PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Distribusi hotel berbasis AI mulai membentuk ulang cara akomodasi ditemukan dan dipesan. Perubahan ini terasa cepat, tapi sebenarnya sudah lama bergerak di belakang layar. Data terbaru bahkan menunjukkan sebagian besar wisatawan kini ingin dibantu AI saat mencari hotel.
Di titik ini, pertanyaannya bukan lagi apakah kecerdasan buatan atau AI akan digunakan, tetapi seberapa cepat industri beradaptasi.
Baca Juga: Hanya 16% Penginapan Kecil Fokus Akuisisi Tamu Baru, SiteMinder Luncurkan Little Hotelier Terbaru
SiteMinder melihat celah itu. Platform hotel commerce global ini memperluas sistem distribusinya agar tetap relevan di tengah perubahan perilaku pencarian. Fokusnya sederhana: hotel tetap terlihat, tetap bisa dipesan, meski cara orang mencari sudah berubah.
Selama ini, distribusi hotel sangat bergantung pada OTA dan metasearch, namun pola itu mulai bergeser. Demand Plus, yang sebelumnya terintegrasi dengan Google, Trivago, dan TripAdvisor, kini masuk ke ekosistem AI berbasis percakapan seperti ChatGPT dan Claude.
Perubahan ini membuat proses pencarian terasa lebih singkat. Wisatawan tidak lagi membuka banyak tab, tetapi cukup bertanya. Dari situ, rekomendasi hotel muncul lengkap dengan harga real-time, lalu bisa langsung diarahkan ke situs resmi hotel untuk menyelesaikan pemesanan.
Di saat yang sama, Channels Plus juga diperluas. Jalur ini membuka akses inventaris hotel ke platform OTA yang sudah mengadopsi AI. Proses pencarian hingga booking terjadi di dalam platform tersebut, kemudian diteruskan ke sistem hotel.
Baca Juga: 80% Wisatawan Indonesia Pilih Hotel ‘Budaya Lokal’, Ini Alasannya!
Dua pendekatan ini berjalan bersamaan. Satu menguatkan direct booking, satu lagi menjaga jalur distribusi tidak langsung tetap relevan. Keduanya ditopang AI.
Distribusi Hotel Berbasis AI Jadi Titik Baru Persaingan
Perubahan ini tidak berdiri sendiri, ada dorongan kuat dari sisi konsumen.
Laporan Changing Traveller Report 2026 mencatat delapan dari sepuluh wisatawan menginginkan bantuan AI dalam proses pemesanan.
Artinya, perjalanan konsumen ikut berubah. Proses yang dulu panjang kini dipangkas. Dari sekadar bertanya, rekomendasi langsung muncul, lalu berujung pada transaksi.
CEO dan Managing Director SiteMinder, Sankar Narayan, melihat ini sebagai pergeseran mendasar.
“Seiring dengan semakin pesatnya penemuan hotel yang didorong oleh AI, kami memperluas Demand Plus dan Channels Plus untuk memberikan properti cara baru agar dapat ditemukan dan mengonversi permintaan melalui jalur-jalur baru ini,” ujarnya.
Baca Juga: Harga Rumah Naik di 11 Kota, Jakarta Mulai Kehilangan Dominasi
Pendekatan ini mendorong satu realitas baru. Hotel tidak cukup hanya hadir di OTA. Kehadiran harus diperluas ke titik-titik pencarian berbasis AI.
SiteMinder juga menggandeng DirectBooker sebagai mitra AI pertama. Perannya menghubungkan tarif hotel secara real-time ke berbagai platform AI, termasuk yang masih berkembang.
CEO DirectBooker, Sanjay Vakil, menyebut perubahan ini membuka jalur baru. “AI membuka pintu baru bagi pencarian hotel, dan setiap hotel berhak ditemukan melalui jalur ini,” katanya.
Di sisi lain, ada risiko yang tidak kecil. Jika data hotel tidak masuk ke ekosistem AI, visibilitas akan turun. Dalam konteks digital, itu berarti peluang booking ikut menyusut.
Norman Arundel, Director of Hotels and Resorts at EVT melihatnya cukup jelas, “AI kini menjadi bagian dari cara para pelancong menemukan dan memilih tempat menginap… sangat penting agar hotel dapat ditemukan dalam lingkungan tersebut.”
Baca Juga: Perang Timur Tengah Bisa Picu Kenaikan Harga Properti 2026, Begini Penjelasannya!

Semua ini ditopang oleh Model Context Protocol (MCP), standar teknis yang memungkinkan AI mengakses data hotel secara langsung dan real-time. Tanpa ini, informasi yang muncul berisiko tidak akurat atau sudah usang.
Dengan sistem yang terus diperbarui, harga dan ketersediaan kamar bisa langsung disesuaikan. Ini penting karena keputusan booking sekarang terjadi jauh lebih cepat.
Saat ini, SiteMinder terhubung dengan lebih dari 53.000 hotel di 150 negara, mencakup 2,5 juta kamar dan ratusan juta malam kamar setiap tahun.
Baca Juga: Kohler Ubah Cara Pandang Kamar Mandi, Tren 2026 Bergeser ke Area Wellness
Skalanya besar, sehingga perubahan strategi ini bukan eksperimen. Dampaknya langsung terasa ke pasar.
Pada akhirnya, distribusi hotel tidak lagi sekadar soal channel. Arahnya bergeser ke satu hal: hadir di ekosistem AI, di saat pencarian terjadi.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com




