Saturday, October 23, 2021

Perlukah Manajer Mengukur Employee Satisfaction?

Melalui survei kepuasan karyawan, kamu tidak penasaran dan meraba-raba mana karyawan yang sudah puas dan belum. 

Oleh: Kris Banarto, MM, CPM

 

Sebagai manajer kamu jangan terlena ya dengan kinerja yang telah dicapai, jangan-jangan kinerjanya masih bisa ditingkatkan atau mungkin ada beberapa karyawan telah merencanakan untuk resign?

Alasan untuk berpindah kerja bisa banyak sebab, namun yang umum terjadi adalah mereka tidak puas atas pekerjaannya. Ketika tidak puas itulah muncul niat untuk pindah ke perusahaan lain.

Baca Juga: Mengenal 4 Prinsip Sukses Abadi dalam Bisnis

Tentunya semakin banyak karyawan yang tidak puas bekerja akan meningkatkan turn over. Jika demikian maka kinerja organisasi tidak akan maksimal.

Ketidakpuasan karyawan juga berhubungan dengan keterlibatan karyawan (employee engagement). Karyawan yang tidak puas akan terbatas keterlibatannya dalam proses bisnis.

Kamu tidak dapat mengharapkan karyawan berkinerja tinggi kepada mereka yang tidak nyaman dalam bekerja. Umumnya mereka akan bekerja rata-rata dan cenderung tidak produktif.

Meningkatkan kepuasan karyawan menjadi jalan keluar untuk meningkatkan keterlibatan karyawan dan dalam rangka mencapai kinerja puncak.

Bisa saja kinerja organisasi meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, itu bisa disebabkan karena bisnis sedang tumbuh dan tidak terkait dengan kepuasan karyawan.

Baca Juga: Selain KPR, Kenali 4 Jenis Pinjaman Bank Sebelum Beli Rumah

Jika demikian apa yang harus dilakukan?

Sebagai manajer sebaiknya mengetahui tingkat kepuasan karyawan dengan cara melakukan survei kepuasan karyawan. Hasil dari survei dapat digunakan pedoman untuk membuat strategi human resources yang tepat.

Pentingnya Employee Satisfaction

Survei kepuasan karyawan dapat memberi tahu kita bagaimana keadaan tim yang sebenarnya. Informasi yang ada dapat dipergunakan untuk membuat program retensi atau mempertahankan karyawan.

Karyawan yang puas akan cenderung untuk tetap bertahan dan tidak berniat untuk berpindah kerja. Karyawan yang berpindah kerja kemungkinan besar mereka tidak nyaman dan bahagia dalam bekerja.

Baca Juga: Menakar Kelayakan Lahan Berdasarkan “Highest and Best Use”

Karyawan yang puas akan berpikir keras untuk memajukan organisasi, sehingga mereka akan lebih produktif dibandingkan dengan karyawan yang tidak puas. Bahayanya mereka yang tidak puas akan berperilaku negatif dan memengaruhi rekan-rekan kerja.

Perilaku yang buruk itu dapat merusak tim dan organisasi bisnis dan jika dibiarkan dapat memengaruhi budaya organisasi yang telah terbentuk lama.

Metode Mengukur Kepuasan Karyawan

Mungkin kamu berpikir tim baik-baik saja dan tidak pernah mendengar keluhan karyawan. Namun bisa jadi di balik “diam” mereka ada tidak puas dalam bekerja.

Maka sebagai pemimpin perlu mendapatkan uman balik dari tim dan mengetahui kondisi yang sebenarnya.

Employee Satisfaction Survey

Survei kepuasan karyawan merupakan salah satu metode yang efektif untuk mengukur tingkat kepuasan karyawan.

Saat ini sudah tersedia fasilitas yang mudah dan praktis untuk membuat kuesioner melalui Google Forms.

Kuesioner dapat berupa harapan kepada manajemen, lingkungan kerja, bagaimana hubungan dengan rekan kerja, kesejahteraan karyawan, karier, lingkup pekerjaan, dan sebagainya.

Pastikan pertanyaan mudah dipahami dan hindari pertanyaan ambigu atau bermakna ganda agar tidak membingungkan.

Baca Juga: Kamu Termasuk Fixed Mindset atau Growth Mindset?

Kamu bisa melakukan koordinasi dengan bagian HRD agar pertanyaan lebih efektif.

Jawaban dapat berupa skor 1 -10, dengan skor besar semakin mendekati kebenaran atau menyetujui pertanyaan. Berikut ini beberapa contoh pertanyaan:

  • Apakah Anda senang dengan peluang pertumbuhan atau karier di perusahaan ini?
  • Apakah Anda merasa dihargai atas dedikasi dan komitmen terhadap pekerjaan?
  • Sebagai bagian dari tim, apakah Anda menikmati?
  • Apakah tim memberikan dukungan yang Anda butuh kan di tempat kerja?
  • Apakah tim di mana Anda bekerja menghargai waktu pribadi Anda (misalnya menjalankan ibadah)?
  • Menurut Anda apakah pembagian kerja di distribusikan secara merata di antara tim?
  • Seberapa puas Anda dengan tempat kerja sekarang ini?
  • Seberapa baik perusahaan ini memenuhi harapan Anda?
  • Apakah pekerjaan di perusahaan ini merupakan pekerjaan ideal Anda?
  • Seberapa besar Anda akan memberikan rekomendasi kepada orang lain untuk bekerja di perusahaan ini?

Setelah jawaban terkumpul kamu dapat mengolah jawaban dengan rumus.

Tingkat Kepuasan = (Total Skor Jawaban/Jumlah Soal -1)/9 x 100

Misalnya total skor jawaban 90, maka hasilnya (90/10-1)/9 x 100 = 88.9 jadi total skor 88.9.

Skor 90 -100 berarti karyawan dengan kategori puas, skor 70-80 adalah karyawan rata-rata yang perlu ditingkatkan menjadi puas dan jangan sampai turun ke kategori terbawah.

Skor 0-6 adalah kategori terbawah, karyawan yang tidak puas atas pekerjaannya dan berpotensi menjadi toxic atau racun.

Kamu juga dapat mempelajari pertanyaan mana saja yang skornya cukup rendah, berarti bagian tersebut yang perlu mendapatkan perhatian dan perlu adanya perbaikan.

Melalui survei kepuasan karyawan, kamu tidak penasaran dan meraba-raba mana karyawan yang sudah puas dan belum.

Informasi yang diperoleh dapat menjadi data penting untuk memberikan masukan kepada manajemen dan membuat strategi human resources yang tepat.

Baca Juga: Astra Modern Land Lengkapi ASYA dengan Area Komersial Genova

Data yang ada tanpa follow-up akan menjadi data yang mati. Maka segera merumuskan langkah-langkah strategis bersama dengan departemen terkait. Akan menjadi lebih baik jika ada rencana kerja disertai dengan rencana aksi dan target pencapaian. [Rujukan: Blog.hubstaff.com]

 

Kris Banarto, MM, CPM, adalah Praktisi Bisnis Properti dan Blogger

BERITA TERKAIT

Pasang Iklan disini ...

PROPERTI TV

BERITA TERBARU