri perusahaan sangat penting dalam mewujudkan budaya organisasi. Jika filosofi pendiri buruk maka kemungkinan besar budaya organisasi akan buruk.

Di sini akan berlaku seleksi alam, perusahaan dengan budaya organisasi yang tidak baik akan menghasilkan produk atau jasa yang buruk. Akhirnya perusahaan tidak akan berkembang dengan baik.

Peran kementerian pendidikan dan kebudayaan serta sekolah / perguruan tinggi cukup besar untuk menghasilkan para pengusaha yang berkarakter melalui mata kuliah atau pelatihan kewirausahaan di dalam kampus. [Rujukan: Asikbelajar.com; Biografiku.com; Actconsulting.co; Kajian Pustaka.com]

 

Kris Banarto, MM, CPM, Praktisi Bisnis Properti dan Blogger

BERITA TERKAIT

PROPERTI TV

BERITA TERBARU