PropertiTerkini.com, (JAKARTA) — Pasar properti 2026 mulai memasuki fase pemulihan, meskipun belum merata di semua sektor. Aktivitas meningkat, tetapi sebagian besar masih didorong oleh relokasi dan penyesuaian strategi bisnis.
Pasok baru juga mengalami penurunan signifikan. Khusus sektor apartemen, tambahan pasok periode 2026–2029 hanya sekitar 3.100 unit, jauh lebih rendah dibandingkan periode 2020–2025 yang mencapai sekitar 19.300 unit.
Baca Juga: Koridor Timur Kuasai 72,8% Pasar Logistik Greater Jakarta, Jadi Episentrum Gudang Modern
Penurunan ini setara dengan hampir 80% secara kumulatif, mencerminkan perubahan strategi developer yang kini lebih fokus pada penyerapan stok lama.
“Pasar sudah mulai menuju fase pemulihan, tapi belum merata di semua sektor,” ujar Ferry Salanto, Head of Research Colliers Indonesia dalam laporan Perkembangan Sektor Properti Q1 2026 JaBoDeTaBek & Bali, beberapa waktu lalu.
Apartemen: Pasok Turun, Harga Stabil, Ready Stock Dominan
Menurut data menurut data Colliers Indonesia, sektor apartemen menunjukkan perubahan paling jelas.
Harga apartemen relatif stabil di kisaran Rp36 juta–Rp36,2 juta per meter persegi, tanpa kenaikan signifikan dalam beberapa periode terakhir.
Dari sisi penjualan, sekitar 60% transaksi berasal dari unit siap huni (ready stock), bukan proyek baru. Ini menunjukkan preferensi pembeli yang semakin mengutamakan kepastian.
Di sisi lain, stok unit masih cukup besar. Tercatat sekitar 29.000 unit apartemen belum terserap di pasar, mayoritas merupakan unit siap huni.
Baca Juga: Investor Perempuan Dominasi 52 Persen, Saat Inflasi 4,76% Picu Properti Undervalued
Wilayah dengan konsentrasi pasok terbesar masih berada di Jakarta, khususnya area CBD dan sekitarnya, diikuti oleh kawasan penyangga seperti Bekasi dan Tangerang.
Kondisi ini membuat developer lebih fokus menghabiskan stok lama dibandingkan meluncurkan proyek baru.
Rumah Tapak: Lebih Stabil, Harga Mulai Tertekan Biaya Konstruksi
Berbeda dengan apartemen, sektor rumah tapak menunjukkan pergerakan yang lebih stabil.
Permintaan tetap terjaga, terutama dari end-user. Hal ini membuat sektor ini relatif lebih tahan dibandingkan apartemen.
Namun, tekanan mulai muncul dari sisi biaya konstruksi. Kenaikan harga material dan logistik berpotensi mendorong harga rumah tapak ke depan.
Menurut pengamatan Colliers, segmen menengah ke atas masih cukup kuat, terutama di kawasan berkembang seperti Tangerang, Bekasi, dan koridor timur Jakarta.
Baca Juga: Green Building Makin Dilirik: Saat Biaya Energi Naik, Bangunan Hemat Jadi Andalan
“Untuk segmen atas, dampaknya tidak terlalu signifikan ke daya beli. Kalau sudah cocok, tetap dibeli,” kata Ferry.
Hal ini menunjukkan bahwa faktor kebutuhan dan kualitas produk masih menjadi penentu utama di sektor ini.
Perkantoran: Ruang Kosong 3 Juta m², Pasar Masih Tenant Market
Masih menurut data Colliers, sektor perkantoran di Jakarta masih menghadapi tekanan dari sisi pasokan berlebih.
Total ruang kosong tercatat mencapai sekitar 3 juta meter persegi, menjadikan pasar masih berada dalam kondisi tenant market.
Permintaan yang ada sebagian besar berasal dari relokasi, bukan ekspansi.
Perusahaan cenderung berpindah ke gedung dengan kualitas lebih baik atau biaya lebih efisien, terutama di kawasan CBD Jakarta yang masih menjadi lokasi utama.
Baca Juga: Perang Timur Tengah Bisa Picu Kenaikan Harga Properti 2026, Begini Penjelasannya!
“Permintaan naik, tapi yang dominan relokasi, bukan ekspansi,” ungkap Ferry.
Harga sewa masih cenderung stagnan, sementara insentif seperti diskon dan fleksibilitas kontrak menjadi strategi utama pemilik gedung untuk menarik tenant.
Industri & Logistik: Okupansi 95,8%, Sektor Paling Stabil
Sektor industri dan logistik menjadi yang paling kuat dalam lanskap properti 2026.
Menurut Colliers, tingkat hunian gudang modern mencapai sekitar 95,8%, mendekati kondisi penuh.
Permintaan didorong oleh pertumbuhan e-commerce, logistik last-mile, serta perkembangan industri kendaraan listrik (EV).
Kawasan seperti Karawang, Bekasi, dan Cikarang menjadi pusat aktivitas utama sektor ini.
Baca Juga: Harga Rumah Naik di 11 Kota, Jakarta Mulai Kehilangan Dominasi
Pasok baru tetap ada, tetapi masih seimbang dengan permintaan yang terus meningkat.
Kondisi ini membuat sektor logistik menjadi salah satu yang paling stabil dan menarik bagi investor.
Ritel & Hotel: Premium Tumbuh, Experience Jadi Kunci
Di sektor ritel, terjadi kesenjangan performa antara mall premium dan menengah.
Mall premium mencatat tingkat okupansi mendekati 90%, sementara mall menengah masih berada di kisaran 50–60%.
Tenant yang bertahan didominasi oleh sektor F&B dan hiburan, menunjukkan pergeseran ke ekonomi berbasis pengalaman (experience economy).
Sementara itu, sektor hotel juga mengalami perubahan strategi.
Baca Juga: Paramount Petals Perkuat Kredibilitas, 4 Bukti Komitmen Pembangunan Kota Mandiri Berkelanjutan
Fokus tidak lagi hanya pada tingkat hunian, tetapi pada peningkatan pengalaman tamu dan profitabilitas.
Kawasan wisata seperti Bali dan destinasi utama lainnya masih menjadi penggerak utama sektor ini.
Green Building: Efisiensi Jadi Standar Baru
Di tengah kenaikan biaya energi, green building mulai menjadi faktor penting di berbagai sektor.
Menurut Colliers, jumlah gedung bersertifikasi green building terus meningkat, terutama di segmen perkantoran Grade A dan premium.
Bangunan dengan konsep ramah lingkungan dinilai mampu menekan biaya operasional dan meningkatkan daya saing.
“Tenant sekarang lebih selektif. Mereka melihat total biaya, bukan hanya harga sewa,” ungkap Zyotty Thamsil, Associate Director Colliers Indonesia.
Baca Juga: Pasar Properti 2026 Masuk Fase Transisi: Pasok Baru Turun hingga 80%, Pemulihan Mulai Terlihat
Investor institusional juga mulai mengadopsi teknologi efisiensi untuk menjaga profitabilitas, terutama di tengah kondisi okupansi yang masih menantang di beberapa sektor.
Properti 2026: Pasar Bergerak, Tapi Lebih Hati-hati

Secara umum, pasar properti 2026 tidak mengalami stagnasi, tetapi bergerak dengan pola yang berbeda.
Setiap sektor menunjukkan dinamika sendiri:
- Apartemen → tekanan stok tinggi
- Rumah tapak → relatif stabil
- Perkantoran → masih tenant market
- Logistik → paling kuat
- Ritel & hotel → berubah ke experience
Baca Juga: Hotel di Bali Ini Pangkas Emisi Setara Ribuan Pohon, Ini Strateginya
Di tengah kondisi global dan tekanan biaya, strategi efisiensi menjadi kunci utama.
Pasar tidak berhenti, hanya tidak lagi terburu-buru.
***
Untuk berita santai yang tak kalah seru, mampir juga ke: PropertiPlus.com





