BERITA TERKAIT

Harga Rumah Naik di 11 Kota, Jakarta Mulai Kehilangan Dominasi

Kenaikan harga rumah mulai menyebar ke berbagai kota besar di Indonesia. Jakarta tidak lagi menjadi satu-satunya penentu arah pasar properti nasional.

PropertiTerkini.com(JAKARTA) — Pergerakan pasar mulai berubah. Harga rumah naik di 11 kota secara tahunan pada Maret 2026, dan itu memberi sinyal yang cukup jelas, yaitu arah pertumbuhan properti tidak lagi bertumpu pada Jakarta.

Secara nasional, harga rumah sekunder tercatat tumbuh 1,6% secara bulanan. Angka ini memang terlihat moderat, tetapi konteksnya berbeda. Kenaikan terjadi setelah sempat mengalami kontraksi di bulan sebelumnya, sekaligus muncul hampir bersamaan di banyak kota.

Baca Juga: Properti Tangerang Salip Jakarta Selatan, 14,8% Pencarian Terkonsentrasi di Koridor Barat

Yang terasa berubah bukan hanya angka, tetapi pola. Jika sebelumnya pergerakan harga sering terkonsentrasi di Jakarta, kini justru kota-kota lain mulai mengambil peran lebih besar.

Perubahan ini membuat pasar terlihat lebih merata. Tidak lagi satu pusat, tetapi beberapa titik pertumbuhan yang bergerak bersamaan, menurut laporan Flash Report April 2026 by Rumah123.

Harga Rumah Naik di 11 Kota, Pusat Pertumbuhan Bergeser

Kenaikan paling menonjol datang dari kota-kota di luar Jakarta. Yogyakarta mencatat pertumbuhan harga sekitar +5,0% secara tahunan. Denpasar +4,5% YoY dan Makassar mengikuti dengan kenaikan di atas +4,4% YoY.

Kota-kota ini punya karakter yang berbeda, tetapi ada benang merah yang sama: dorongan infrastruktur dan perubahan basis pembeli.

Baca Juga: PropVaganza 2026 Rumah123 Hadirkan 5 Lokasi Pameran di Tengah Tren Bunga KPR 4,75 Persen

Yogyakarta mulai terangkat oleh konektivitas Tol Solo-Jogja yang membuka akses baru. Denpasar mendapat tambahan permintaan dari kebijakan yang mempermudah pembelian oleh warga negara asing.

Makassar, di sisi lain, berkembang sebagai pusat ekonomi kawasan timur. Aktivitas ekonomi yang meningkat ikut mendorong kebutuhan hunian, terutama dari kelompok usia produktif.

Di kawasan sekitar Jakarta, pergerakan tetap ada meski tidak seagresif kota-kota tersebut. Bekasi, Bogor, dan Tangerang mencatat kenaikan harga yang relatif stabil, didorong oleh limpahan permintaan dari pusat kota dan ekspansi kawasan industri.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan mulai menyebar. Tidak lagi terkunci di satu wilayah.

Baca Juga: Harga Rumah Jakarta Makin Jomplang, Selisihnya Tembus 3 Kali Lipat

Jakarta Masih Terkoreksi, Pasar Masuk Fase Penyesuaian

Berbeda dengan kota lain, Jakarta masih mencatat penurunan harga secara tahunan. Koreksi ini sudah berlangsung selama beberapa waktu dan belum sepenuhnya pulih.

Namun, ada tanda yang mulai berubah. Secara bulanan, harga mulai bergerak naik. Ini sering dianggap sebagai fase awal menuju titik keseimbangan baru.

Salah satu faktor yang memengaruhi adalah kelebihan pasokan, terutama di segmen tertentu seperti apartemen. Di sisi lain, daya beli belum sepenuhnya mampu mengikuti harga yang sempat berada di level tinggi.

Head of Research Rumah123, Marisa Jaya, menyebut kondisi ini sebagai bagian dari pergeseran yang lebih besar.

“Lonjakan jumlah kota yang mencatat kenaikan harga tahunan mengonfirmasi bahwa momentum pemulihan tidak lagi bersifat terpusat. Kami melihat adanya pergeseran struktural ke kota-kota dengan fundamental ekonomi yang kuat,” ujarnya.

Baca Juga: Aneh Tapi Nyata: Saat Inflasi Naik, Harga Rumah Justru Turun

Dengan kondisi ini, Jakarta tetap menjadi pasar penting, tetapi tidak lagi mendominasi sepenuhnya.

Supply Menyusut, Tekanan Harga Mulai Terbentuk

Selain harga, indikator lain yang ikut bergerak adalah suplai. Jumlah rumah sekunder di pasar tercatat menurun sekitar 8,1% secara tahunan.

Penurunan ini terjadi saat minat pencarian masih aktif. Kombinasi ini biasanya mendorong harga untuk naik, karena pilihan di pasar menjadi lebih terbatas.

Perubahan ini juga menggeser posisi pasar. Jika sebelumnya pembeli memiliki lebih banyak pilihan dan ruang negosiasi, kini situasinya mulai berbalik.

“Pasar secara bertahap bergerak dari buyer’s market menuju seller’s market,” kata Marisa.

Baca Juga: Perang Timur Tengah Bisa Picu Kenaikan Harga Properti 2026, Begini Penjelasannya!

Dari sisi makro, kondisi masih relatif mendukung. Suku bunga acuan berada di level 4,75% dan inflasi mulai terkendali, yang ikut menjaga stabilitas pasar.

Situasi ini membuka peluang kenaikan harga lebih lanjut dalam beberapa waktu ke depan.

Arah Baru Pasar Properti Mulai Terlihat

properti Makassar akhir 2025
Jade 2 Residence di kawasan Summarecon Mutiara Makassar. (Dok. Summarecon Mutiara Makassar)

Perubahan yang terjadi tidak terasa seperti pergerakan jangka pendek. Ada pergeseran yang lebih mendasar dalam cara pasar berkembang.

Kota dengan akses infrastruktur yang membaik, harga yang masih rasional, dan kualitas hidup yang meningkat mulai menjadi pilihan utama. Sementara Jakarta masuk ke fase penyesuaian setelah periode pertumbuhan yang panjang.

Jika tren ini berlanjut, peta properti Indonesia akan semakin tersebar. Peluang tidak lagi terkonsentrasi di satu kota, tetapi terbuka di banyak wilayah dengan karakter yang berbeda.

Baca Juga: Pasar Properti 2026 Masuk Fase Transisi: Pasok Baru Turun hingga 80%, Pemulihan Mulai Terlihat

Pasar bergerak lebih luas. Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu, arah pertumbuhan tidak lagi hanya ditentukan oleh Jakarta.

***
Untuk berita santai yang tak kalah serumampir juga kePropertiPlus.com

*** Baca berita lainnya di GoogleNews
——— KONTAK REDAKSI:
Telepon/WA: 0821 2543 0279
Email Redaksi: redaksi@propertiterkini.com
Email Iklan: iklan@propertiterkini.com

BERITA TERBARU

Demo Half Page